Our Projects

Hi! Saat ini tu2t lagi punya project nulis fan fiction ama temen2. So buat yg pengen tahu udh berapa banyak, bisa lihat link di bawah ini, okay? Continue reading

Advertisements

Case of Nobunaga: Calm Before The Storm

​by: daddyzenpie

=====

Satu minggu berlalu semenjak hari dimana jantungku mulai berdetak tak kauruan karena melihat senyuman Oda sensei. Di malam pada hari itu terjadi, aku bahkan tidak bisa memejamkan mataku. Karena saat aku melakukannya, wajah Oda sensei lah yang tiba-tiba muncul. Wajahnya yang saat itu tersenyum begitu tulus dengan iris ruby miliknya yang berkilat diterpa sinar matahari senja langsung muncul setiap aku hendak tidur, membuat detakan jantungku kembali berdetak dengan begitu cepat dan membuatku terbangun kembali.

Semenjak itu, malamku menjadi tak setenang sebelumnya. Karena itulah, akhir-akhir ini, aku kembali nyaris harus berurusan dengan Uesugi sensei di depan gerbang sekolah. Aku bahkan bisa melihat Dewa Kematian sedang tersenyum jahat di belakang Uesugi sensei, yang turut tersenyum dengan tingkat keseraman yang sama, saat melihatku berlari tergesa-gesa kearah gerbang, 5 menit sebelum gerbang tertutup. Sepertinya Uesugi sensei merasa senang saat aku mulai menunjukkan tanda-tanda akan kembali lagi menjadi target operasinya.

Aku hanya bisa berharap dugaanku salah.

Mengenai Oda sensei, hubungan kami… yah, bagaimana ya… bisa dikatakan baik-baik saja. Ia tetap menyuruh-nyuruhku seperti babu dan memintaku melakukan atau mencarikan hal yang aneh-aneh. Hanya saja, akulah yang menjadi masalah disini. Aku tidak bisa lagi menatap matanya seperti biasa saat aku menentangnya. Jika aku melakukannya, detak jantungku akan berdetak begitu kencang dan aku bisa merasakan kedua pipiku memanas, membuatku secara otomatis mengalihkan pandangan atau memalingkan wajahku kearah lain. Anehnya, aku seolah senang saat Oda sensei menyuruh-nyuruhku. Aku bisa merasakan kedua sudut bibirku berkedut dan perlahan terangkat, yang mati-matian kutahan karena tidak ingin disangka creepy apalagi masokis.

Selain itu, aku juga akhir-akhir ini merasakan hal yang aneh saat aku melakukan kontak fisik dengan Oda sensei. Seperti saat kedua tangan kami tak sengaja bersentuhan saat aku memberikan lembaran jawaban kuis pada Oda sensei, atau saat tiba-tiba Oda sensei berjarak begitu dekat hingga melanggar personal space yang biassa dia lakukan padaku. Aku merasakan seperti ada sengatan listrik yang mengalir dan menyengatku, sehingga membuatku terlonjak kaget dan secara spontan menjauh darinya. Oda sensei tentunya bingung bertanya mengapa aku bereaksi seheboh itu, namun aku tak bisa menjawabnya. Karena akupun tak tahu mengapa aku melakukan hal itu.

“Haaaahhh…”

“Desahan nafas panjang ke 32 hingga siang ini, lebih banyak dari sebelumya.”

Aku menoleh kearah Ichinose yang sedang berjalan santai melewati beberapa siswa yang berlalu-lalang untuk mendekati mejaku. Senyuman yang seolah mengejek terukir jelas di bibirnya, membuatku menatapnya tajam dan mendengus kesal.

“Kau ini… aku sedang malas berdebat tahu. Pergilah.” ujarku sembari mengibaskan tanganku, memberinya isyarat untuk pergi.

Pria itu mendengus dan memutar bola matanya.

“Bodoh, aku ingin mengajakmu makan siang, karena sepertinya kau sedang lesu hingga lupa akan jam favoritmu.” Ia meletakkan tangannya di atas pundakku dan menepuk-nepuknya. “Selain itu, aku berjanji mau meneraktirmu. Ayo ke kantin.”

Aku mengerang sembari menatapnya. “Aku sedang mager…”

“Oh ayolah. Berhenti mendramatisir dan angkat bokongmu dari kursi. Aku akan mentraktirmu pudding.”

“Baiklah, tapi tunggu 5 menit lagi ya?” pintaku sembari memamerkan puppy eyes terampuhku.

Sambil memutar bola matanya, Ichinose mendudukkan dirinya diatas sebuah meja milik tetangga dudukku, Makoto Enjou, yang sebenarnya saat itu masih menggunakan meja tersebut untuk mencatat absensi kelas di akhir pelajaran ke 3, membuat buku absensi itu menjadi alas duduk Ichinose. Bisa kulihat, pria berkaca-mata tersebut hendak memaki karena pekerjaannya terganggu, namun saat sepertinya ia menyadari bahwa yang duduk disana adalah Ichinose Kou, mantan berandalan kelas 1 yang pernah menempati posisi sebagai ‘pentolan’ di Ikesen High yang akhirnya tobat, ia kembali menutup mulutnya dan menunduk, seolah pasrah dengan keadaannya.

Pria kecil yang malang… eh tapi kalau kulihat-lihat lagi, Enjou cocok menjadi uke—FOKUS SARASA!! FOKUS!!

“Hey, Sarasa! Kau dengar tidak?!”

“Eh… huh??”

Ichinose sepertinya menyadari bahwa aku tak mendengarkannya yang sedang berbicara karena sedang memperhatikan Enjou, hingga iris kelabu miliknya pun turut memperhatikan pemilik meja yang didudukinya, yang sedang menunduk tak bergeming. Ichinose mendecih, kemudian ia menarik dasi Endou kearahnya, hingga mereka saling berdekatan dengan jarak wajah yang cukup, ehm, kontroversial. Buru-buru aku segera mengaktifkan kamera ponselku dan diam-diam mulai mengabadikan pemandangan indah yang tersaji dihadapanku, sebelum aku harus melerainya.

“Hei, apa kau lihat-lihat Sarasa, huh?! Kau ingin matamu kucongkel??” serunya dengan nada rendah dan mengancam.

“Ti-tidak… a-aku tidak…”

“Jawab yang benar, breng—”

“KYAAAAAAA!?”

Spontan, kami bertiga, beserta beberapa siswa yang sedang memakan makan siang mereka di kelas, langsung menoleh kearah pintu kelas, dimana seorang anak perempuan sedang menatap Ichinose dan Enjou dengan tatapan yang berbinar dan dengan wajah yang memerah. Menyadari teriakannya yang mengejutkan seisi kelas, gadis itu, Yuuki Shiro, buru-buru membungkuk meminta maaf kepada mereka sembari terkekeh hambar, sebelum akhirnya ia berlari kecil ke mejaku.

“Yuuki?”

“Kirimkan padaku nanti.” bisiknya sambil mengerling kearah Enjou dan Ichinose yang masih bertahan dengan posisi mereka, meskipun perhatian mereka telah teralih kearah diriku dan Yuuki. Aku hanya memasang wajah malas sebagai jawaban.

Ichinose melepaskan genggamannya pada dasi Endou. sembari menatap tajam pada Yuuki, yang berusaha keras untuk mengacuhkan tatapan tersebut.

“Shiro, mau apa kau dengan Sarasa?” tanya Ichinose ketus, membuat Yuuki sedikit terlonjak kaget.

“Ichi-kun!!”

“Diam, Sarasa. Hari ini kau akan menghabiskan waktu denganku, jadi tak ada yang boleh menghalangiku!” Iris kelabu bagaikan badai kini kembali tertuju pada Yuuki. “Jawab aku, Shiro.”

“E-eh… tapi… Matsumoto senpai… memintaku untuk memanggil Sarasa…” jawabnya sembari melirik kearahku.

“Ma-Matsumoto? Maksudmu Matsumoto Kei?” tanya Ichinose dengan nada suara yang berbeda 180 derajat dari sebelumnya. Nada berbicara penuh rasa sopan santun seketika keluar dari mulutnya yang biasa berucap kata vulgar.

Saat Yuuki mengangguk membenarkan, bisa kulihat Ichinose menepuk keningnya dan menggebrak meja Enjou, yang seketika terlonjak kaget.

“UGH!! TERSERAHLAH!!”

Pria bersurai hitam panjang itu kemudian nampak cemberut lalu berjalan meninggalkan kelas dengan langkah menghentak. Khawatir dengan mood Ichinose yang sepertinya buruk, aku buru-buru mengejarnya, setelah mengambil sebuah kantung cokelat yang kubawa ke sekolah. Aku berjanji pada Yuuki bahwa aku akan pergi ke tempat biasa kami menikmati makan siang setelah aku menyelesaikan masalahku dengan Ichinose.

Berteman dengannya hampir 1 tahun membuatku tahu persis pola pikirnya. Saat sedang kesal, biasanya Ichinose akan langsung berkata kasar sembari melayangkan tinju dan tendangan pada sesuatu ataupun siapapun yang mengganggu dirinya. Namun kebiasaan itu telah berubah saat aku dan dia mulai berteman dekat. Kini saat ia kesal, ia akan menahan diri untuk berbicara ataupun melayangkan kaki maupun tangannya, dan memilih untuk mencari tempat menenangkan diri atau memejamkan mata.

Sebelum atap sekolah, biasanya dulu ia akan pergi ke UKS untuk menenangkan dirinya sembari sekalian tidur. Namun semenjak Takeda sensei menjadi dokter UKS, ia tidak lagi pergi kesana. Ia berkata bahwa ia tak ingin berbaring ataupun mengetahui apa saja yang sudah terjadi di ranjang ruang UKS. Aku yang tak mengerti tentu saja bertanya maksudnya apa. Namun alih-alih menjawab, ia hanya menatapku dengan penuh rasa iba sembari menepuk-nepuk kepalaku. Ditambah lagi ucapan bahwa aku masih terlalu polos ataupun aku belum cukup umur, membuatku semakin bingung sekaligus penasaran. Mungkin lain kali aku harus bertanya pada Takeda sensei.

CKLEK

“Sudah kuduga, kau disini, Ichi-kun.”

Ichinose yang sedang berdiri menyender pada pagar atap sekolah hanya melirikku sekilas, sebelum mendecak dan kembali menatap hamparan langit biru di atas kami. Tanpa ragu, aku segera berjalan menuju pagar dan duduk di sebelahnya sembari menyenderkan punggungku ke pagar. Kami tidak berbicara untuk beberapa menit, sebelum akhirnya aku yang membuka suara terlebih dahulu dan langsung bertanya pada inti permasalahannya.

“Kau marah padaku?”

Ichinose tak menjawab. Ia masih memandang kearah langit tak bergeming.

“Kau marah pada Yuuki?”

Masih tak menjawab, namun aku bisa melihat bahwa keningnya sedikit berkerut saat aku menanyakannya.

“Marah pada Matsumoto senpai??”

“Tsk.” wow, decakan! Kemajuan yang besar sekali.

“Bagaimana keadaan Ibumu?”

Bisa kulihat ia tampak sedikit terkejut dengan pertanyaanku. Bisa kulihat wajahya yang tadi nampak berkerut, kini terlihat sedikit lebih rileks.

“Baik.” jawabnya singkat, namun masih tak menatapku. Well, setidaknya ada kemajuan dari tidak menjawabku, menjadi menjawab. Nah, sekarang! Jurus pamungkas!!

“Ichi-kun, ayo duduk. Aku membawakan muffin blueberry buatan Ibuku lho!! Ayo duduk dan makan bersama!!” ujarku sembari mengayun-ayunkan kantung kertas cokelat yang kubawa semenjak tadi dan menepuk-nepuk tempat di sebelahku.

Ichinose kembali berdecak dan menatapku dengan tatapan jengah. “Kau ini, kau tahu aku sendang marah kan?”

Aku mengangguk sembari tersenyum, namun wajahnya tak mengalami perubahan.

“Dan kau sungguh-sungguh berfikir aku akan duduk di sebelahmu dan memaafkanmu hanya karena kau mau membagi muffin itu denganku?”

Aku mengangguk kembali sembari menepuk-nepuk tempat di sebelahku, memberi isyarat padanya untuk duduk. Melihat hal itu, Ichinose tampak begitu kesal sembari mengacak-ngacak surai hitamnya, seolah frustasi menghadapiku.

“Kau ini ya…” ujarnya sembari memijit keningnya. Ia tak melanjutkan kata-katanya dan hanya mendesah panjang, sebelum akhirnya ia duduk di sebelahku dan menatapku degan tatapan datar. “Kau benar, cepat berikan padaku.”

Aku segera membuka bungkusan kertas tersebut dan memberikan sebuah muffin padanya disertai cengiran yang mengisyaratkan ‘Sudah kubilang, kan?’. Ichinose yang sepertinya menyadari maksud yang tersirat tersebut, hanya memutar bola matanya malas sembari menggigit muffin yang sudah berada di tangannya.

“Jadi, sungguh, bagaimana keadaan Bibi??”

“Sudah kukatakan, Ibuku baik-baik saja.”

“Kau tidak berbohong kan? Kau tahu kalau kau bisa bergantung kepadaku dan keluargaku jika terjadi sesuatu.”

Ichinose mengunyah dengan cepat kemudian menelannya, “Ibu baik-baik saja, sungguh. Keadaannya terus membaik semenjak operasi selesai dilakukan. Lagipula, kalian sudah membantu banyak, dan aku masih berhutang budi dengan kalian.”

Aku buru-buru mengibaskan kedua tanganku dengan cepat. “Ah tolong jangan dipikirkan! Ibuku kan sudah bilang kalau kau tak perlu membayarnya. Aku dan keluargaku senang bisa membantu.”

“Ya, aku tahu.” Iris kelabu Ichinose kemudian menatap milikku lekat-lekat, membuatku balas menatapnya dengan segudang pertanyaan terlintas di benakku.

Seketika keheiningan meliputi kami berdua, yang masih saling menatap. Aku bisa melihat pada mata Ichinose, terdapat determinasi dan keyakinan yang kuat, seolah ia sedang mengucapkan sumpah dalam dirinya. Aku hendak membuka suaraku untuk memecah keheningan, ketika tiba-tiba angin berhembus dengan begitu kencang dari arah samping, membuat rambutku yang pendek menutupi wajahku.

“Owwww!!”

“Sarasa?” Ichinose kemudian menggenggam kedua tanganku yang menutupi wajahku dan menariknya. “Hey, kau baik-baik saja?”

Aku memejamkan mataku rapat-rapat, tak tahan dengan sensasi menyengat dan membakar yang terasa pada mata kiriku.

“Tidak! Kurasa mataku kemasukan sesuatu!! Perih sekali!!!” aku hendak menarik tanganku dan menggunakannya untuk mengusapnya, namun Ichinose menahan kedua tanganku sembari berdecak.

“Ah!! Tenanglah!! Jangan bergerak!! Biar kulihat…”

.

.

.

Matsumoto Kei tidak bisa lagi bersabar menunggu saat ia tak kunjung menemukan salah satu adik kelasnya yang berjanji untuk makan siang dengannya berada di tempat yang dijanjikan. Setelah 10 menit menunggu, ia memutuskan untuk mencari sendiri gadis itu dan menyeretnya ke tempat biasa mereka makan siang, ntah Ichinose suka atau tidak. Kalaupun mantan pentolan berandalan Ikesen High itu melawan, ia tinggal memberikan pukulan atau melapor pada Uesugi sensei, semuanya akan beres.

Kei kini sedang menyusuri lorong lantai 1 dan melongok pada setiap kelas dan ruangan yang dilewatinya, berusaha menemukan satu sosok yang menjadi incarannya. Kadang ia juga menanyakan pada beberapa anggota klub Teater, maupun anak kelas 2-3 yang kebetulan ia tahu. Namun beberapa menjawab tidak tahu, dan sebagian mengatakan bahwa ia belum melihat gadis itu hari ini.

Biasanya gadis itu akan ditemukan di kantin, berdiri di depan counter makanan sembari berfikir keras untuk memilih makanan yang akan di belinya, membuat antrian memanjang bagaikan ular disertai seruan yang menyuruh untuk cepat memilih berkumandang disana. Namun, melihat bahwa antrian tampak begitu normal dan tenang saat ia berkunjung, membuat Kei yakin kalau Sarasa belum sempat datang kesana.

Kei memutar otaknya kembali. Mencari-cari dalam ingatannya dimana kira-kira Sarasa atau Ichinose sering kunjungi di lingkungan sekolah ini. Cukup lama ia berfikir sembari menaiki tangga menuju lantai 2, hingga akhirnya ia menemukan sosok yang sangat familiar sedang berjalan menyusuri lorong tersebut. Merasa pria bersurai hitam itu mungkin memiliki jawaban mengenai keberadaan Sarasa, Kei buru-buru menghampirinya.

“Oda sensei!!”

Langkah pria itu kemudian terhenti. Gadis itu bisa mendengar pria itu menarik nafas panjang, sebelum akhirnya ia menatap siswi kelas 3 itu dengan tatapan yang seolah mengatakan bahwa ia SANGAT tidak ingin bertemu dengannya.

“Matsumoto.”

“Uwahh, wajah sensei mengatakan seolah tak ingin melihatku.”

Nobunaga menaikkan kedua bahunya. “Itulah kenyataannya.”

“Tidak sopan!” seru gadis itu sembari mengembungkan kedua pipinya dan melipat kedua tangannya di dada, yang hanya dibalas dengan tatapan jengah oleh pria dihadapannya. “Oh, wow! Benar kata orang-orang. Warna mata asli anda terlihat begitu keren seperti vampire.”

“Kalau kau hanya menghentikanku untuk memuji warna mataku, sebaiknya aku pergi saja.”

“Eh!! Tunggu!!! Aku bukan memanggil sensei hanya untuk memuji warna mata sensei.” Kei buru-buru berdiri dihadapan Nobunaga, menghalangi sang guru matematika itu melanjutkan perjalanan. “Aku hanya ingin bertanya apa sensei melihat Sarasa hari ini?”

Pria bersurai hitam seperti malam itu tampak berfikir sejenak, sebelum akhirnya kepalanya menggeleng pelan. “Tidak. Hari ini aku belum melihat gadis itu.”

“Hmm… begitukah… haaahhh…”

“Apa terjadi sesuatu?”

Kei buru-buru mengibaskan kedua tangannya saat wajah Nobunaga mulai terlihat sedikit menyeramkan. “Ah tidak-tidak. Aku hanya sedang mencarinya karena dia tadi ijin untuk pergi bersama Ichinose kun. Tapi—”

“Ichinose kun?” tanya Nobunaga dengan nada yang begitu rendah, membuat Kei sedikit merasa terintimidasi karena ia sempat melihat iris Ruby milik Nobunaga nampak sedikit meredup.

“Err… yah… Ichinose kun itu teman sekelas yang sering bersama dengan Sarasa… anda tak tahu?”

Nobunaga hanya memasang wajah datar sembari menggeleng, membuat Kei menatap pria itu dengan bingung.

“Lalu, ada hubungan apa antara mereka berdua?”

Kei nampak berfikir sejenak, memilih kata-kata yang tepat untuk menjelaskan dengan hati-hati hubungan kedua kouhai nya tersebut. Meski ia memang hobi mengerjai Sarasa dan menguji ke-airhead-an gadis itu, namun kalau lawannya adalah Nobunaga, gadis polos itu bisa dalam bahaya. Selain itu, meski ia agak kurang menyukai Ichinose yang sok jagoan dulu, ia tetap saja tidak ingin ada headline Koran pagi besok berisi berita tentang pria itu mengambang di sungai.

“Kalau menurut saya sih… menurut saya loh ya, mereka lebih menyerupai ‘Hewan Liar dan Pawangnya’? Soalnya, saat kelas 1, Sarasa bertugas menjadi pengawas untuk Ichinose kun yang hobi membuat onar. Mungkin karena itu mereka BERSAHABAT.” jawab Kei sembari menekankan kata paling akhir, berharap tidak ada kesalah pahaman setelah penjelasan itu.

“Hmm… begitu ya…” Nobunaga mengangguk paham setelah menimang-nimang sekian lama. Ia kemudian menepuk kepala Kei dengan buku absen yang semenjak tadi dipegangnya dan mendengus. “Kalau begitu cari Sarasa dan suruh dia makan siang. Aku mau kembali ke ruanganku.”

“Ugghh iya iya!! Aku mengerti!! Kalau begitu—huh?” Kei menghentikan kata-katanya saat melalui jendela, ia bisa melihat sepasang pria dan wanita yang sangat dikenalinya sedang duduk bersebelahan di atap sekolah.

“Matsumoto?”

“Oda sensei!! Itu Sarasa!! Dia ada di atap!!” seru Kei sembari menunjuk-nunjuk kearah jendela, membuat Nobunaga akhirnya ikut memperhatikan gadis yang begitu familiar baginya, yang sedang menyender di pagar atap, memunggunginya.

Kei yang merasa sudah lapar dan malas untuk pergi ke atap, buru-buru membuka jendela dan hendak akan berteriak memanggil gadis itu. Namun baru saja ia hendak menyerukan namanya, tiba-tiba ia melihat Ichinose tampak menahan kedua tangan kouhainya tersebut, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Sarasa sehingga terlihat begitu dekat, hingga mungkin menempel.

Seketika nafas Kei tercekat melihat adegan yang tersaji di hadapannya. Keterkejutannya kemudian perlahan berubah menjadi ketakutan saat ia mendengar suara map yang diremukkan dari arah belakangnya, membuatnya menyadari bahwa ada orang selain dirinya yang turut menyaksikan pemandangan yang mungkin bagi orang itu, sangat tidak mengenakkan. 

Mendapat insting untuk melindungi kedua kouhainya, Kei memutuskan untuk mengumpulkan nyali dan mencoba menjelaskan pemandangan yang ada disana. Selesai memberanikan diri untuk mengecek keadaan pria yang ada di belakangnya, gadis itu perlahan menoleh kearah dimana ia tahu bahwa Nobunaga berada, turut menyaksikan adegan tersebut. 

“Eh… uhm… Oda sense–”  

Dan sungguh, Kei tidak pernah menyesali keputusannya untuk menoleh lebih dari itu saat melihat kilatan berbahaya pada iris Ruby milik pria itu, yang kini lebih menyerupai iris iblis yang sedang murka ketimbang batu berlian yang indah seperti yang dikatakan Sarasa sebelumnya. Kedua iris tersebut hanya tertuju pada dua sosok diatas sana. Kedua tangan pria itu mengepal dengan begitu erat, hingga membuat buku absen yang ada di tangannya tampak menggkerut bengkok.

Tak kuat melihat pemandangan itu, tatapan Kei kemudian beralih kembali pada Ichinose, yang kini sedang tersenyum dengan polosnya dengan Sarasa di sana, tanpa menyadari bahwa hidupnya kini sedang menjadi incaran kemurkaan sang Iblis yang baru saja bangkit dari tidur panjangnya.

Kei kemudian mengatupkan kedua tangannya sembari berbicara dalam hati.

“My Deepest Condolence, Ichi kun, dan yang paling penting, Sarasa.”

.

.

.

“Ichi-kun, terima kasih sudah mengeluarkannya dari mataku.” ucapku sembari menyeka air mata yang keluar akibat rasa perih yang masih tersisa.

“Tak masalah. Memang akhir-akhir ini angin berhembus dengan cukup kencang di atap, jadi kau harus hati ha—HATCHIM”

“Ichi kun?”

Ichinose menggosok-gosok hidungnya yang sepertinya sedang gatal. “Ah, tiba-tiba saja aku ingin bersin. Aneh, padahal aku tidak flu.” Ia kemudian memeluk dirinya sendiri dan menggosok-gosok lengannya. “Aku juga tiba-tiba merasa tidak enak dan dingin… kenapa ya…”

“Mungkin karena anginnya kencang sekali disini. Sebaiknya kita masuk lagi, yuk. Kau ikut saja denganku untuk pergi makan siang dengan Matsumoto senpai dan Yuuki. Daripada disini…” tawarku sembari beranjak dari tempatku duduk dan menarik tangan Ichinose agar ia berdiri.

Ichinose tampak berfikir sejenak apakah ia bisa bertahan dengan keberadaan Matsumoto Kei yang mungkin akan mengganggunya nanti, sebelum akhirnya ia mengangguk setuju. Ia kemudian meraih tanganku dan menarikku menuju pintu atap sekolah dan pergi makan siang bersama Matsumoto senpai dan Yuuki.

.

.

.

From : Titisan Raja Neraka

‘Datang jam 5 sore nanti. Penting.’

.

.

TBC

Case of Masamune: Troublesome Little Shogetsu

By PrincessPhoe

=============

Aku baru selesai mengajar di Ikesen High. Para siswa 10-1 sedang menyelesaikan tugas piket mereka. Selama pelajaran aku selalu mencari Phoe di antara para siswa. Aku merasa ada yang kurang di hatiku saat menyadari dia tidak ada. Tapi beberapa saat kemudian aku baru teringat kalau saat ini ia sedang ada dirumahku. Aku baru bisa kembali tersenyum. Aku jadi ingin menelpon Yojiro untuk menanyakan kabarnya.

“Halo, ada yang bisa saya bantu, Tuan?” Yojiro menyapa di ujung saluran ponsel. 

“Sedang apa Phoe sekarang?” tanyaku singkat.

“Aah… itu.” aku yakin Yojiro sekarang sedang memutar bola matanya hahahaha. “Ia… sedang bersembunyi di belakang punggungku, Tuan,”

“Hah, memangnya apa yang terjadi?” tanyaku sambil tertawa. Aku percaya tidak akan ada ada yang serius kalau Phoe bersama Yojiro.

“Nona Phoe… tadi sedang berkenalan dengan Shogetsu. Dan sepertinya Shogetsu terlalu antusias dengannya.”

Seketika aku bisa membayangkan apa yang sedang terjadi di rumahku dan tertawa. Shogetsu pasti sangat menyukai Phoe. Aku penasaran apa yang Shogetsu lakukan padanya sampai Phoe ketakutan begitu. Ya ampun,aku jadi semakin ingin menemuinya. Tapi sayangnya aku masih harus menjalani serentetan agenda sampai sore hari nanti. Aku menghela napas. Aku harus bersabar.

==========

Pukul 7 malam aku baru saja selesai dengan semua urusanku. Aku tidak menduga kalau jadwalku akan terlambat selama dua jam. Phoe pasti sudah menungguku di rumah. Aku sangat ingin bertemu dengannya. Aku sangat ingin melanjutkan pembicaraan kami tadi pagi. Walaupun itu tidak bisa disebut sebagai pembicaraan, sih. Hahaha.

Oh, iya. Tadi siang di sela-sela jadwalku aku meminta Yojiro untuk membelikan baju untuk Phoe. Ia mengirimkanku model baju yang ia beli tadi siang lewat toko online. Sebuah mini dress berwarna biru muda dengan kerah model sabrina dan loose top. Dipermanis dengan bordir motif bunga di bagian tepi bawah roknya. 

Aku langsung menyetujuinya saat ia menanyakan pendapatku. Phoe pasti akan terlihat sangat menggemaskan saat mengenakannya. Aku tidak sabar ingin melihatnya menyambutku di rumah dengan pakaian itu. Bagaimana responnya saat aku memberikannya buket bunga yang baru aku beli. Aku harap ia tersenyum lepas kepadaku seperti dulu dan meluluhkan rasa lelahku.

Apakah seperti ini rasanya ketika seorang suami yang merindukan istrinya di rumah saat mereka pulang kerja? 

Tidak lama kemudian aku sampai di rumah. Senyum terkembang di wajahku saat aku mengambil buket bunga lili warna merah muda dari jok samping. Aku akan memberikannya kepada Phoe. Kupegang gagangnya erat-erat. Aku tidak bisa menahan senyumanku. Aku terus tersenyum hingga Yojiro dan Shogetsu menemuiku di ruang tamu. Aku jongkok dan menyapa anak macanku yang sudah beberapa bulan kupelihara. Aku menggaruk-garuk dagu Shogetsu dan ia mendengkur pertanda menikmatinya. 

“Di mana Phoe?” tanyaku sambil menggendong Shogetsu.

“Ia… ada di kamar, Tuan.” Jawab Yojiro ragu-ragu. aku segera berjalan cepat menuju kamarku. Saat aku melangkahkan kakiku aku mendengar Yojiro memperingatkanku, tapi tidak kupedulikan. Aku sudah tidak sabar ingin melihat gadisku. 

Kubuka pintu kamarku. Aku melihat seorang gadis kecil bergaun biru muda dan rambut kecoklatan yang diikat ekor kuda di sebelah kiri. Phoe sedang duduk bersimpuh memunggungiku. Ia sedang melipat pakaiannya dan memasukkannya ke dalam tas. Rambutnya yang diikat ke samping menampakkan pemandangan leher belakangnya yang mulus dan sangat menggoda. Saat menyadari kehadiranku, Phoe menengok dan menyambutku dengan senyum manisnya dari balik pundaknya. “Selamat datang kembali, Sensei!”

Mataku membulat, dan seketika hatiku terasa seperti dihujani anak panah dari berbagai arah. Jantungku berdegup sangat kencang sampai-sampai suaranya menggema di otakku. Darahku berdesir bersama dengan hormonku yang merajalela ke seluruh tubuhku yang memanas. Dia… cantik sekali. Senyumnya tampak begitu mempesona. Matanya berbinar-binar saat melihatku. Wajahnya yang bersemu kemerahan membuatnya nampak jauh lebih bersinar daripada biasanya. 

Aku menelan ludah dan mengepalkan tanganku kuat-kuat untuk menahan hasrat untuk menyergap dan memeluknya erat-erat.

Shogetsu melompat dan melepaskan dirinya dari gendonganku, lalu berlari menyergap Phoe. Namun Phoe belum siap menerima sergapan Shogetsu sehingga ia terjatuh ke arah belakang. 

“Phoe!” seruku sambil berlari untuk menangkap punggungnya. Namun terlambat, ia sudah terjerembab di lantai. Pada momen saat ia sedikit terguncang di lantai, aku sempat melihat dadanya menyembul dari kerah sabrina pada gaun yang ia kenakan, seakan-akan hampir tumpah. Aku tahu ia tidak sengaja melakukannya, tetapi yang tadi itu… benar-benar seperti membangunkan insting dasar terakhirku sebagai laki-laki.

“Aah…Ahahahahaha Shogetsu, hentikan. Geli tahu! Aah~”

Aku pernah mendengar seperti suara itu. Terdengar seperti saat aku mencumbu pacarku dulu. Oh, tidak. ‘Insting’-meterku semakin naik dan naik. Begitu pula dengan shogetsu kecil di dalam celanaku. Tidak. Jangan, Masamune. Ia masih terlalu belia untuk menerima semua ini. Kukatupkan bibirku dan kukepalkan kedua tanganku semakin erat. Kuharap Phoe tidak menyadarinya. Mungkin aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Aku harus segera keluar dari sini.

Akhirnya Phoe bisa mengangkat Shogetsu yang dari tadi menjilati pundaknya yang sedikit terekspos. Aku sedikit cemburu pada anak macan piaraanku itu. Aku saja belum berhasil mencium pipinya tadi pagi. Phoe segera duduk dan merapikan pakaiannya. Namun Shogetsu kembali menggodanya sehingga Phoe kewalahan. 

Aku tahu seharusnya aku membantu Phoe, tetapi pemandangan ini juga membuatku kewalahan. Aku tidak bisa lagi menahannya. Ini berbahaya, aku harus segera menjauhinya atau aku akan kehilangan kendali.

“Ah, anu, Sensei, maafkan saya…”

‘Cukup!’ pikirku. Aku memutuskan untuk segera meninggalkannya. Dengan menahan nafsu yang berkecamuk di dada aku berjalan keluar kamarku dan menutup pintu. Aku mencari kulkas di pojok dapur, kubuka pintu atasnya, dan kumasukkan kepalaku ke dalam pendingin untuk menenangkan pikiranku. 

Baik, Masamune, tarik napas, tahan, keluarkan. 

Di tengah usahaku untuk meredakan amukan Shogetsu kecil ini, Yojiro menemuiku sambil marah-marah. “Tuan, apa yang anda pikirkan?!”

“Memangnya apa yang terjadi?” tanyaku tanpa mengeluarkan kepalaku dari kulkas. Kurasa suaraku sudah cukup jelas untuk didengar oleh Yojiro. 

Yojiro menghela napas. “Tuan, apa yang anda pikir anda lakukan?”

“Apa yang kupikir kulakukan?” Kukeluarkan kepalaku untuk dapat berkomunikasi dengan lebih jelas. “Aku melakukan apa yang seharusnya. Sebagai seorang pria normal aku harus menjauhinya. Kau tahu kan, dia masih sangat muda untuk menerima perlakuan seorang ‘pria normal’.” Kataku sambil membuat tanda kutip dengan kedua tanganku.

“Tapi anda tidak harus membanting pintu, kan. Lihat, Nona Phoe jadi sedih dan bingung. Ia pikir kau tidak menyukai baju yang ia kenakan. Padahal sejak tadi siang ia sudah merasa insecure karenanya.”

“Insecure? Apa maksudmu? Menurutku bajunya bagus kok.”

“Sejak tadi siang ia resah memikirkan bagaimana ia harus mengganti uang untuk membeli pakaian itu. Kemudian ia juga merasa tidak percaya diri saat memakainya. Ia takut kau tidak menyukainya, jadi aku harus meyakinkannya agar ia mau memakainya. Bahkan saat kau terlambat pulang, ia selalu bertanya padaku apakah kau baik-baik saja, tapi ia juga merasa tidak siap bertemu denganmu. Kau tahu kan, perasaan seorang perempuan itu sangat kompleks.”

Aku tertegun mendengarnya. Sedalam itukah perasaannya padaku? 

Ya ampun, apa yang telah kulakukan padanya? Aku pasti menghancurkan kepercayaan dirinya.

“Aneh sekali Masamune, kau dulu kan sering bergonta-ganti pacar yang cantik tiap pindah negara. Kenapa kau tiba-tiba menjadi lemah seperti ini?” Mode asisten pribadi Yojiro seketika berganti dengan mode teman masa kecil.

“Bukan begitu, aku memang pernah punya pengalaman dengan perempuan, tapi hanya punya pacar dulu saat di Prancis dan Venezuela.” Aku mengusap ubun-ubunku dan menghela napas. “Aku tidak tahu Yojiro, aku tidak berpikir kalau Phoe yang masih begitu murni bisa terlihat seksi dengan pakaian dengan model simpel seperti itu. Dia benar-benar melebihi apa yang kupikirkan.” 

Pandanganku kembali kepada Yojiro dan tiba-tiba sebuah pertanyaan melintas di pikiranku. 

“Hei, tunggu sebentar,” Kuamati tubuh Yojiro dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak ada tanda-tanda kejantanan yang menyembul atau pertanda mencolok lainnya, hanya saja ia terlihat sedikit pucat. Mungkin ia kelelahan karena sudah terjaga selama sehari semalam untuk menjaga Phoe. Tapi tetap saja… aneh. “Katakan padaku. Bagaimana kau bisa tahan melihat Phoe seperti itu selama seharian, Yojiro?” tanyaku penuh rasa curiga.

Ia tertawa. “Kau pikir siapa lagi yang menghabiskan tisu di dalam kotak itu? hahaha…” 

Aku mengecek kotak tisu di dekatku. Dan benar saja, isinya sudah tidak ada. Jadi selama ini Yojiro… 

Aku menggeram sebal. Dengan cepat kulemparkan kotak tisu itu ke arah Yojiro. Namun dengan tangkas ia menangkapnya sambil tertawa. Huh, tidak bisakah kau sedikit berbaik hati padaku? Biarkanlah aku memukul wajahmu dari jarak jauh.

Kemudian aku mendengar suara pintu tertutup. Walaupun pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya. Itu Phoe. Rupanya ia sudah berganti pakaian, kembali mengenakan kemeja putihnya dan blazer coklat lamanya. Ia membungkuk dalam-dalam “S-S-Sensei, saya benar-benar mohon maaf atas kejadian tadi….” 

Oh, tidak. Lagi-lagi sikapku yang impulsif membuatnya ketakutan. Aku harus segera memperbaiki keadaan ini. Aku berjalan cepat ke arah Phoe dan berlutut dihadapannya. Aku mengambil kedua tangan mungilnya dan menatap matanya. Perasaan bersalah menyeruak dari kalbuku. “Tidak…. tidak Phoe, ini salahku. kau tidak salah, jadi kau tidak perlu meminta maaf,” ucapku dengan nada memelas. Kuharap tidak ada lagi salah paham di antara kami tanpa harus kujelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Yojiro menepuk pundakku dan pamit undur diri. Aku mengangguk. 

Phoe masih membungkuk. Ia tidak menunjukkan perubahan apapun setelah mendengar permintaan maafku. Ku pegang pundaknya dan ku tegakkan badannya. Ia menatap mataku dengan pandangan yang berkaca-kaca, lalu menelan ludahnya. “Sensei tidak mau memaafkan saya?”

Urgh! Hatiku pilu mendengarnya. Kumohon jangan berkata seperti itu Phoe. Kutatap matanya lekat-lekat. Sekarang aku benar-benar paham maksud perkataan Yojiro.

“Bukan begitu Phoe, Aku hanya… terkejut. Aku tidak menyangka kau… terlihat begitu cantik mengenakan pakaian itu. Maafkan atas sikapku barusan.” aku berusaha berkata jujur walaupun aku juga menutupi fakta bahwa aku ter… ah sudahlah..

“Lalu Sensei marah karena apa?”

“Aku tidak marah padamu, Phoe.”

“Lalu kenapa Sensei membanting pintu? Kalau ada yang salah padaku katakan saja Sensei!!!” Phoe mengatakannya dengan nada yang agak keras. Kemudian kami terdiam. Sedetik kemudian ia terkejut dan menutup mulutnya. “Ma-maafkan saya, Sensei. Sa-saya… saya t-t-tidak bermaksud b-be-bersikap kasar. Sungguh. S-Sa-saya benar-benar… uh… ” 

Ia tergagap dan kelihatan bingung. Perbedaan sikapku antara tadi pagi dengan malam ini mungkin yang membuatnya sangat kebingungan. Sepertinya ia tidak sanggup lagi menahan air matanya. Ugh! I’m such a jerk!

Tanpa menunggu lama aku segera memeluknya. Kutepuk pelan punggungnya untuk menenangkannya. Lalu kusandarkan kepalanya ke pundakku. Kubelai rambutnya. Aroma stroberi dari rambutnya tercium samar-samar. “Phoe, Aku mengatakan yang sesungguhnya. Kau terlihat cantik sampai aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku juga senang melihatmu memakainya. Sangat senang. Namun…. ada beberapa hal yang belum bisa kujelaskan padamu sekarang. Aku harap kau mengerti,” Kataku pelan. Kumohon jangan buat aku mengatakan semuanya, Phoe.

Phoe mengangguk di pundakku. “Baiklah, Sensei.” 

Kupegangi kedua pipinya, lalu kuusap sisa air mata dari pipinya. Ia menunduk malu-malu dan tidak berani menatap mataku. Ya ampun aku ingin sekali mengigit pipinya yang kemerahan itu.

“Sensei…”

“Ya, Phoe?”

“Saya… saya mau pulang sekarang.”

Ah, dia benar. Aku sudah berjanji padanya. Tapi aku masih ingin bersamanya. “Kau sudah makan?” tanyaku mencoba mengulur waktu. 

“Sudah, Sensei….” Jawabannya terdengar menggantung. Lalu terdengar suara perut Phoe yang keroncongan. “… tadi siang,” lanjutnya pelan.

“Phoe…” aku tersenyum nakal. Gadis ini sudah mulai main-main denganku rupanya. Sepertinya mood-nya sudah membaik. “Kau ingin makan apa? Biar kubuatkan.”

Ia menggeleng, “Saya bisa makan di rumah kok, Sensei, tidak perlu repot-repot.”

UGH! Kenapa?! Kenapa penolakan yang sepele seperti ini selalu membuat hatiku hancur berkeping-keping? Apa karena ini Phoe yang menolakku? Aku juga tidak pernah merasa seperti ini kepada orang lain. Biasanya tidak berarti tidak. Tapi aku tidak bisa demikian dengan Phoe. Aku hanya ingin bisa bersamanya lebih lama. 

“Tidak tidak. Kau kan tamuku. Lagipula aku ingin memperbaiki kesalahanku padamu. Jadi katakan padaku kau mau makan apa?”

Ia berpikir sejenak, lalu ia mengangkat wajahnya. Matanya yang sembap menatapku dengan yakin. “Saya ingin makan masakan kita bersama, Sensei.” 

Dan sekali lagi hatiku serasa dipanah dari berbagai penjuru arah. Wajahku kembali terasa panas. Tidak, Masamune, kali ini kau harus bisa menahannya demi Phoe. 

“Ah, maksud saya… saya ingin membantu Sensei, supaya Sensei tidak kerepotan memasak. Jadi…” ia menjawab dengan panik, lalu kehilangan kata-kata. Aku paham apa maksudnya, tapi pemilihan kata-katanya sungguh berbahaya. Dari mana ia mempelajarinya? Ataukah kepolosannya yang membuatnya bisa berkata demikian? Hanya Phoe yang bisa membuat perasaanku naik-turun seperti roller coaster. 

Aku tertawa kecil, lalu berdiri dan mengusap kepalanya. “Kalau begitu ayo. Kita masak bersama.” Kuulurkan tanganku dan ia menjawabnya dengan ragu-ragu. ku raih tangannya dan kugenggam dengan lembut, lalu kami berjalan bersama menuju meja. 

Aku berencana membuat masakan terbaikku dengan bahan yang kupunya. Seingatku hari ini jadwal Yojiro berbelanja. Kubuka pintu kulkas bagian bawah. Yang kulihat hanyalah beberapa lembar bacon, dua butir kentang dan bawang bombay, serta bahan-bahan lain yang tinggal sedikit. Kemudian aku menerima pesan singkat dari Yojiro.

‘Masamune, aku lupa berbelanja hari ini. Besok pergilah berbelanja dengan Phoe. Hahahahahahahaha’

Yojiro, lemparan kotak tisu hari ini akan ku-upgrade dengan kulkas besok pagi!

Masamune Date 9 – Troublesome Little Shogetsu END 

Case Of Nobunaga: Behind the Eye

cerita sebelumnya: part 1 | part 2 | part 3
pairing: MC x Nobunaga Oda
by: daddyzenpie

=====

Saat aku membuka mataku, aku menemukan diriku sedang berdiri di hadapan sebuah sungai yang begitu familiar. Langit nampak begitu biru, dan matahari bersinar dengan terik. Sesekali aku bisa mendengar suara angin berhembus dan juga gesekan dedaunan yang berwarna kecoklatan, membuat suasana hatiku diliputi ketenangan.

Aku menatap tangan kananku saat aku merasakan sesuatu berada disana, hanya untuk menemukan sebatang rokok Dunhill yang merupakan merk favoritku tersemat diantara jari telunjuk dan jari tengahku. Rokok itu menyala dan nampak telah berkurang dari ukuran aslinya, membuatku berfikir apakah aku telah menghisap benda tersebut.

“Huh? Kau masih belum bisa berhenti merokok rupanya.”

Aku menoleh cepat kearah belakangku begitu suara yang sangat familiar terdengar olehku. Dan benar saja, sosok seorang gadis kecil dengan rambut hitam panjangnya yang tergerai, berdiri tak jauh dariku. Senyuman yang hangat khas miliknya terpantri di wajahnya, membuat suasana hatiku turut menghangat meskipun udara disekeliling kami yang dingin. Tak ingin asap itu mengganggunya, aku segera menjatuhkan benda itu ke tanah dan buru-buru menginjaknya.

“Bocah, kau pikir akan semudah itu?”

Gadis itu hanya terkikik geli mendengar kata-kataku. Bisa kulihat kedua tangannya tampak menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya, membuatku menaikkan sebelah alisku, penasaran.

“Apa yang kau sembunyikan disana?”

Ia tampak panik saat aku menanyakan hal itu. Ia kemudian melirik kearah benda tersebut dan kearahku bergantian. Kemudian ia tampak berfikir sejenak, sebelum akhirnya sebuah cengiran terlukis jelas di wajahnya.

“Ini adalah sesuatu yang sangaaat hebat! Penasaran?”

“Oho, mari kita lihat seberapa hebat benda itu, bocah? Apa itu lebih hebat dari rokok favoritku?”

Gadis itu kembali tertawa, ia kemudian menunjukkan padaku benda yang ia sembunyikan semenjak tadi di belakangnya, membuat kedua alisku terangkat saat aku melihat sebuah benda yang tampak familiar berada disana.

“Ta-raaa!! Ini adalah Ko—”

“Konpeito.”

Gadis itu menatapku dengan takjub. Ia kemudian mengangguk dengan cepat dan berjalan perlahan kearahku. Senyuman manisnya tetap terpantri disana, membuatku turut tersenyum bersamanya. Saat ia telah berdiri di hadapanku, ia kemudian mulai menarik pita yang menyegel permen tersebut dan membukanya. Ia kemudian mengambil sebutir permen berwarna merah dan menyodorkannya padaku.

“Kau tahu? Ini adalah permen ajaib yang bisa mengabulkan permohonan siapapun yang memakannya!!” ujarnya bersemangat. “Makanlah permen ini, dan ucapkan permohonanmu sambil tersenyum!! Dan aku yakin, permohonanmu akan terkabul!!”

Aku tersenyum menatapnya dan memasukkan permen itu kedalam mulutku. Aku hendak akan memejamkan mataku dan melakukan apa yang ia minta, ketika aku melihat sebungkus konpeito yang berada di tangan gadis itu tiba-tiba terjatuh ke tanah, bersamaan dengan ambruknya gadis itu ke tanah.

“Bocah?”

Aku membulatkan mataku terkejut saat aku menemukan tubuh gadis kecil itu kini tergeletak di atas tanah dan basah kuyup. Rambut panjang hitamnya biasanya bergelombang dan rapi, kini nampak seperti dipotong asal-asalan. Wajahnya yang biasanya bersih tanpa noda, kini terlihat penuh memar dan luka. Iris kecoklatan miliknya yang selalu memancarkan kehangatan dan kepolosan, kini nampak kosong dan redup, seolah kehidupan telah meninggalkannya.

Kehidupan… meninggalkannya…

Aku segera merengkuh tubuh gadis itu dan menempelkan telingaku pada dada kirinya, memastikan bahwa kehidupan belum meninggalkan tubuh mungil tersebut.

Namun nihil.

Kemudian kurebahkan tubuhnya di tanah dan mulai memompa dadanya. Sesekali aku berhenti untuk memberikan CPR, kemudian mengecek detak jantungnya, dan kembali memompanya saat degupan yang kuharapkan dapat kudengar dari dadanya tak kunjung muncul.

“Tidak… tidak… kumohon…” Continue reading

Case of Kenshin: The Urgency of Loving You

Pairing: MC x Kenshin

By: Shiroyuuki

=====

Siang saat jam makan siang, aku bersama Sarasa dan Kei-senpai sedang menikmati bekal bersama di spot favorit kami di taman sekolah. Sarasa dan Kei-senpai sedang berbincang dengan asyik dan ceria seperti biasa, sambil sesekali menanyaiku meski aku tak tau apa yang sedang mereka bahas. Jadi hanya kujawab dengan “ah..” atau “..ummm” dan “…ya, tentu”.

Sebenarnya aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi terhadap semua hal sejak kejadian kemarin sore. Pikiranku berkecambuk. Setiap detik aku terus memikirkan Haru, namun sedetik kemudian bayangan Uesugi sensei selalu muncul dibenakku, membuatku kalut. Aku tak bisa memikirkan Haru tanpa Uesugi sensei yang mengusik pikiran dan hatiku.

Kenapa….???

Aku sudah bertekad untuk menghiraukan apa yang kurasakan Uesugi sensei. Cintaku hanya milik Haru, saat ia meninggalkan dunia ini. Aku yakin semua perasaan itu telah dibawa olehnya. Tak kusangka jntungku masih bisa berdegup untuk pria lain.

Aku benci diriku saat ini!! Gumamku dalam hati.

“Yuuki!!! Oiii!!! Yu…u..kii!!” Kei-senpai menjetikkan jarinya di dapan wajahku. Membuyarkan semua lamunanku.

“Ehhh…Ada apa senpai?” menolehkan kepala kesamping seolah bingung pada tindakan senpai yang tiba-tiba.

“Ampun…kau melamun dari tadi ya. Beraninya kau mengabaikanku dari tadi, dasar.” Kei senpai menyentil dahiku sebagai hukuman.

“Auhhh…gomen…pikiranku mengelana kemana-mana” jawabku sambil menggosok-gosok jidatku yang merah karena ulah senpai.

“Nyammm..Kau memikirkan apa sih?? Sampai-sampai sumpitmu hampir patah karena kau genggam sangat erat…Nyammm..” Sarasa bertanya disela-sela memakan roti bekalnya.

Kutenggok tangan kananku yang memegang sumpit dan benar saja, jariku merah karena menggenggam sumpit terlalu erat. Untung sumpitku tidak patah.

“Hehh… jarimu bahkan sudah memerah. Kulitmu pasti sangat sensitive. Kau baik-baik saja Yuuki?? Wajahmu terlihat lebih pucat dari biasanya? Mau aku antar ke UKS?” Kei-senpai bertanya dengan kekhawatiran yang sangat jarang ia tunjukkan pada siapa pun.

“Umm…No, thanks! Nanti aku malah menganggu ‘kegiatan’ Senpai dengan Takeda-sensei. Hehehe”

“Tepatnya Kegiatan Apa Yang Kau Maksudkan? HAHHH?!!” Kei-senpai mencubit pipiku keras-keras dan melayangkan death glare legendaris miliknya.”

“…Aww….gomen…sen..pai…sa..kit..”

“Ehh??? Memangnya apa yang akan senpai lakukan pada Takeda-sensei?” Tanya Sarasa dengan kepolosan seorang anak kecil yang memiliki zero experience tentang hubungan laki-laki dan perempuan. Hahaha…apa mungkin karena dia terlalu sering baca yaoi??

Aku dan Kei-senpai memandang Sarasa dengan tatapan memelas sambil membatin, “Oda-sensei yang malang bersabarlah beratus tahun lagi sampai bisa menaklukkan Sarasa Hanamori.”

“Kenapa kalian berdua menatapku seperti itu?.. Nyamm…ayo katakan padaku? Ada apa dengan Takeda-sensei dan senpai!!”

“Sarasa…lebih baik kau tanyakan pada Oda-sensei saja….tidak!! Minta dia mempraktekkannya padamu!! Aku yakin itu yang terbaik untuk kalian berdua!!” ujar Kei-senpai sambil tersenyum ala salesgirl yang menawarkan barang dagangannya kepada calon customer.

“Jika itu hal yang menyenangkan, mungkin aku akan bertanya padanya nanti sore….Nyamm…” Sarasa menghabiskan sisa rotinya tanpa sedikit pun mengerti maksud dari perkataan Kei-senpai barusan. hal itu membuatku dan senpai hanya bisa mendesah pasrah sambil mendoakan kesuksesan cinta Oda-sensei dengan Sarasa.

“…Oh ya, aku jadi ingat Yuuki,kemarin aku melihatmu berlari kencang di koridor saat hendak kembali ke ruangan Nobu..eh…Oda-sensei. Kau kenapa?? Setelahnya Uesugi-sensei menyudutkanku ke dinding dan menyakanmu dengan tatapan iblisnya. Apa kau sedang ada masalah dengannya??”

“Uhh…i..itu…” Tidak kusangka Sarasa kemarin melihatku melarikan diri. Aku tidak tau apa yang harus kukatakan pada kedua teman dekatku ini. Mungkin saja mereka akan menganggapku aneh dan menjauhiku setelah mendengar alasanku melarikan diri dari Uesugi-sensei kemarin.

Aku tidak siap menceritakannya pada mereka, terlebih mereka berdua adalah teman dekat pertama yang kumiliki selain Haru. Aku tak mau sendirian lagi menjalani hari-hari di sekolah seperti dulu, tapi rasanya sungguh salah bila aku tidak jujur pada mereka.

“Yuuki…” Kei-senpai memegang pundakku yang ternyata gemetaran sedari tadi dan mengelusnya lembut. Sedangkan Sarasa sudah berada disampingku sambil menggenggam tanganku yang terkepal di paha. “ …Kau tidak perlu menyembunyikan apapun dari kami. Ingat kami ini temanmu kan?” Kei-senpai mengusap-usapkan telapakl tangannya di punggungku. aku merasa tidak enak namun apa yang senpai lakukan ini cukup membuatku tenang.

“Ummm…” aku mengangguk pada mereka berdua. Tidak ada gunanya terus menerus menyembunyikannya. Jadi kupuskan untuk menceritakan semua yang ada dibenakku tentang Haru, juga Uesugi sensei.

.

.

.

“Ehhh!!! Kau jatuh cinta saat usia 5 tahun dan belum bisa move on?? Kau pasti sangat menyukai pria ini Yuuki.” Ujar Kei-senpai sambil menggeleng-gelengkan kepala dan menutup mulutnya. Namun aku bisa melihat ia cukup excited dengan apa yang kuceritakan karena kilatan matanya yang menari-nari.

“Jadi kau lari dari Uesugi-sensei begitu saja kemarin?!! Kau sangat pemberani Yuuki!! Andaikan aku mempunyai cukup keberanian untuk melakukan hal seperti itu.” Sarasa pun turut menggelengkan kepalanya denga alasan yang berbeda dengan Kei-senpai.

“Emm…sebenarnya dari semua yang diceritakan Yuuki, itu merupakan hal terakhir yang menarik Sarasa.”

“Eh? Iyakah? Menurutku wajar bila kita tidak bisa melupakan cinta pertama kita lhooo…”

Aku sedikit terkejut dengan pernyataan Sarasa barusan, mungkinkah ia juga mempuyai pengalaman yang sama denganku?

“….Bahkan aku tidak bisa melupakan cinta Ken pada Yuiga teman sekelasnya yang terus ia pendam seorang diri tanpa pernah sekalipun ia nyatakan sampai mereka lulus. Namun akhirya bertahun-tahun kemudian Ken mendapat pernyataan cinta dari Yuiga yang ternyata memendam perasaan yang sama. Ahhh…..aku sangat terharu membaca kisahnya. Mereka berdua lah yang menunjukkan padaku indahnya cinta yang sebenarnya.” Mata Sarasa berkaca-kaca sambil menceritakannya.

Rupanya “Cinta” dalam kamus Sarasa berbeda dengan anggapan kebanyakan orang. Meskipun aku paham perasaannya, terkadang yaoi bahkan lebih menarik daripada kisah cinta biasa.

Kei-senpai hanya mendesah dan memutar matanya setelah mendengar pernyataan Sarasa. Senpai pasti sudah paham betul watak Sarasa “That’s Sarasa for you..” gumam Kei-senpai.

“Yuuki, aku tau kau bimbang dengan perasaanmu saat ini. Tapi bukanlah bagus kalau akhirnya kau bisa punya perasaan pada lelaki lain lagi. Kau tidak bisa terus menerus tenggelam pada cinta masa lalumu.” Ujar Kei-senpai padaku dengan nada penuh perhatian.

Aku hanya bisa mengalihkan wajahku mendengar nasehat senpai. Apa yang dikatakan Kei-senpai sudah sangat kumengerti sejak dulu. Hati kecilku pun juga berujar demikian. Ratusan kali aku jatuh karena perasaan putus asa yang menduri dalam hati. Haru sudah tidak ada, untuk apa kupertahankan cinta ini.

Berulang kali, saat kucoba membuka hatiku pada pria lain. Selalu…selalu…kenangan akan waktu yang kulalui bersama Haru terus saja berputar di kepalaku seperti kaset yang rusak. Mengingatkanku pada senyumnya, kebaikannya, perhatiannya dan betapa aku sangat mencintai Haru dulu. Memori ini menghangatkan kalbuku, dan di saat bersamaan menghujamku dengan realita yang sesungguhnya.

Meskipun demikian…..

Aku tersenyum pada Kei-senpai dan Sarasa kemudian menjawab “Kenangan dan perasaan yang kumiliki untuk Haru, adalah satu-satunya penghubungku dengannya.”

Perasaan cinta ini menyiksaku, tapi kusadar tak pernah sedetik pun aku berniat membuangnya. Haru mungkin telah tiada, tapi perasaan ini tetaplah terukir dalam dada. Cintaku padanya tak pernah berkurang sedikit pun selama 11 tahun ini. Aku yakin selama masih mengingatnya, maka Haru akan tetap hidup dalam memoriku, dalam setiap nafasku. Sampai waktunya nanti aku akan menyusulnya,cintaku padanya akan tetap kujaga. Itu lah tekadku.

Kei-senpai membelalakkan matanya dan memelukku. “… Haru…. sudah tiada ya??… gomen…” ujar Kei-senpai dengan wajah sedih.

“…Emmm…aku tidak begitu paham..tapi…mencintai orang lain, bukan berarti kau harus melupakan cinta pertamamu kan…” Sarasa sedikit menggelengkan kepala saat mengatakannya, nada suara datar dan polos “…kau tinggal membagi ruang di hatimu untuk semua yang kau cintai seperti yang kulakukan pada semua tokoh favoritku…” Imbuhnya dengan semangat otaku yang menggebu.

aku hanya bisa memalingkan wajahku sembari berfikir. perkataanya sama sekali tidak bisa kupahami. Selama ini aku hanya mencintai Haru tidak pernah terbesit dalam benakku untuk membaginya dengan yang lain.

“Pffftt….terkadang kepolosanmu itu bagus juga ya…dasar Sarasa…” Kei-senpai menutup mulutnya dengan sebelah tangan menahan tertawa. “ …Sarasa benar Yuuki, kau tidak harus melupakan Haru untuk mencintai orang lain. Aku yakin Haru pun berpikir demikian, karena dia menyayangimu.” Kei-senpai mengusap kepalaku atau lebih tepatnya mengacak-acaknya.

“…Haru…menyayangiku…?” bisikku lirih. Namun sepertinya cukup keras untuk di dengar karena sesaat kemudian, tangan senpai yang mengelus kepalaku berbalik menjitaknya keras-keras.

“ADUHHH!!”

“BAKA!! Tentu saja, ia menyayangimu. Mana ada anak SMP kelas 3 yang mau bermain dengan bocah 5 tahun bila tidak menyayanginya!! Ampunnn…Yuuki, seharusnya kau menyadarinya dari dulu.”

Apa yang dikatakan Kei-senpai membuka kembali ingatanku akan Haru. Benar, meskipun perasaannya mungkin berbeda dengan yang kurasakan padanya. Haru menyayangiku, ia pernah mengatakannya dengan jelas.

“……… Karena aku sangat menyayangi Yuuki, aku tidak ingin kau mengalami hal buruk karenaku, apa kau mengerti?”

Mengingatnya membuat hatiku diluapi cinta untuk Haru, terasa hangat dan pedih. Cinta dan keputusasaan berbaur menjadi satu memenuhiku. Hanya ia seorang yang bisa membuatku merasa demikian.

Tanpa kusadari air mataku telah meleleh dan tubuhku gemetar. “Gomen…hiks..hiks…aku menjadi terlalu emosional …..bila mengingat …Ha..r…Uwaaa!!” tangisku pecah, kututupi mataku dengan kedua telapak tangan. Aku berteriak dan merauag di depan kedua sahabatku. Mereka mendekat dan memeluk bahuku. kurasakan telapak tangan Sarasa yang mengusap lembut punggungku serta kudengar suara Kei-senpai yang menenangkanku diantara suara tangisku yang sesenggukan.

Aku tak pernah menceritakan tentang Haru pada siapa pun selama ini. Mereka berdua adalah orang pertama yang tau, meskipun aku jadi menangis tak karuan seperti ini. Aku tidak menyesal telah menceritakan pada Kei-senpai dan Sarasa.

=========

Kei Matsumoto berjalan menuju UKS setelah bel jam pelajaran akhir berbunyi untuk menemui kekasihnya,. Ia menjadi tidak tenang setelah mendengar cerita pahit Yuuki, Kei tidak bisa berhenti mengkhawatirkan gadis itu. Di tambah kenyataan tidak ada yang bisa Kei lakukan untuk membantu Yuuki, membuatnya sedikit dongkol.

Kei akan sangat senang bila Yuuki akhirnya bisa bersama dengan Uesugi-sensei. Mereka terlihat sangat cocok bersama, juga dari perlakuan Uesugi-sensei pada Yuuki dari yang diceritakan Shingen. Kei yakin 70% bahwa Dewa kedisiplinan Ikesen High memendam perasaan pada Yuuki.

Kei berpikir untuk menjodohkan mereka, sehingga Yuuki tidak akan terpuruk pada cinta lamanya terus menerus. Dan langkah pertama yang harus diambilnya adalah mencari informasi sebanyak mungkin tentang Uesugi-sensei dari kawan terdekatnya, Takeda Shingen. Guru UKS sekaligus kekasih tercinta Kei.

Pada awalnya Kei hanya berniat melepas rindu saja dengan kekasihnya, tapi kemudian ia memikirkan ide ini dan segera bergegas menuju UKS “Seperti menengkap dua burung dengan satu batu” batin Kei dalam hati.

Sesampainya di depan ruang UKS, Kei tengah memegang pegangan pintu ketika mendengar suara tawa genit seorang wanita dari dalam UKS. Kei terkejut dan sempat berhenti. Semangat dalam dirinya tadi langsung di gantikan dengan niat membunuh yang menjalari setiap ujung sarafnya.

Perlahan Kei membuka pintu UKS dan menemukan kekasihnya sedang beradu pandang dengan seorang gadis berambut panjang yang  duduk di ujung ranjang, sementara itu salah satu tangan Shingen memegang dagu si gadis, mendongakkan kepalanya soelah akan membawa wajah gadis itu untuk menciumnya.

“aahh!! gomen.. sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat.. maaf.. permisi..” Kei sengaja memperlambat gerakan dan nada bicaranya karena ia ingin melihat reaksi mereka berdua.

Hime??” Shingen segera menoleh ke arah Kei. dengan wajah tanpa ada rasa bersalah dalam dirinya, Shingen melepaskan tangannya dari gadis itu dan bergegas menahan Kei keluar dari ruangan.

“Ouhh…senpai, lama tidak berjumpa.” Gadis berambut hitam dengan senyum sensual itu menyapa Kei dengan nada sopan dan halus yang sangat berbeda dengan sorot matanya yang tampak meremehkan.

Madoka Miyoshita gadis cantik, kaya raya dan serba bisa yang di juluki Yamato Nadeshiko. Banyak siswa baik laki-laki atau perempuan yang mengidolakannya karena penampilan serta kepribadiannya yang halus. Namun dimata Kei, gadis ini hanyalah kucing liar yang senang mengibaskan ekornya untuk mendapatkan perhatian orang lain.

“Hai.. Madoka….” Kei membalas sapaannya dengan senyuman yang ia paksakan.

“apa yang diinginkan anak ini dari Shingen? apa perhatian dari cowok-cowok itu kurang buat dia hingga ia merayu Shingen-ku? damn! sekali lagi aku melihatnya seperti ini dengan Shingen, akan kubuat dia menyesal seumur hidup.” 

“Apa kau yang membawamu kemari, apa kau merindukanku?” di depan Madoka, Shingen meraih tangan tangan Kei dan mendekapnya. Ia melayangkan tatapan menggoda dengan sebelah mata di kedipkan ketika mencium ruas jari Kei yang panjang dan lentik.

wajah Kei mendadak merona atas perlakuan Shingen padanya. Jantungnya mendegup keras dalam dada karena perasaan cinta dan kerinduan yang memang di rasakannya pada dokter tampan ini. Kei merasa dirinya tak berdaya ketika bersama dengan Shingen, meskipun ia sebal dengan apa yang ia lihat barusan.

Namun Kei memiliki ide untuk mengorek informasi apa yang telah terjadi diantara mereka berdua. Sehingga Kei merasa ia harus bertahan dengan PDA yang dilakukan oleh Shingen. ia juga ingin menegaskan bahwa Shingen adalah miliknya, dan tidak bisa dicuri oleh kucing garong semacam dia.

“uuummm…. that’s.. kinda… ummmm…” Kei mulai melancarkan jurus tipu dayanya kepada Shingen. ia berlagak lugu dan tak berdaya di hadapan Shingen. Kei menaruh kedua tangannya di kemeja Shingen sambil menariknya dengan perlahan “kamu tahu kan.. aku.. juga merindukanmu.. that’s why… I’m here…” Kei memalingkan wajahnya dari Shingen namun matanya melirik ke Madoka.

Kei bisa merasakan keterkejutan Shingen ketika Kei menjawabnya dengan terang-terangan. Biasanya Kei sangat tertutup dengan hubungan mereka di sekolah, tapi kali ini Kei seakan mengatakan pada salah satu penonton di depannya bahwa Shingen dan Kei memiliki hubungan khusus.

“sungguh? kamu kangen padaku, Hime?” ucapnya sambil mengelus rambut keperakan Kei. “Gadis cantik sepertimu merindukanku? Surga pasti sedang berpihak kepadaku karena mengirimkan salah satu malaikatnya di depan mataku.”

Kei berusaha mati-matian untuk menahan dirinya untuk tidak membalas rayuan maut Shingen dengan ucapan sarkasme yang biasa ia layangkan kepada Shingen tiap kali Shingen merayunya.

“katakan cantik.. apa yang bisa aku bantu untukmu? Dengan senang hati aku akan melakukannya.”

“Ahhh….Takeda-sensei.. aku.. rasa aku… sedikit tidak enak.. badan jadi.. sebenarnya aku.. ingin.. istirahat sebentar…” ucap Kei sambil bertingkah seolah-olah ia sedang kebingungan menerima rayuan Shingen. namun tangan Kei perlahan bermain di dada Shingen, membuat Shingen merasa bahwa tindakan Kei cukup berani di depan Madoka.

“sensei…” Kei menengadahkan kepalanya dan memberikan dreamy look sambil menggigit bibir bawahnya. “bolehkah aku.. istirahat disini??” perlahan jemari Kei melonggarkan dasi Shingen dan melepas dua kancing teratas. Namun mata Kei tertuju kepada Madoka.

Madoka memalingkan wajahnya dan merasa risih dengan apa ia lihat saat ini. Kei mendapati gadis itu tidak tertarik dengan apa yang Shingen lakukan kepadanya. “bagus.. berarti anak ini udah malas berurusan dengan Shingen.” 

 

“Sorry…aku takut akan mengganggu kesenangan kalian berdua, jadi lebih baik aku pamit sebelum keadaan semakin panas.” Dengan anggun Madoka turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu.

Sebelum keluar ia sedikit membungkukkan tubuh pada Shingen dan berkata “Takeda-sensei, terimakasih atas informasi yang kau berikan padaku. Semoga dengan ini aku bisa semakin dekat dengan Uesugi-sensei.” Pipi Madoka sedikit memerah saat mengatakannya.

Kei tak kuasa untuk menyembunyikan keterkejutannya saat mendengar ucapan Madoka, matanya terbelalak mengikuti langkah gadis itu keluar UKS dan menutup pintu dibelakangnya.

Shingen langsung memeluk tubuh Kei dari belakang dan menyurukkan kepala diantara bahu dan leher. “Ahhh…Hime…hari ini kau membuatku semakin bergairah padamu. Bila terus begini, aku akan menguncimu di UKS sepanjang hari bersamaku” Shingen menyelipkan tangan dibalik bagian bawah kemeja  Kei yang tidak dimasukkan dan mencium leher Kei yang jenjang.

“Shingen.. apa yang kamu lakukan bersamanya? kenapa kamu hampir menciumnya?” Tanya Kei dengan nada dingin pada kekasihnya yang tengah asyik memainkan jemari dan bibirnya di tubuh Kei.

“…Ehmm….Madoka? ia tadi menanyakan tentang Kenshin padaku. Sepertinya ia tertarik dengan si dingin itu. Hehehe…kau tau aku tidak bisa menolak permintaan yang sangat jarang seperti itu kan. Jadi kuberitahukan semua yang kutahu padanya, lagi pula keluarga mereka sepertiya saling mengenal juga.”

Meskipun Shingen sedang menggoda tubuhnya, dan tubuhnya gemetar dibawah belaian manis jari pria itu. Kei tidak bisa menikmatinya, pikirannya tertuju pada Yuuki dan kenyataan bahwa bila ia tidak segera meyakinkan gadis itu. Mungkin saja Yuuki akan mengalami keputusasaan untuk kedua kalinya dalam hidup.

Kei tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.

“…Uhhh…Shingen…” Kei menangkap telapak tangan Shingen yang menangkup dadanya dibalik  kemeja. Ia menengokkan kepala pada Shingen dan menatap kekasihnya dengan mata berkaca-kaca yang seolah mengatakan Tolong berhenti.

Shingen melepaskan pelukannya pada Kei dan membalikkan tubuh Kei menghadapnya, tangannya memegang kedua bahu Kei di kedua sisi. “Maaf, apa aku terlalu berlebihan?? Aku…tidak kuasa mengontrol diri…tadi kau sangat menggo–” tiba-tiba Kei menarik jasnya dan memotong ucapan Shingen dengan ciuman.

secara refleks Shingen membalas ciuman Kei dengan lebih intens, memeluk punggung gadis itu dan membuat tubuh mereka berdua saling menempel.

Bibir mereka saling berpangutan berulang kali, mencuri setiap nafas yang diambil. “Ahh…” Shingen memasukkan lidahnya ke mulut Kei saat gadisnya mendesah, mengecap rasa manis bibir dan mulut Kei. Dengan segera ciuman mereka semakin panas dan intens. Menyulut api gairah yang bisa membakar mereka sewaktu-waktu.

“Ke…Kei…ummm….bila kau begini terus aku …tidak bisa menahannya lagi…” Ujar Shingen di sela-sela ciuman mereka yang intens.

Kei tidak menyahutinya, dan malah semakin memperdalam ciumannya pada Shingen. Selama beberapa saat ruangan yang tenang itu hanya berisi suara desahan dan gemerisik pakaian yang saling bergesek.

Saat oksigen di tubuh mereka telah mencapai batas, Kei menghentikkan ciuman mereka. Ia menyandarkan kepala didada bidang Shingen. Mereka berdua hanya berdiri disana mengambil udara sebanyak-banyaknya sambil menunggu detak jantung kembali berdegup normal.

“Kei…” Shingen memanggil nama kekasihnya segera setelah nafasnya sudah tenang.

Kei melepaskan pelukannya di tubuh Shingen, menengadahkan kepala dan tersenyum manis pada pria itu.  Ia memberikan satu kecupan lembut terakhir di bibir Shingen kemudian ia kembali berbisik di telinga Shingen “ Gomen, malam ini…kamu tidur sendiri ya… hihihi”

“Eh…EHHH!!! Hi…hime…Kenapa?” Wajah Shingen terlihat pucat dan panik.

“Aku akan menginap di rumah Yuuki, ada sesuatu yang harus kujelaskan padanya…” Kei mengedipkan mata ke Shingen yang  membeku karena syok. Lalu Kei menarik tangan Shingen dan mengecup pipinya. “Bye handsome.. will continue it later, okay? and please be a good boy, will you? aku akan memberikan apa yang kamu inginkan jika kamu berlaku baik..” Kei melangkah keluar dari UKS dengan tenang sembari melambaikan tangannya.

Salah sendiri kau menggoda gadis lain dan malah menceritakan tentang Uesugi-sensei padahal kau pasti tahu Yuuki punya perasaan padanya. Batin Kei sedikit puas karena bisa menghukum kekasihnya.

Kei mengambil telepon dikantongnya dan segera menghubungi Yuuki, apa pun yang terjadi ia tidak akan membiarkan kucing genit itu menghalangi cinta sahabatnya.

==========

Author’s Note

Hai…hai…terima kasih buat pembaca yang sudah meluangkan waktu untuk membaca ff ini. Semoga kalian menikmati FF pertama saya seumur-umur ini.wkwkwk.

Penulis minta maaf karena jadwal update yang ga konsisten dan terutama karena jarangnya muncul KENSHIN terutama dua part terakhir *Crying.

Karena FF ini baru akan masuk klimaks cerita dan baru akan berfokus pada hubungan mereka berdua.

Jadi semoga kalian masih bersabar untuk menikmati kisah ini

Thank you ~~

_shiroyuuki_

Case of Masamune: RIP My poor little Pure Innocent Maiden Heart

By: PrincessPhoe

= Intro =

Masamune baru saja pulang dari kantor polisi pukul 5.30 pagi. Karena akan bertemu dengan Phoe, Masamune menyembunyikan rasa lelahnya. Ia membuka pintu kamarnya dengan ragu-ragu. Ia mendapati Yojiro sedang duduk di kursi dekat tempat tidur, dan Phoe yang terbaring lemah di atas tempat tidurnya.

“Selamat datang, Tuan,” Yojiro menutup bukunya dan berdiri. “Nona Phoe baru saja terbangun, namun kepalanya masih pusing, jadi ia harus kembali beristirahat. Saya sudah menjelaskan semua yang perlu saya jelaskan. Saya…”

Masamune tidak bisa fokus kepada penjelasan Yojiro. Ia terus berjalan dengan perlahan mendekati tempat tidur. Ia ingin mengamati Phoe dari dekat. Perban yang membalut dahinya membuat Masamune semakin sedih melihatnya, namun ia juga terpana saat melihat tubuh Phoe dalam kemejanya. Ukurannya terlalu besar baginya, namun Masamune masih bisa melihat kelebihan bagian tubuh Phoe yang tidak tertutup selimut. Ia berpikir, apakah dadanya memang selalu seperti itu, kenapa ia baru menyadarinya?

Yojiro merasa jengkel karena diabaikan. Ia meraih pundak Masamune dan berdiri dihadapannya, menghalangi langkah Masamune menuju tempat tidurnya. Ia menatap tajam kepada Masamune di balik kacamata frameless-nya. “Ingat Masamune, jadwalmu hari ini sangat padat. Kau harus fokus, atau kau tidak bisa pulang tepat waktu nanti sore, dan Nona Phoe harus menunggu lebih lama. Sekarang bersiaplah. Kau harus mengajar dua kelas di Ikesen High pagi ini. Kutunggu kau di ruang depan.”

==========

Aku terjaga untuk kedua kalinya saat sinar matahari memenuhi ruangan tempatku beristirahat. Bisa kurasakan bahkan sebelum kubuka mataku. Badanku sedang berbaring di atas kasur yang nyaman dengan selimut tebal dan hangat menyelubungiku. Tekstur kain yang lembut menyapa permukaan telapak tanganku, suara burung yang berkicauan mengaktifkan indra pendengaranku. Namun sensasi yang paling menonjol adalah… ketika paru-paruku dipenuhi oleh aroma wewangian yang sangat kukenal dan kusukai.

Aku terbangun di kamar Masamune Sensei.

Continue reading

[Side story] Memories of Her First Encounter

By: MatsuKei

—-

January 2018.

Aku sedang menikmati musim dingin di apartemen Shingen. Shingen memintaku menginap di apartemennya selama liburan musim dingin karena ia ingin aku ada di rumah ketika ia pulang kerja. Aku merasa seperti ibu rumah tangga yang menyambut suami pulang kerja. Haha, so ridiculous.

Aku sih tak keberatan, karena secara teknis, aku sudah tidak ada urusan dengan sekolah hingga wisuda nanti. Aku juga menunggu surat dari Cybird Uni apakah aku lulus ujian atau tidak. Ah kalaupun tidak masuk Cybird Uni, Iori-papa sudah memberiku kursi di salah satu sekolah bisnis di Inggris. Begitu aku tidak lulus di Cybird Uni, aku akan terbang ke London dan sekolah disana selama kurang lebih 4 tahun. Iori-papa ingin aku meneruskan bisnis keluarga Yagami. Awalnya sih aku nggak mau. Kenapa nggak Hidenii aja sih? Eh ujung-ujungnya karena Hidenii sudah membantu Iori-papa di bidang lain. Sepertinya Hidenii emang tangan kanan Iori-papa di bawah tanah deh.  Continue reading

[Side Story] Guys Talk

Rating: R18.

Disclaimer: Adult Content ALERT. Read at Your Own RISK! Penulis tidak akan menjamin efek samping yang akan dialami oleh pembaca, apapun itu *evil grin*

Written by: PrincessPhoe feat MatsuKei

——–

Jam sekolah berdentang tiga kali saat pertemuan guru-guru selesai. Pertemuan guru-guru sabtu ini membahas tentang materi yang akan diujikan pada ujian tengah semester. Selain itu Uesugi Sensei, sang guru bimbingan konseling memberikan penilaian tentang hasil evaluasinya terhadap para murid Ikesen High. Kepala sekolah membubarkan pertemuan guru lalu keluar ruangan disusul oleh beberapa guru. Beberapa guru yang lain memutuskan untuk tinggal dalam ruangan dan mengobrol.

Nobunaga, Shingen dan Kenshin terlihat menggerombol di pinggir ruangan rapat. Sementara Kenshin sibuk dengan ponsel barunya, Shingen dan Nobunaga terlihat akur berbagi manisan kesukaan mereka. Nampak Yukimura mulai sibuk mengemasi barang-barangnya dan akan keluar dari ruangan.

“Hei, Yukimura! Kemarilah. Tidak perlu cepat-cepat pergi begitu. Ayo kita ngobrol bersama,” seru Shingen ketika melihat Yukimura hendak beranjak dari kursinya. “Aku punya manisan untuk dibagi-bagi,” tambahnya sambil mengangkat sekantong permen.

“Hei, itu milikku, bodoh!” kata Nobunaga sambil merebut kantong permen miliknya dari tangan Shingen.

Yukimura dengan sungkan menjawab, “ah, terima kasih Takeda Sensei, saya—“

“Sudahlah, tidak perlu takut. Kau pikir kami akan membullymu?” potong Kenshin tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel barunya. Ibu jarinya masih sibuk naik-turun scrolling gambar-gambar pedang lusuh di alamat web yang ia telusuri lewat goggle. Sesekali Kenshin mengernyitkan alisnya. Ia nampak sangat bingung dengan alamat web yang ditujunya. Sepertinya Kenshin tidak menyadari kalau ia salah tap. Seharusnya ia menekan tulisan ‘pedang antik’ namun jarinya meleset dan menekan tulisan ‘pedang bekas’. Continue reading