Our Projects

Hi! Saat ini tu2t lagi punya project nulis fan fiction ama temen2. So buat yg pengen tahu udh berapa banyak, bisa lihat link di bawah ini, okay? Continue reading

Advertisements

Atelier Of MM

Introduction

Ini adalah kisah lima orang sahabat yang tinggal dalam satu rumah. Tanpa sengaja mereka berkumpul dan memiliki hobi yang sama (anime dan otome game), hingga akhirnya persaudaraan terbentuk diantara mereka. Mereka adalah…

Maeda Yukino/Yukichi. (21yo/148cm)

Yukichi adalah salah satu mahasiswi tingkat akhir studi informatika di Tokyo Daigaku. Ia sedang sibuk mempersiapkan skripsi yang maju mundur syantik karena tema yang diangkat tidak biasa. Yukina berasal dari Hokaido. Ukuran tubuhnya yang imut, alias hanya 148 cm, membuatnya sering dibully oleh Mamie dan Rezia.

Sugiyama Vivi/Vivi. (25yo/155cm)

Vivi merupakan mahasisya studi tingkat lanjut di bidang Biologi. Bidang studi kesukaannya adalah embriologi, yaitu studi khusus tentang terbentuknya suatu makhluk hidup. Satu-satunya penghuni share house yang cukup ketat dengan peraturan. Vivi berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja bahkan cenderung kolot, dimana orang tuanya lebih mengharapkan Vivi untuk segera membina bahtera rumah tangga ketimbang melanjutkan studi. Yang menjadi masalah adalah, dengan siapakah Vivi akan membina bahtera rumah tangga?

Hanamori Sarah/Sarah. (22yo/168cm)

Polos dan airhead. Dua kata ini menggambarkan bagaimana Sarah sebenarnya. Sarah baru saja menyelesaikan studi di bidang Pariwisata dan sekarang sedang mondar mandir mencari pekerjaan. Karena kepolosannya ini Sarah cukup sering dimanfaatkan oleh teman-teman kampusnya hingga Mamie dan Rez sebal lalu turun tangan untuk menghentikan perlakuan teman-teman Sarah.

Rezia Oswald/Rez. (26yo.182cm)

Dibalik tampang cantik dan kelakuan playernya, Rezia merupakan salah satu dokter umum yang berbakat di RS Todai. Ia cekatan dalam menangani pasien dan tidak segan-segan untuk memarahi pasien maupun dokter lain jika mereka berulah. Rez merupakan partner in crime-nya Mamie dalam segala hal, terutama dalam hal hunting mencari cowok ganteng karena Rez selalu dikelilingi cowok-cowok ganteng.

Matsuyama Mieka/Mamie. (29yo/169cm)

Laidback, mature, carefree dan misterius. Mamie adalah pemilik dari share house yang mereka tinggali bersama. Pembawaannya yang kalem dan dewasa diluar membuat banyak orang menaruh respek padanya. Namun jika berani dekat dan masuk ke dalam lingkarannya, Mamie tidak jauh berbeda dengan Rez yang cukup gila dan super usil. Tidak ada yang tahu pasti apa yang dilakukan Mamie untuk hidup. Terkadang ia keluar berhari-hari dan pulang dalam keadaan lusuh, terkadang ia didalam kamar berhari-hari.

Bagaimanakah mereka menghadapi kejamnya dunia dan mengatasi problem sehari-hari yang muncul di kehidupan mereka? inilah cerita mereka, the sisterhood of Atelier.

=======

Chapter 1.

Pertemuan yang Telah Digariskan

 

Mamie keluar dari kamarnya dan berjalan ke ruang santai. Ruangan itu cukup besar dengan sofa di tengah-tengah ruangan dan sebuah bar di sebelah kanannya. Di seberang bar, terdapat meja makan dan dapur. Disana ia melihat Sarah dan Yuki mojok berdua di salah satu sofa dan tertawa bersama. Di seberang mereka ada Vivi yang sedang asyik melihat smartphone-nya sambil mengunyah roti. Pemandangan yang sangat biasa Mamie lihat di pagi hari.

 

“morning girls..” sapa Mamie kepada mereka.

“morning mom~” sahut Vivi tanpa melihat Mamie.

“hey.. sejak kapan aku jadi ibukmu? My name is Mamie, bukan Mommy. I’ve told ya thousands times”

“yah.. abisnya Mamie dan mommy, hampir sama kan? Lagian, Mamie-san kan emang induk semang kita. Ibuk kita lah disini. Jadi wajar kan kalo aku panggil mommy?” vivi melepaskan pandangannya dari smartphone dan melemparkan senyuman lebar bak kuda nyengir ke Mamie.

Mamie mengangkat kedua alisnya sambil menghela nafas melihat cengiran vivi. “terserah kamu lah, vi.” sambil meracik kopi ke mesin pembuat kopi miliknya.

“yesshhh!!”

..
..

beberapa saat kemudian, “coffee, girls??”

Dalam sekejap mereka bertiga meninggalkan kegiatannya dan duduk di counter bar.

“here for you Vivi, latte with heart. Americano for Yuki and for Sarah.. kira-kira apa ya yang bakalan ku buat untukmu?” sambil meletakkan kopi ke depan vivi dan yuki.

“ah Mamie-san.. kenapa aku nggak dibuatin juga sih? Hiks..”

“kalo buat kamu.. hmm.. gini deh.. aku ada 2.. ada double espresso dan cappucinno. Kalo kamu bisa menjawab pertanyaanku, kamu bisa milih diantara dua itu, which I think you’ll take the cappucinno, yes?” ucapnya sambil menyilangkan tangan di dadanya.

sarah manggut-manggut dengan semangat 45 “jelas dong! Aku nggak suka espresso.. pahit!”

“okay.. kalo salah, si double espresso bakalan kamu minum ya. Gimana, ready to take the challenge?” Mamie menyunggingkan salah satu bibirnya dan mencondongkan badannya ke depan Sarah.

“eerrr… kalo nggak jawab, masih bisa dapet cappucinnonya gak, mamie-san?”

“nggak dooong… nggak jawab sama dengan salah. Artinya double espresso for you” Mamie tersenyum lebar bak Cheshire Cat

“aaacckkk!! lihat lihat! Mamie-san sekarang tersenyum lebar, Sar.. scary~” tambah Yuki sambil menyenggol bahu Sarah. Continue reading

Case of Hideyoshi : Unstoppable Kiss

by: Kurogane Aya
Cast: MC x Toyotomi Hideyoshi

=====

Author POV

Cerita ini berawal dari kisah seorang gadis muda bernama lengkap Ijou Rena yang baru saja menjalani tahun keduanya di masa SMA. Gadis yang terkenal dengan sifat cerianya ini terlihat sedang sibuk mengikat tali sepatunya.

 

Iya ibu, jangan khawatir. Aku takkan terlambat di hari pertamaku bersekolah di Tokyo. Apa? Iya, aku sudah sarapan.” Rena sibuk mengapit telepon genggamnya diantara telinga dan bahu kirinya. Ia terlihat sedang kewalahan ketika ibunya tiba-tiba meneleponnya.

 

Sudah dulu ya, aku benar-benar harus berangkat nih.” Putusnya pada sambungan telponnya itu. Ia cepat-cepat meraih ponselnya dan menekan tombol telepon berwarna merah itu, lelah dengan ucapan panjang lebar sang ibu yang bagaikan kereta express.

 

Rena membangkitkan tubuhnya lalu membuka pintu depan rumahnya dengan secepat kilat, ia benar-benar tidak mau dicap sebagai siswa pemalas di kali pertamanya bersekolah di salah satu sekolah elit di Tokyo, Ikesen High. Reputasinya sebagai cucu seorang professor terkenal di Nagoya harus tetap dipertahankan, tentu Ia tak mau menjadi orang yang mempermalukan pohon keluarganya. Ditengah perjalanan, sesuatu tak terduga terjadi. Sesuatu yang nantinya akan merubah hidup Rena secara total. Dari kehidupannya di sekolah, hingga percintaannya.

Continue reading

One Night Forever Fate

By: Arantxa
Read the 1st part, here >> The Given Bride
==========

Rating: R18+
Cast: Hinata (Heroine), Asami Ryuichi (from Yaoi Manga: Finder Series)
Genre: Action, Romantic, Drama
Disclaimer: CONTAINS SEXUAL AND VIOLENCE MATERIAL. READ YOUR OWN RISK!

=========

Sabtu malam

Hinata memasuki night club eksklusif di kawasan Omotesando bersama Tomoka dan Ayame, dua teman karibnya sejak di SMU. Mereka menuju tribun vip dan memesan beberapa botol minuman.

“So, how is work?” tanya Tomoka yang berprofesi sebagai arsitek.
“Same as always. Tidak ada yang menarik” sahut Ayame yang berprofesi sebagai karyawan di sebuah agensi periklanan.
Keduanya menoleh pada Hinata. Teman sekolah mereka yang sejak SMU menjadi primadona sekolah, putri salah satu ahli bedah jantung terbaik di dunia Prof Hayashi Kasuragi.
“Sepertinya hidupmu lebih menarik Hina” tanya Tomoka.
Hinata menandaskan slot red labelnya.
“No. Minggu ini benar benar menyebalkan. Ada seorang pasien yang benar benar menyebalkan” sahutnya.
“Apa dia pria? Tampan?” tanya Ayame.
“Astaga Ayame itukah yang selalu kau pikirkan?”
Ayame terkikik mendengar sahutan tajam Hinata.
“Well dia tampan tapi dia sangat intimidatif dan menyebalkan”

Sontak Tomoka dan Ayame mengeluarkan suara “ooooooh” lalu merapatkan badan mereka dan mendekatkan diri ke Hinata.

“What?”
“Pria yang berkuasa kurasa?”
Hinata mengangguk – “Asami Ryuichi”
ia sebenarnya dilarang memberitahu siapapun pasien di bangsal ICU 1. Tapi kedua sahabatnya telah lama mengenalnya.
“My God! Asami Ryuichi?” Ayame membekap mulutnya seketika. “Kingpin of Japan?!” lanjutnya sambil setengah berbisik agar suaranya tidak terdengar oleh orang lain. ia sangat sadar bahwa menyebutkan namanya, akan membuat semua orang penasaran dengan percakapan mereka. Continue reading

Tangled(Shingen x Kojuro smut ff)

By: Arantxa

Rating: R21+

Genre: SMUT

⚠ WARNING ⚠

read the genre. It’s smut. Read it on your own risk yeah..

Shiroishi Castle

“Lord Kojuro and Lady Katakura, be safe on your trip!” said one of the maid that sent us off.

“Thank you. Same for all of you” Kojuro giving all the retainer final smile before helping to put me up on his horse back and then place himself behind me.

“So we are going to a trip. Finally” I let out a happy smile when our horse accross the grass field outside the town castle.

Kojuro hugged my waist and place a kiss on my cheek “Iam exciting either milady”

“You should stop calling me that! Iam not Lady Date anymore. Iam your wife! “I scold him.

Kojuro smiles, his handsome face form a sneer that made him sexier.

“Yes you are. But I have to remind myself how grateful Iam that Lord Masamune allow me to marry his precious sister” he whispers in my ear. Sent shivers down my spine.

I covered my ear “Gah! ”

Kojuro chuckles. I narrowing my eyes “You do that in purpose dont you? ”

“Yes of course. We never do it again for… A week? ”

I rolled my eyes “I can believe your stamina. You take me roughly just yesterday! ”

Kojuro shown his sexy smirk “Oh is that mean we cant do that once we get the first inn tonight? ”

Continue reading

Broken Hearts of Ikesen: Masamune Date

by: PrincessPhoe
Genre: Romance, Comedy, Drama
Rating: 7+
===
Hai, aku Haruka.
Hari ini aku sebaal sekali. Karena ketahuan membolos tugas piket, aku jadi disuruh mengumpulkan tugas makalah PKK sendirian. Yang membuatku sebal adalah: kenapa harus aku sendiri yang mengumpulkan tugas ini sendiri? Padahal kata Hikari, teman sebangkuku kemarin sabtu hanya ada empat dari enam siswa yang menjalankan tugas piket. Siapa sih dia? Merepotkanku saja, huh!
Tapi berlama-lama jengkel tidak baik untuk kesehatan kulitku. Maka kuambil sisi positifnya saja. kumanfaatkan kesempatan keluar kelas ini untuk mencari angin setelah selama dua jam yang lalu Oda Sensei mengadakan kuis dadakan. Aku lega semua ini sudah selesai.
Akhirnya sampai juga di dapur. Tidak biasanya pintu dapur ditutup. Setelah kuketuk pintu dapur, beberapa lama kemudian Masamune Sensei membukakan pintu untukku.

Permisi, Sensei, saya datang untuk mengantar tugas makalah,” kataku singkat.

Oh, baiklah. Ayo masuk,” sapanya dengan senyum ramahnya. Ia mengambil sebagian tugas yang kubawa dari tanganku. “Kau sendirian?”
Aku hanya mengangguk tanda mengiyakan. Dari balik tumpukan tugas aku melihat Sasuke Sensei sedang duduk di depan meja dengan tiga buah cangkir. Di belakangnya ada Tokugawa Sensei sedang bersandar di dinding dekat lemari. Kedua tangannya disilangkan di belakang kepalanya. Tulang belakangku langsung menegang. Waduh, gawat. Bagaimana kalau nanti aku disidang karena aku membolos tugas piket?!

Hai, Haruka, sendirian saja?” sapa Sasuke Sensei saat aku hendak melewatinya.

Ah, i-iya Sensei. saya hanya sendirian. Emm.. permisi.” Jawabku saat melewatinya. Aku menghindari pandangan matanya agar tidak mengobrol lebih lama. Aku malas kalau ditanyai macam-macam. Segera kuikuti Masamune Sensei menuju lemari yang kelihatannya sudah tua. Selain tua, lemari itu juga sangat tinggi, bahkan melebihi tinggi badan Masamune Sensei.

Continue reading

Aside

Given Bride

Part 1

The Given Bride

Hinata’s POV
Tokyo Kasuragi Hospital
“Dokter Hinata” panggil Dokter Irie saat aku melangkah di koridor.
“Yes dokter Irie?”
“Seorang di ICU 1 menunggumu untuk tindakan”
Aku mengernyit. ICU 1 bangsal khusus itu…
“Tidak bisakah kau menggantikanku?” tanyaku.
“Maaf Hinata tapi dia meminta putri professor Hayashi yang merawatnya”
Thats it. Itulah kenapa aku membenci orang orang yang berada di bangsal itu!
Mereka, para mafia itu selalu seenaknya meminta ini dan itu.
“Screw it then” aku mengambil file di tangan Irie. Meminta suster Tomoka mendampingiku.
“Well whose the bad guy now… Asami Ryuichi, well shot at the main artheries on his leg… ” aku membaca singkat riwayatnya.
Beberapa kali tertembak dan kritis dalam perawatan mendiang ayahku.
Such a really bad guy.
“Apa kau baru saja mengatakan namanya Asami Ryuichi, dokter?” tanya Tomoka tiba tiba.
“Guess so… ” sahutku tak mengerti.
“Oh astaga those smexy kingpin of Japan Asami Ryuichi! Aku tak percaya ini!” Tomoka mendadak heboh dan membuatku mengernyit.
“And?”
Tomoka menatapku seperti aku ini fosil purbakala.
“Jesus Dokter Hinata kau tak mengenalnya? Dia adalah salah satu yang paling berkuasa di kalangan itu. Dia tampan, dia handsome, dia sexy, dia hot!” seru Tomoka.
“Well kau tak perlu mengatakan itu berkali kali” aku menyeringai.
“Oh jangan katakan kau tidak tertarik”
“Memang tidak. Dan aku tak mengenal Asami siapalah ini” sahutku sambil membuka pintu.
Bertatapan langsung dengan seseorang yang duduk di sofa.
Dari deskripsi Tomoka kurasa dialah Asami Ryuichi.
He is quite handsome. No he is deadly handsome. With his well toned muscular body. Yes he is so damned hot.
“Who you are?” tanyanya dengan tone suara berat dan dalam.
Aku segera tersadarkan “Iam your doctor” sahutku dan berjalan ke wastafel. Membilas tanganku dan memakai gloves.
“Kau adalah putri Hayashi?”
Aku mengangguk dan memintanya duduk di ranjang.
“No. Lets do that here”
Aku mulai kehilangan kesabaranku.
“Dengar sir, kakimu adalah hal yang akan kuperiksa dan obat. Kalau kau duduk disana kau akan membuatku kesulitan memeriksa dan melakukan tindakan pada lukamu. Selain itu pada posisi itu aku mungkin saja akan salah memotong arterimu dan kau akan mati dalam beberapa jam karena kehabisan darah” aku melirik jam tanganku kasual.
Dan menatapnya. Sepasang matanya benar benar dingin dan brutal.
Seulas smirk muncul dibibirnya.
“I wouldnt doubt that you are his daughter” sahutnya dan berjalan tertatih ke ranjang periksa.
“Whatever you say?” tanyaku sarkas.
“Youre so damn bold. I like it” aku mendengar Tomoka menahan nafas mendengarnya.
Aku memutar bolamata dan mengenakan maskerku.
“And so damn beautiful” lanjutnya.
Aku merobek celananya. Dan memeriksa lukanya.
Arterinya nyaris terkena tembakan itu tapi untung meleset. Aku menerapkan anestesi dan membuka wilayah luka untuk mencabut pelurunya.
“You have devil’s luck” ujarku sambil meletakkan peluru diatas nampan besi yang dibawa Tomoka.
“Be careful. I dont want you mistakenly cut something near” ujarnya membuat tanganku berhenti sesaat.
Lalu menengadah menatapnya “Oh I will considering about that so I couod cut those pridefull face of yours” sindirku.
Ia menatapku terkejut “Miss.. Do you know who you are talking to?”
Aku menjahit lukanya “My patient”
“Dan kau tahu siapa pasienmu itu”
Aku memutus benang penjahitku.
“Kau tertembak beberapa kali dan beberapa fatal, melakukan pemeriksaan infeksi seks menular dan cek darah secara berkala, memiliki riwayat darah tinggi dan kau menjadi pasienku pertama kali pagi ini” jelasku.
Membalut lukanya.
“Thats all I need to know about you mr Asami Ryuichi. Other than that… I dont even fucking care” tukasku.
Mengembalikan semua peralatan pada Tomoka dan melepaskan sarung tanganku.
“Aku akan meresepkan anti infeksi dan painkiller. Dan kembalilah dua hari lagi agar dapat kulihat perkembangannya” sahutku lagi dan mencatat di patient recordku usai disenfiktikasi tanganku.
“Have a nice day mr Asami” sambungku dan beranjak.
“Sure. We will met again doctor Hinata” serunya membuatku memutar bolamata.
Aku harus mempersiapkan operasi besarku berikutnya dan pria menyebalkan itu telah membuang waktuku!

“What exactly do you want?!” aku menghambur marah ke ruangan itu.
Asami Ryuichi meminta satu ruangan vvip untuk beristirahat selama dua hari kedepan.
Dan ia memanggilku untuk memeriksa lukanya sekarang juga tepat saat aku usai melakukan operasi besarku!
Asami menurunkan bacaannya “Oh youre here already”
“That was you requested me to come immediately!” geramku.
Asami menarik sebelah bibir “Benar. Aku ingin kau memeriksa lukaku karena rasanya sedikit ngilu”
Aku menarik nafas “Aku tak mengerti. Kau tertembak dipahamu tapi mengalami kerusakan di otakmu? Berapa kali kau sudah pernah tertembak? Bukankah rasa ngilu itu adalah efek biasa setelah painkiller memudar. Kau bisa mengambil dosis painkillermu berikutnya!” jelasku.
Asami menatapku dan tertawa lalu menarik tanganku hingga aku hilang keseimbangan dan jatuh diranjangnya.
“Youre as pretty as your mother” ucapnya yang merangkak diatasku.
“But youre as brave as warrior” sambungnya.
“You should be mine soon”
Dan aku menendang perutnya sebagai jawaban.
Ia terjajar mundur. “Iam about to assigning you to asylum!”
Asami menatapku dingin. Meraih tanganku dan mendorongku hingga menabrak dinding.
“You made me crazy over you Hinata” ia menciumku. Menahanku dengan kekuatannya.
Dan aku tak bisa melawannya lagi kali ini.
Plakkk! Setelah mendapatkan kesadaranku, aku menamparnya. Cukup keras hingga ber echo ke sekeliling ruangan.
“Asami san apa kau baik baik saja?” tanya satu dari pengawalnya diluar sana.
“Im okay. I was just need to tame this gorgeous woman”
“Like hell you could!” aku mendorongnya dan bergegas keluar ruangan.
Terdengar tawa dibelakangku.
“You will be mine doctor” serunya.
Aku mengabaikannya.

“Hinata kau baik baik saja?” tanya Irie saat aku berjalan di koridor dengan gusar.
“Aku tidak akan mengurus pasien itu lagi!” tukasku.
“Asami Ryuichi?”
Aku mengangguk.
“Aku khawatir kau tak bisa melakukan itu. Dia adalah pemilik saham terbesar rumah sakit ini selain ayahmu Hinata” sahut Irie.
“Aku tak peduli”
“Kau tahu pengaruhnya? Dia bisa membuatmu kehilangan segalanya”
“Geez Doctor Irie. Apa kau dibayar oleh mereka sampai mengatakan ini padaku?” sindirku.
Irie menatapku simpatik.
“Tenangkan dirimu Hinata” ia menyentuh bahuku.
“Kau akan bisa menghadapinya. Hanya dua hari ini saja dan kau mungkin tak akan bertemu dengannya lagi. Kau tak akan membiarkan siapapun mengalahkanmu kan? Bahkan Asami Ryuichi” tuturnya sambil menunduk dan mensejajarkan tatapan kami.
Jika saja Irie tidak mengenalku sejak kecil, aku pasti tidak akan mendengarkan kata katanya itu.
Tapi dia benar. Aku tidak akan dikalahkan semudah itu. Bahkan tidak oleh Asami Ryuichi!

“Lukamu tidak menunjukkan adanya infeksi atau perdarahan ulang. Tubuhmu juga tidak mengalami efek infeksi jadi kurasa kau sudah diizinkan pulang” ujarku dua hari berikutnya setelah mengganti perban pada luka Asami.
Ia bangkit dan berjalan ke jendela. Memandang kejauhan.
Oh tumben dia tidak mengatakan sesuatu yang menyebalkan?
Aku memandanginya. Memandangi tato besar di hampir tujuh puluh persen punggung kekarnya.
He really has shitfuck body.
“Hayashi… Kenapa dia meninggal?”
Pertanyaan yang diluar dugaanku.
“Dia mengalami kecelakaan” sahutku bingung.
“Apa kau melakukan autopsi”
“Mengapa aku harus melakukan itu?! Membedah jenazah ayahku sendiri?” aku merasakan suaraku tercekat ditenggorokan.
Asami berbalik dan meraihku.
Aku menahannya “I dont need any hug! Iam okay!” tegasku.
Kami bertatapan.
“Aku… Akan membuat Hayashi tenang di surga setelah aku memastikan sesuatu” ujarnya sejurus. Sambil menyentuh wajahku.
Tangannya yang terlihat besar dan kuat, sentuhannya ternyata sangat lembut dan hati hati.
Aku terdiam. Pada apapun yang dikatakannya.

Part 2

One Night Forever Fate

Sabtu malam
Hinata memasuki night club eksklusif di kawasan Omotesando bersama Tomoka dan Ayame, dua teman karibnya sejak di SMU.
Mereka menuju tribun vip dan memesan beberapa botol minuman.
“So, how is work?” tanya Tomoka yang berprofesi sebagai arsitek.
“Same as always. Tidak ada yang menarik” sahut Ayame yang berprofesi sebagai karyawan di sebuah agensi periklanan.
Keduanya menoleh pada Hinata. Teman sekolah mereka yang sejak SMU menjadi primadona sekolah, putri salah satu ahli bedah jantung terbaik di dunia Prof Hayashi Kasuragi.
“Sepertinya hidupmu lebih menarik Hina” tanya Tomoka.
Hinata menandaskan slot red labelnya.
“Ne. Minggu ini benar benar menyebalkan. Ada seorang pasien yang benar benar menyebalkan” sahutnya.
“Apa dia pria? Tampan?” tanya Ayame.
“Astaga Ayame itukah yang selalu kau pikirkan?”
Ayame terkikik mendengar sahutan tajam Hinata.
“Well dia tampan tapi dia sangat intimidatif dan menyebalkan”
Kedua temannya ber oooh.
“What?”
“Pria yang berkuasa kurasa?”
Hinata mengangguk “Asami Ryuichi” ia sebenarnya dilarang memberitahu siapapun pasien di bangsal ICU 1. Tapi kedua sahabatnya telah lama mengenalnya.
“My God! Asami Ryuichi? Kingpin of Japan?!” Ayame membekap mulutnya seketika. Sadar bahwa menyebutkan namanya akan membuat semua orang penasaran dengan percakapan mereka.
“Yeah right” sahut Hinata acuh dan kembali menenggak shotnya.
“Astaga Hinata semua orang tahu siapa dia! Dan banyak wanita bermimpi hanya untuk bisa bertemu dengannya!” lanjut Ayame.
“Kecuali aku” Hinata mengangkat tangannya kasual dan terkekeh.
Kedua sahabatnya meliriknya “Yah aku lupa kalau seleramu tentang pria agak eksentrik” sahut Tomoka.
“Hey! I have taste girls!”
Kedua sahabatnya terkekeh “Yeah kecuali dokter Sezaki. Well he is damn hot. Tapi kalian berdua terlibat dalam hal yang sama bertahun tahun” sahut Tomoka.
“What?”
“Friendzoned” sahut Tomoka dan Ayame bersamaan.
Membuat Hinata cemberut “You suck girls!” tukasnya dan bangkit.
“Kau mau kemana?”
“Berdansa tentu saja. This was my only day off, why dont you guys having fun” sahutnya diikuti kedua sahabatnya.

Musik techno berdentum. Membuat tubuh tubuh di lantai dansa bergoyang. Sebagian mabuk. Sebagian masih cukup sadar untuk berburu. Mencari pasangan.
Beberapa pasang mata pria melirik satu poros.
Hinata yang asyik menari tanpa peduli sekitarnya.
Alkohol telah mempengaruhinya. Menjadikannya sasaran empuk bagi mata mata keranjang.
Duorang pria saling bertukar kode dan menghampirinya.
Namun berhenti seketika saat melihat seorang pria tinggi besar memeluk Hinata dari belakang.
Pria itu menoleh dan membuat keduanya terbelalak. Mereka adalah orang yang mengetahui siapa pria bersorot mata intimidatif itu.
“A.. Asami Ryuichi” gumam salah satunya.
Dan sesegera mungkin mengurungkan niatnya menggoda Hinata.
“Oh” Hinata memekik menyadari seseorang memeluknya.
“Apa yang dilakukan seekor kelinci putih cantik di sarang serigala” bisik pria dibelakangnya.
Hinata menyipitkan matanya “Aku bukan kelinci. Dan kau juga bukan serigala” sahutnya.
“Kita lihat itu nanti” Asami memutar pinggang ramping Hinata.
“Oh rupanya kau” ujar Hinata dengan pandangan tidak fokus.
“Glad you remember me”
“Jerk like you is not easy to forget” sahut Hinata dan terhuyung.
Asami meraihnya dan menahan tubuhnya.
“Ill take that as compliment” Asami melingkarkan lengan gadis itu ke lehernya.
Membawanya menari.
“Mm.. You smells so good” gumam Hinata yang bersandar di dada bidang Asami.
Asami terkekeh “So does you” ia meraih dagu Hinata dan mencium bibir yang begitu menggodanya itu.
Tidak seperti waktu itu, Hinata menerima ciumannya kali ini.
Ia bahkan memberi Asami akses mengait lidahnya dengan membuka mulutnya.
Asami menurunkan tangannya ke bokong seksi Hinata dan meremasnya.
Hinata terkejut sesaat tapi tidak melepaskan ciumannya.
“Lets go somewhere private” bisiknya setelah akhirnya mengakhiri ciuman mereka.
Hinata menatapnya “O.. Kay” jawabnya dengan suara rendah yang membuat Asami tak bisa lagi mengekang iblis didalam dirinya.

Sakamoto dan beberapa pengawal terdekat Asami berjaga didepan president suite Hotel bintang lima berlian di Tokyo itu.
Sementara Asami membopong Hinata ke dalam.
Mereka kembali berciuman begitu pintu tertutup.
Hingga Asami mendorong Hinata ke ranjang king size ditengah ruangan.
“Youre impressive” gumam Asami sambil melepaskan dasinya dan mengikat kedua lengan Hinata.
Hinata tertawa mabuk “Oh sadistic are you?”
Asami menyeringai feral.
“Im not” Asami mengecup leher Hinata yang melengkung karenanya.
“Iam dominant” lanjutnya ditelinga Hinata. Merasakan gadis itu merinding.
Asami melucuti gaun Hinata dan memandangi tubuh polos didepannya takjub.
“Youre hiding goddess figure behind your white coat, doctor” pujinya seduktif dan membelai dada Hinata. Yang cukup besar dan fit ditangannya. Menjepit putingnya dengan dua jari hingga Hinata kembali melengkungkan punggungnya.
Dan gadis itu lalu meraih kemeja Asami.
“Lets see what youre hiding behind your shirt” ujarnya dengan senyum seksi.
Asami tak menunggu. Ia merobek kemejanya dan melemparkannya entah kemana.
Dan Hinata terbelalak memandanginya.
“Like what you see doctor?” tanyanya sambil tersenyum devilish.
“Wow… Oh wow!” cetus Hinata membuatnya tersanjung.
Ryuichi meninggalkan bekas bekas merah dibeberapa bagian tubuh Hinata sebelum mempermainkan jarinya pada klitoris Hinata.
Hinata tertawa kegelian saat Ryuichi meninggalkan kissmark di bawah payudaranya.
“Just in case you didnt remember me tomorrow…”Asami merayap ke wajah Hinata.
“I know territory that I have marked” sambungnya dan kembali mencium Hinata.
Sementara jarinya menyusul ke celah kewanitaan Hinata yang begitu ketat menahannya.
“Shit youre so tight” umpatnya. Dan menggerakkan jarinya lagi.
“Ahh.. No… ” desah Hinata membuatnya semakin tercekat gairahnya.
Asami menggali sambil memeriksa ekspresi Hinata. Menemukan titik yang dicarinya saat Hinata menggelinjang dan memejamkan matanya.
“There you are darling” ujarnya sambil tersenyum devilish. Menggerakan jarinya keluar masuk dengan menyentuh titik yang sama.
“Ahh.. Ahhh… Noo… “Hinata benar benar sudah nyaris kehilangan akal sehatnya.
Sentuhan Asami pada titik terpanasnya membuatnya melupakan segalanya.
“Oh yes darling… Come for me” bisik Asami seduktif.
Hinata menggerakkan kepalanya liar ke kiri dan ke kanan. Lalu memeluk leher kokoh Asami saat klimaks mencapainya.
Tubuhnya gemetar. Cairan mengalir dari kewanitaannya.
Asami mencabut jarinya dan menjilatnya.
“Youre tastes so sweet”
“Oh shut up” desis Hinata yang terengah engah.
Asami bangkit dan menempatkan dirinya diantara paha Hinata.
Melepaskan sabuk dan celananya.
“Have you done it before?” ia bertanya.
“Yes. Once.”
Ia menggeram mendengar pengakuan Hinata. Mengutuk siapapun yang telah menjamah Hinata sebelum dirinya.
“I would made you forgotten him completely tonight” tuturnya gusar dan merayap kembali ke atas tubuh Hinata.
“Oh fuck wait!” Hinata menahannya.
“No” Asami menggerakkan ujung kejantanannya ke titik sensitif Hinata.
“Ahh that was… So big”
Asami terkekeh “Dont worry. Baby can get out of there”
“How could you bring that thing up now!” protes Hinata membuatnya kembali tertawa.
“Now quiet you sexy little cunt. And feels me inside you” tuturnya dan mencium Hinata.
Gadis itu menggigit bibirnya. Mungkin merasakan perih yang menerobosnya.
Tapi Asami tidak mundur dan terus memasukinya.
Memaki beberapa kali merasakan Hinata meremasnya.
“Oh shit… That was very long” desis Hinata dengan ekspresi antara kesakitan dan nikmat.
“It isnt completely inside..ngh!” Asami mendorong lagi dengan sekali hentakan
Membuat Hinata nyaris berteriak.
“Oh… It will ripped!”
Asami menatap Hinata setelah membenamkan dirinya sepenuhnya. Menarik nafas panjang.
“Are you always this talkative while spreading your legs?” selorohnya.
Hinata menatapnya judes “Im not whore”
“I know you aren’t”
Asami melepaskan ikatan dilengan Hinata. Mengait jari mereka dan mulai bergerak.
“Oh no no dont move just yet!”
Walaupun iblis dalam dirinya sudah meraung raung tapi Asami menunggu atas permintaan Hinata.
Ia meraba klitoris Hinata dan payudaranya. Membuat gadis itu sedikit relaks.
Dan ia kemudian mulai bergerak.
Tangisan manis Hinata menjadi backsoundnya. Ekspresi seksinya menjadi candunya.
Asami sadar ia tak membutuhkan candu apapun lagi setelah ini. Ia telah menemukannya.

Setelah Hinata mencapai klimaks sampai kelima kalinya, tubuh gadis itu terlihat sudah sangat lelah. Mereka berganti posisi beberapa kali dan Asami belum menyelesaikan bagiannya.
“Oh no.. I cant take it anymore!” tutur Hinata dengan suara lemah.
“Just a little bit more” pinta Asami dan mempercepat gerakan pinggulnya.
“Ohh ahhh… I….Im gonna cum again!” Hinata meremas sprei disekitarnya.
“Wait for me” desis Asami sambil mempercepat tusukannya.
Menengadah dan memejamkan matanya beberapa kali tapi kembali menatap Hinata. Begitu enggan melewatkan pemandangan erotis dihadapannya.
Hinata mendesah panjang mencapai klimaksnya lagi. Tepat sesaat sebelum Asami. Ia menarik pinggang gadis itu dan menghentaknya.
Melepaskan klimaksnya.
Mereka terengah engah dan saling berpandangan.
“Im cumming inside you” tutur Asami dengan senyum devilish.
Hinata menatapnya lemah “You jerk… Asami you bastard… “lalu terdengar dengkuran halusnya.
Asami terbelalak dan tertawa karenanya. Ia melepaskan dirinya dari Hinata. Memandang puas cairan putihnya yang mengalir keluar dari kewanitaan Hinata.
“You dont even wait me to do afterplay Hinata” gumamnya dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik Hinata.
“Its okay then. We have a very long life and night to do it later. Once you become mine” bisiknya dan mengecup dahi Hinata.

Part 3

Waking Up Beside You

Hinata’s PoV.
“Uh” aku memegangi kepalaku yang rasanya bagai diduduki seekor gajah warna ungu.
Membuka mataku karena sinar matahari menerpa.
“Good morning sunshine”
Aku terbelalak mendengar suara itu.
Melihat seraut wajah luar biasa tampan bersorot mata tajam dan… Brutal.
“Jesus Christ!!” pekikku saking terkejutnya.
Bangkit duduk dan selimut yang menutupi dadaku tersingkap.
“What the hell happen… ”
“As I thought you dont remember” ujar Asami dan meraih bahuku menghadapnya.
“Should I replay it to made you rememorize?” ia merebahkanku dan merangkak ke atasku.
Aku mendorongnya “Get the fuck off me!” tukasku.
Asami menyeringai dan turun dari atasku. Duduk disampingku.
“Youre lying arent you?” aku menyipitkan mataku.
“Im upset you dont really remember our passionate night”
“Shut up you bastard!” aku bangkit berdiri dan merasakan nyeri diantara pahaku.
“Owww”
Asami meraihku dan membawaku kembali ke ranjang.
“I was too rough last night” ia menatapku conflicted. Antara merasa bersalah dan bangga.
Aku mencoba mencerna segalanya. Mengingat malam di club. Lalu aku jatuh ke pelukan Asami…
Dan kami berciuman di club.
“Lets go somewhere private” bisiknya. “O… Kay” jawabku. Lalu kilas balik sampai ke sebuah pintu mahogany yang menuju ruangan hotel.
Ya ruangan ini…
Kami berciuman kembali di ranjang lalu… Tidak hanya Asami yang menggodaku. AKU juga membalas godaannya!
“Damnit… “desisku begitu saja.
Membuat Asami tertawa.
Aku menoleh gusar.
“Itu reaksi yang tidak pernah kudapat dari wanita yang melewatkan malam bersamaku”
Aku memutar bolamataku “Oh speaking of witch…kau benar. Itu hanya semalam bersamamu. I will pretending that as one night stand” tuturku sejurus. Lebih pada meyakinkan diriku sendiri. Lalu bangkit berdiri kembali dan menahan nyeri diantara pahaku.
“What?” Asami ikut bangkit berdiri dan membuatku terbelalak.
“Oh hell pakai pakaianmu dulu bisakah?!” protesku.
Ia bersidekap dan membuatku kini menatap bisepnya yang kian menggembung.
Oh control yourself Hinata!
“What to be ashame of? Kau sudah melihatnya semalam. Memuji bahwa aku begitu perkasa”
“Gah hentikan!” aku menutup telingaku dan meraih gaunku.
Mengenakannya di kamar mandi sambil berkali kali mengatakan pada diriku bahwa aku akan segera melupakan kegilaan semalam.
Saat keluar dari kamar mandi, aku memasang wajah sedingin mungkin.
“Kau akan pergi”
“Tentu saja. Aku harus pulang dan bekerja” sahutku dingin.
“Yes but we will met again shortly”
“We are not”
Asami tiba tiba meraih pinggangku. Membuatku menabrak dadanya.
“Kita akan bertemu lagi. Dont you dare to avoid me”
Aku menantang matanya yang begitu intimidatif itu.
“Aku tak ingin bertemu denganmu lagi. Dan aku berharap tak pernah bertemu denganmu lagi” tegasku.
Asami meraih leherku. Menunduk dan menciumnya.
Aku meronta tapi tenagaku tak sebanding dengannya.
“You belong to me Hinata. You will always flying back to me” tuturnya dengan tone suaranya yang berat dan dalam. Membuatku merinding.
Ia melepaskanku dan aku segera menyambar tasku.
“See you again darling!” seru Asami sebelum aku membanting pintu.

“Dokter Hinata! Kita butuh bantuan di ER” seru Sezaki saat aku sampai dirumah sakit.
“Baik” sahutku sigap dan mengenakan maskerku.
“Jelaskan” pintaku sambil kami berjalan ke ER.
“Kasus penembakan diclub. Kelima orang ini ditemukan sekarat di parkiran club. Diterjang beberapa peluru ditubuhnya” jelas Sezaki.
“Geez siapa yang melakukannya”
“Kurasa itu bukan urusan kita”
Aku melirik Sezaki dan tersenyum “Hell yeah”
Kami sampai di ER yang begitu sibuk.
Terlihat beberapa dokter muda turun tangan karena para dokter senior sedang ada jadwal OR hari ini.
“Dokter Kobayashi… Hemorrhage. Tanda vital terus menurun” ujar seorang perawat pada seorang dokter yang dari seragamnya dapat kukenali sebagai resident.
Ia terlihat panik dan tak tahu harus berbuat apa sesaat.
Aku menepuk bahunya.
“Step aside”
Kobayashi menoleh dan menunduk memberiku tempat. Aku memeriksa keadaan pasien dan menemukan penyebab pendarahannya. Menjepitnya dan menutupnya.
“Dokter Kasuragi, denyut jantung melemah… Dan hilang” lapor perawat didepanku.
“Deffibrilator 300 joule” pintaku.
Perawat lain mempersiapkan alat yang kuminta.
Aku memutarnya sesaat dan menempelkan didada pasien.
Memeriksa layar…denyut jantungnya kembali.
Aku meletakan defibrillator dan kembali pada luka terbukanya yang fatal.
“Dokter Kobayashi assist me” pintaku. Kobayashi nampak terkejut sampai aku harus menatapnya.
“Hai” sahutnya dan berdiri disebelahku.
Aku berpindah dari satu pasien ke pasien berikutnya bergantian dengan Sezaki sampai keadaan menjadi terkendali dan semua pasien terkontrol.

“Dokter Kasuragi!” panggil seseorang setelah aku keluar dari ER dan bersiap untuk round pertamaku.
Yang memanggilku adalah Kobayashi.
Ia menurunkan maskernya. He is quite handsome guy.
“Ya?”
“Terimakasih untuk hari ini” ucapnya sambil menjajari langkahku.
Aku mengangkat alis dan tersenyum “Operasi pertamamu?”
Kobayashi mengangguk.
“No wonder”
“Maaf aku begitu memalukan tadi”
Aku berhenti dan menghadapnya “Selalu ada saat pertama dalam segala hal. Kau cukup bagus tadi dan aku… Tidak bisa membiarkanmu kehilangan pasien pertamamu yang akan mempengaruhi jalanmu kelak” sahutku.
Kobayashi menatapku. Entah berarti takjub atau yang lainnya.
“Keep nailing it. Someday you will be someone hero” tuturku lagi dan menepuk lengannya.
He is well muscled.
Kobayashi tertegun. Lalu saat aku sudah berjalan beberapa langkah ia memanggilku.
“Terimakasih Dokter Kasuragi! Aku akan ingat itu”
Aku menoleh dan tersenyum.
“Kalau tidak keberatan… Maukah makan siang bersamaku dikantin?”
Wow… He is fast.
“Maaf dokter Kobayashi tapi dokte Kasuragi sudah janji makan siang denganku” Sezaki menginterupsi entah darimana.
“Aah baiklah. Selamat siang” pamit Kobayashi sambil tersenyum.
Aku melirik Sezaki disebelahku.
“Apa itu tadi?”
Ia menatapku pura pura bodoh.
“Apa?”
“Kapan aku janjian makan siang denganmu?”
Sezaki tertawa dan merangkul bahuku “Sekarang. Aku hanya tidak tahan melihat penggemar barumu itu begitu cute. Aku tak rela kau makan siang dengannya”
Aku meninju perutnya yang aku tahu kotak kotak dan keras.
“Such a yandere” gumamku dan tertawa.

“Ah Tomoka menelponku semalam bertanya apakah kau bersamaku”
Aku nyaris tersedak mendengar pernyataan Sezaki.
“Kemana kau pergi semalam gadis nakal?” Sezaki mengucapkan itu dengan bercanda. Tapi aku merasakan iritasi dalam suaranya.
“aahh… Itu aku bertemu seorang teman lama sewaktu di Amerika dan kami melanjutkan untuk supper” jawabku berusaha se natural mungkin.
“Benarkah? Mengapa kau tak mengabari Tomoka dan Aya?”
“Aku lupa… Karena terlalu asyik mengobrol” jawabku lagi.
Sezaki memandangiku. Menganalisaku.
“Oh syukurlah. Aku tidak bisa tidur karena berpikir kau diculik kawanan Yakuza semalam”
Uhukkk!
Aku tertawa salah tingkah “Mengapa kau bisa berimajinasi seperti itu?” tanyaku usai meneguk air.
Sezaki tertawa “Aku tahu itu berlebihan. Hanya saja club yang kau datangi semalam adalah club yang sama dengan lokasi ditemukannya lima pemuda itu”
Aku ternganga “Benarkah?”
Sezaki mengangguk.
“Dan menurut Tomoka beberapa orang bergosip bahwa mereka melihat kawanan Yakuza memasuki club”
Oh… Itu pasti Asami dan anak buahnya.
Aku terhenyak. Lalu berusaha mengingat wajah para pemuda itu…
Mereka… Adalah orang yang sempat mengepungku semalam namun pergi setelah kemunculan Asami.
Glek!

Part 4

You Are Monster

His PoV
“Asami san, nona Kasuragi datang”
Aku tersenyum mendengar ucapan Sakamoto.
“Suruh dia masuk” sahutku dan meraih montblanc ku lalu kembali menekuni dokumenku.
“Asami”
Aku menatapnya dan tersenyum “Kau datang padaku lebih cepat dari perkiraan” sahutku.
Ia memutar bolamata cantiknya.
“Dont get it wrong! Ada yang ingin kutanyakan padamu” sahutnya tajam. Membuatku berpikir mengapa suara semerdu genta itu harus mengucapkan kalimat berintonasi setinggi itu.
“Go ahead” jawabku dan kembali menandatangani dokumenku.
“Apa kau… Yang menembak lima pemuda itu?”
Aku menyeringai.
“Tidak”
“Oh aku akan ganti pertanyaannya. Apa kau yang memerintahkan anak buahmu menembak mereka?”
Aku tersenyum. Such a beauty with brain.
“Ya”
“For devil’s sake Asami! Mengapa kau harus melakukan itu?!”
Aku meletakkan penaku. Mengambil Dunhill di laci dan memantiknya.
“Aku hanya memberi mereka pelajaran”
“Apa? Kau nyaris membunuh mereka semua!” Hinata terlihat marah. Oh andai ia tahu apa yang lima pemuda itu rencanakan.
“Apakah mereka mati?”
Hinata menatapku tak percaya “You… Are monster Asami Ryuichi”
Aku bangkit dan berjalan ke hadapannya.
“Iam” sahutku.
Hinata menyipitkan matanya. Sarat kebencian. Entah kenapa aku tak suka melihatnya.
“Aku benar benar berharap aku tak mengenalmu!” ucapannya itu benar benar menyentuh batasku.
Aku meraihnya dan menarik tangannya. Mengambil sebuah kaset video dari laci dan memasukkannya dalam player. Layar plasma diruanganku menampilkan rekaman cctv.
Dari lima pemuda itu yang merencanakan sesuatu yang sangat buruk pada Hinata.
“Injeksikan ini pada gadis itu. Ia akan memohon untuk kita menggilirnya bersamaan” ujar salah satunya. Dia yang nyaris saja ingin kubunuh dengan tanganku sendiri.
Lalu ucapan ucapan tak senonoh lainnya yang membuatku memutuskan menghentikan rekaman. Hinata jatuh terduduk di sofa.
“Jika aku adalah monster, aku akan membuat mereka lenyap dari muka bumi ini tanpa siapapun mampu menemukan mereka” sahutku sejurus.
Hinata membekap bibir mungilnya yang menarik.
Oh stop it beast! Ini bukan waktunya melepaskan diri!
Aku meraih kepalanya. Dan memeluknya.
Ia tidak menolakku. Tapi juga tidak balas memelukku.
“Maaf, aku tak bisa mengizinkan siapapun melakukan atau berencana melakukan sesuatu yang buruk padamu” tuturku ditelinganya.
Hinata melepaskan diri “Oh terimakasih. Tapi kau tak perlu melakukannya lagi”
Aku mengernyit melihat kegigihan disepasang matanya.
“Aku bersungguh sungguh. Kau tak perlu melibatkan dirimu dalam urusanku lagi. Aku bisa melindungi diriku sendiri” tegasnya.
Mengambil tasnya dan beranjak “Selamat siang Asami” tuturnya dan segera menghilang dibalik pintu.
Aku menatapnya shock sesaat.
“Asami san apa kami harus mencegahnya pergi?” tanya Sakamoto dipintu.
Aku tertawa. Terbahak bahak.
“She left me”
“Maaf?”
“She rejecting me”
Sakamoto nampak mulai memahami kata kataku.
“Oh itu… Sangat tak biasa” ia terlihat salah tingkah.
Aku tertawa lagi “Impressive. As soon to be Mrs Asami should be” gumamku sejurus.
Tersenyum mischievous.
“Pardon?”
Aku bangkit “Dengar Sakamoto, aku ingin kau mengerahkan Suoh dan teamnya menjaga dan mengikuti Hinata tapi jangan sampai mengganggu gerak geriknya. Dan aku ingin kau melaporkan apapun padaku secara berkala” ujarku.
“Hai” Sakamoto menunduk dan segera menjalankan perintahku.
Aku kembali ke mejaku dengan senyum puas.
Melirik foto disudut mejaku.
Fotoku bersama Prof Hayashi beberapa tahun lalu.

“Aku punya seorang putri. Hinata. Dia sedang menyelesaikan spesialisasinya di Amerika. Kau tahu Ryuichi, putriku sangat cantik tapi dia sangat tomboy. Dia temperamen dan dia tidak suka melihat penindasan. Dia sering berkelahi dengan teman laki laki yang menggodanya atau sahabatnya” tutur Hayashi sambil mengarahkan tongkat ditangannya ke depan untuk membantunya berpijak.
“Dia pasti sangat menarik” sahutku.
“Tentu saja. Sekali kau bertemu dengannya kau akan tertarik padanya”
Asami tersenyum kasual. Merasa bahwa itu tidak mungkin. Tidak banyak wanita yang mampu menarik perhatiannya.
“Dia juga sangat idealis… Dia tidak ingin mewarisi bisnis rumah sakitku. Dia ingin membangun rumah sakit non profit diseluruh dunia untuk membantu mereka yang membuntuhkan” Hayashi menghisap cangklongnya. Lalu terbatuk.
“Hayashi” Asami mensupport kenalan lamanya itu. Membantunya duduk kembali.
“Aku tidak apa apa. Cepat atau lambat aku toh akan mati Ryuichi”
Asami terdiam mendengarnya.
“Tapi kau tidak boleh mati begitu cepat anak muda” ia menyentuh tangan Asami.
Asami tidak menyahut.
“Jika aku mati… Aku akan mengatur segalanya agar Hinata menjadi dokter pribadimu. Dia akan mampu merawat setiap kali kau terluka karena kenakalanmu”
“Ah.. Kau tak perlu mengkhawatirkan itu sementara kau sendiri sekarat Hayashi” sahut Asami. Tersentuh. Tidak banyak hal yang mampu membuatnya tersentuh atau terkejut. Asami telah melihat begitu banyak hal untuk mampu memberi reaksi semacam itu.
“Hayashi… Ada yang ingin kutanyakan padamu. Mengapa kau menolongku saat itu meski kau tahu siapa aku dan itu mempertaruhkan nyawamu sendiri” dalam ingatan Asami adalah suatu malam berdarah di Hokkaido. Dimana saingan beratnya Wang berhasil memisahkan Asami dari Kirishima, Suoh dan Sakamoto. Asami berhasil melumpuhkan cukup banyak orang Wang tapi mereka terlalu banyak.
Ia terkena tembakan di beberapa bagian dan terpaksa mencari tempat bersembunyi.
Ia lalu menerima uluran tangan seorang pria paruh baya saat nyaris tumbang.
“Ikut denganku anak muda” ujar pria itu yang memapahnya ke mobilnya. Dan membawanya menghindari anak buah Wang ke rumahnya yang berada di kawasan elite cukup tersembunyi.
Disanalah Hayashi melakukan tindakan operasi untuknya. Menyelamatkan nyawa Asami tanpa peduli siapa dirinya.
Suara tawa Hayashi mengembalikan Asami dari lamunannya.
“Apa kau terus berpikir tentang itu selama ini?”
Asami mengangguk. “Kau bahkan menghindari kejaran anak buah Wang saat itu dan mempertaruhkan nyawamu”
Hayashi tersenyum “Karena aku adalah seorang dokter Ryuichi”
“Hah?”
“Mungkin takdir membuatmu melintasi takdirku untuk suatu tujuan. Dan sebagai seorang dokter aku hanya ingin menyelamatkan nyawamu”
Asami terdiam mendengarnya. Memang, sejak saat itu Asami menempatkan Hayashi sebagai dokter khususnya. Ia melindungi Kasuragi Hospital dan membantu membesarkan rumah sakit itu dibalik layar.
“Hayashi… Apa yang kulakukan tak akan cukup membayar budimu padaku” ujarnya sejurus.
Hayashi menepuk bahunya “Aku tidak mengharapkan itu. Ah jika kau kelak bertemu dengan putrimu dan ia menanyakan padamu mengapa aku menyelamatkanmu, katakan padanya persis seperti yang kukatakan padamu. Karena aku adalah seorang dokter. Tugasku adalah menyelamatkan nyawa, bukan mencabutnya” tutur Hayashi.
Asami menatapnya lalu mengangguk “Hai”

Saat itu Asami tak tahu bahwa ia akan benar benar bertemu dengan Hinata Kasuragi. Dan ia juga tak tahu bahwa ia akan jatuh cinta pada pandangan pertama padanya.

Beberapa minggu kemudian.
“Asami san ini data data yang kau minta tentang kecelakan Professor Hayashi” ujar Sakamoto suatu hari.
Asami membuka filenya. Memasukkan flash disk ke macbooknya dan memeriksa segalanya.
Urat dirahang kokohnya bermunculan.
“Seseorang telah merencanakan kecelakaan itu dan saat aku memeriksa bangkai mobilnya… Aku menemukan beberapa jejak peluru ditempat yang tepat untuk meledakkan mobil itu” lanjut Sakamoto.
Asami mengepalkan tinjunya.
“Temukan siapapun yang bertanggung jawab tentang ini dan bawa mereka padaku secepatnya” ujarnya dingin.
“Hai”

Part 5

Iam Death

Beberapa mobil hitam memasuki bangunan di selatan kota Shinjuku itu. Dari salah satu mobil itu muncul Asami. Yang segera diikuti lima orang terbaiknya.
Ia berjalan memasuki lorong gelap dan menuju ke sebuah lapangan.
Dimana empat orang pria duduk terikat disebuah kursi dengan tubuh babak belur.
Kedatangan Asami membuat mereka terbelalak. Ketakutan nampak terbayang di mata mereka yang lebam.
“Jadi… Apa kalian akan mengatakan padaku alasan kalian membunuh profesor Hayashi?” tanya Asami sambil memantik Dunhil ditangannya.
“K.. kami sudah mengatakannya… Ia… Membunuh boss kami jadi kami…membalas dendam” sahut salah satu dari mereka.
Asami menyipitkan mata tajamnya “Jelaskan tentang Hayashi membunuh bossmu”
“Dia… Tidak berhasil menyelamatkan boss kami yang datang padanya dengan luka tembak… ”
Asami tertawa tiba tiba. Tapi semua orang dapat merasakan aura devilish dalam tawanya itu.
“Kirishima”
“Ya boss”
“Apa kau mengkonfirmasi semua yang dikatakan mereka adalah benar?” tanya Asami. Mengirimkan ancaman pada empat pria dihadapannya.
“Benar Asami san”
Asami menghisap rokoknya lagi.
“Hancurkan tempat dimana mereka berasal. Jangan sisakan siapapun” lanjutnya membuat empat pria itu terbelalak.
“T…tunggu Asami san! Kau boleh membunuh kami tapi jangan libatkan semua orang” sahut salah satu dari mereka.
“Apa kau memerintahku?”
“T… Tidak… Kumohon”
“Apa kau pernah mendengar aku mengampuni seseorang?”
Mereka tertunduk. Merasakan takdir kejam mereka mendekat.
“Asami Ryuichi dari Shinjuku tidak akan mengampuni siapapun” lanjut Asami.
“Kirishima. Anihilasi” sambungnya.
“Hai” Kirishima mengangkat ponselnya dan meneruskan perintah Asami.
Ia lalu memerintahkan beberapa orang membawa empat pria itu memasuki sebuah mobil yang disediakan.
“T.. Tidak… ”
“Apa kalian percaya malaikat maut itu ada?” tanya Asami sejurus.
Mereka menggelengkan kepala panik.
Sementara anak buahnya menyiram bensin ke atas mobil itu.
Asami menyeringai dan menutup pintu mobil yang kemudian diikat dengan rantai besi.
“Tidak kumohon!” jerit salah satunya.
Asami menghisap rokoknya untuk terakhir kalinya.
“Iam the death” tuturnya dan melemparkan rokoknya ke atas kap mobil yang segera terbakar api.
Jeritan terdengar dari empat orang yang terpanggang hidup hidup didalamnya.
“Kirishima bersihkan semuanya” ujar Asami setelah jeritan kematian tak terdengar lagi.
Disepasang matanya yang dingin api berkobaran terefleksikan.
Hayashi… Beristirahatlah dengan tenang. Batinnya.

“Apa?? Kau dan… ” Hinata membekap mulut Tomoka yang nyaris saja mengatakan semuanya.
“Sssh tenanglah” protesnya.
Tomoka mengangguk “Bagaimana bisa Hina? Kupikir kau benar benar pergi dengan seorang kenalanmu saat itu!” tutur Tomoka.
“Aku mabuk malam itu. Sesuatu terjadi dan dia well menolongku lalu aku bersamanya dan… “Hinata tak berani melanjutkan.
“Wow kau sangat beruntung Hina”
“Are you insane?! Aku tidur dengan pria yang kubenci dalam keadaan mabuk!” protes Hinata.
“Setidaknya dia bukan pria biasa. Dia Asami Ryuichi” goda Tomoka.
“Oh hell! Aku bicara padamu setelah akhirnya menemukan waktu luang, berharap agar kau bisa lebih baik daripada Ayame dan kau sama saja dengannya!” ia cemberut.
Tomoka terkekeh “Maafkan aku. Aku hanya begitu terkejut. Maksudku kau tak akan semudah itu tidur dengan seseorang jika kau tidak merasakan perasaan khusus padanya semabuk apapun dirimu”
Hinata menyipitkan matanya “Apa kau mencurigai aku menyukai Asami?!”
Tomoka tersenyum geli “Aku tidak mengatakan apapun tentang itu”
Wajah Hinata sesaat memerah.
“Baiklah. Lalu katakan padaku bagaimana Asami Ryuichi diranjang… Apakah dia… Hebat?”
Hinata samar mengingat malam itu. Saat Asami baru mencapai klimaksnya setelah membuat Hinata mencapai klimaksnya berkali kali.
“He is a real beast… ” Hinata membekap bibirnya yang mengucapkan itu begitu saja.
Tomoka terbelalak dan menatapnya penuh arti.
“Ahh sudahlah. Aku ingin melupakannya. Aku hanya akan menganggap itu sebagai one night stand” tukas Hinata dan menghadapi makan siangnya.
Lalu cemberut.
“Ada apa Hina?”
Hinata mendorong piringnya.
“Aku kehilangan seleraku”
“Apa? Tapi kau bilang kau tidak sarapan pagi ini dan hari ini sangat sibuk” khas Tomoka. Momma of the gank.
“Aku tidak apa apa. Aku akan makan sesuatu nanti. Okay?”
Tomoka menggeleng. Memotong daging di piringnya dan menyuapi Hinata.
“Hey aku bisa makan sendiri!”
Tomoka tidak menurunkan garpunya. Membuat Hinata terpaksa membuka mulutnya.
Dan secepat daging itu masuk ke mulutnya. Secepat itu pula ia merasakan asam lambungnya naik ke tenggorokan.
Ia membekap mulutnya dan bergegas ke toilet.
Mengeluarkan isi perutnya yang hanya air.
“Kau baik baik saja?” tanya Tomoka saat ia kembali.
“Kurasa asam lambungku naik” sahut Hinata.
“Sudah kuduga. Kau selalu melewatkan waktu makanmu karena sibuk. Itu tak baik untukmu” omel Tomoka membuat kepala Hinata pening.
“Baik baik aku akan makan dengan teratur nanti”
Tomoka menatapku “Kau janji?”
Hinata mengacungkan jari kelingkingnya dan membuat Tomoka terkikik geli.
“Sudah lama kita tidak membuat pinky promise” ia mengait kelingking Hinata dan keduanya tertawa.
Tidak menyadari beberapa orang pria mengawasi mereka.
“Boss kurasa nona Hinata kurang sehat akhir akhir ini” lapornya pada siapapun diujung telepon.
“Baik. Aku akan mempersiapkan area agar kau bisa menjemputnya”

Hinata memijit kepalanya yang semakin pening usai menyelesaikan shiftnya.
Berpamitan pada beberapa orang yang berpapasan dengannya. Dan menuju areal parkir.
Ia sedikit heran menyadari sejak tadi tak ada siapapun yang ikut masuk lift bersamanya. Padahal saat ini adalah jam berkunjung yang biasanya ramai.
Ia menyandarkan tubuhnya di dinding lift.
“Im feeling like shit… “gumamnya sambil memejamkan mata. Berharap bisa segera sampai dirumah dan tidur.
Pintu lift terbuka. Menampilkan beberapa sosok pria bersetelan jas dan dasi.
Hinata berusaha tidak menaruh curiga meskipun instingnya mengatakan sebaliknya.
Saat seseorang muncul dari sebuah limosin hitam Hinata sadar siapa orang orang itu.
Ia berjalan mundur dan bermaksud lari. Tapi sepasang kakinya menyerah karena sakit kepalanya.
“Uh!” ia terhuyung dan jatuh pada sesuatu yang bidang keras dan beraroma maskulin.
“Apa kau merasa pusing?” tanya suara yang begitu tak ingin didengarnya itu. Hinata menengadah. Berusaha melepaskan diri tapi tubuhnya begitu lemah.
Kesadarannya berangsur menghilang. Ia terkulai didalam pelukan Asami.
Asami menggendongnya sigap. Membawanya ke mobil yang segera melaju pergi.

“Ini hasil tesnya Asami san” ujar Sakamoto membawa sebuah file yang diberikan dokter yang ditunjuk Asami untuk memeriksa Hinata.
Asami membuka file itu. Dan menatap Sakamoto.
“Selamat Asami san. Kau akan menjadi seorang ayah” Sakamoto tersenyum.
Asami tak bisa menyembunyikan senyum bangga diwajahnya.
Memandangi titik kecil didalam foto sonograf ditangannya, ia tak menyadari betapa hangat sorot matanya saat itu.
Ia meletakkan file itu di meja dan kembali menatap Sakamoto.
“Apakah rumah utama dalam keadaan siap?”
“Ya boss. Pelayan membersihkan dan menjaganya secara berkala”
“Bukan itu maksudku. Apakah rumah itu layak untuk memulai sebuah keluarga?”
Sakamoto terkejut sesaat. Lalu kembali tersenyum “Tentu saja Asami san. Taman ditengahnya akan cocok untuk anak anak bermain. Anda bisa merenovasi beberapa ruangan agar cocok untuk anak anak”
Saat itu Asami mendadak membayangkan segala yang diucapkan Sakamoto dalam imajinasinya.
Sesuatu yang selama ini tak pernah terlintas dalam pikirannya mengingat kehidupannya yang sangat gelap. Sesuatu yang seperti cahaya bagi langkahnya yang hitam.
“Asami san. Nona Hinata sudah sadar” lapor seorang anak buahnya.
Asami bangkit dari kursinya.

Part 6

The Piece of Fate

Her Pov
Aku terbangun dengan kepala yang begitu berat. Dan mual yang mendesak membuatku memaksakan kakiku mencari toilet.
Aku bahkan tak menyadari ada dimana aku saat itu.
Sibuk memuntahkan lagi isi perutku yang kosong.
Sampai seseorang mensupport lenganku. Menahan dahi dan rambutku.
Oh shit. Aku tak akan membiarkan siapapun melihatku seperti ini.
Jika saja aku cukup kuat.
Aku berpegangan di lengan kekarnya yang memapahku kembali ke ranjang. “Kau!” desisku saat menyadari siapa dia.
Ah benar. Tadi aku pingsan dipelukannya.
Aku menatap berkeliling. Aku berada dalam sebuah ruangan dengan desain maskulin berdominasi warna hitam dan coklat.
“Dimana aku?” tanyaku.
“Rumahku”
“Aku ingin pulang” aku bangkit dan kembali limbung hingga ia menahan pinggangku lagi.
“Tidak”
“Apa?”
“Kau tidak akan berada jauh dariku lagi Hinata. Tidak mulai saat ini” tuturnya dengan sarat intimidasi”

“Mulai saat ini kau akan tinggal bersamaku dan kita akan menikah dalam waktu dekat”
What??
Lamaran yang sungguh tidak romantis. Oh tunggu tentu saja itu tidak bisa disebut lamaran. Karena pria ini Asami Ryuichi, bukan kekasih ataupun calon suamiku!
“I will not agreeing that!” tukasku cepat.
“That was statement not a request” sambungnya. Masih dengan gaya intimidatifnya seperti malam itu. Oh seven hells.
Just because one crazy night…
one crazy night that I will swore of to forgotten.
“I will not allowing you to escape” tuturnya lagi dengan tone lebih lembut tapi membuatku merinding.
“What?”
” I want you. And our baby that you carried inside you”
Sixty hells…
“What???”
Aku berusaha mereka ulang semua kejadian akhir akhir ini. Selera makanku yang menurun drastis. Mual mual yang selalu kurasakan. Dan yang paling fatal adalah aku melewatkan periodeku.
“Damnit” umpatku lagi membuat Asami menempelkan jarinya di bibirku.
“Dont say that Hinata. Our baby is not a curse. He or she is a bless”
Aku terkejut “Oh like hell I believing you!” tukasku.
“Bagaimana kau bisa mengatakan itu. Maksudku bagaimana kau bisa tahu sementara aku tidak?” tanyaku curiga.
Asami terkekeh “Aku terus meminta orangku mengikutimu akhir akhir ini. Dan saat mereka melaporkan kau menunjukkan gejala mengalami morning sickness akhir akhir ini, aku memutuskan menemuimu” ia mengulurkan sesuatu yang diambil dari atas mejanya.
“You what?! You bastard! Setelah kupikir hidupku kembali tenang setelah tak melihatmu akhir akhir ini ternyata kau membuntutiku?!” aku segera saja meradang mendengarnya.
“Cant help it. Bukankah sudah kukatakan kau adalah milikku”
“Aku bukan property!”
Aku membuka file ditanganku. Membaca hasil tesnya.
Memejamkan mataku seketika.
“Oh shit… ”
Asami duduk dihadapanku. Mengulurkan selembar foto sonograf.
Jariku gemetar saat mengambilnya. Melihat titik kecil disana.
“Our baby” ia mengecup pipiku.
Aku menelan ludah. Tak bisa berpikir untuk sesaat.
“No. Its my baby” ujarku sejurus.
“Kau tidak bisa membuatnya sendirian” tone suara Asami yang menggoda membuatku merinding.
“Oh itu benar. Tapi kau tidak usah khawatir kau terpaksa harus bertanggung jawab. Aku akan membesarkannya seorang diri” tegasku.
Membuat Asami mendorongku rebah diranjang. Dan mengunciku dibawah tubuh besarnya.
“Kau tak akan melakukan itu. Anakku tidak akan lahir tanpa namaku. Dan tidak akan lahir tanpa melihatku menjadi orang pertama yang menyambutnya”
Ucapan Asami mengirimkan getaran aneh dialiran darahku.
“Jadi kau sebaiknya tidak sekalipun berpikir untuk membesarkannya seorang diri karena itu tidak akan terjadi” lanjutnya.
Membuatku menelan ludah merasakan dominasinya.
Yang entah kenapa kali ini terasa manis.
“Asami kau menyakitiku”
Asami tersadar seketika telah menimpakan beban tubuhnya diatasku.
“Im sorry” ia menyentuh perutku yang masih sangat rata.
“I wont let anything hurt you. Both of you” ia menatapku.
Aku terdiam.
“Given up already? Youre so sweet”
Aku menepis tangannya yang menyentuh wajahku.
“No. Im just loosen your guard” aku menatapnya sejurus.
“Once I have chance I might runaway”
Asami tersenyum “And you wont ever see anyone in your life anymore because I wont let you leave our house”
Oke… Jika bukan Asami Ryuichi yang mengatakan itu, aku tidak akan memikirkannya.
Tapi pria ini sangat mungkin melakukan semua yang dikatakannya. “But wait. Aku ingin memastikannya sendiri. Aku ingin memeriksakan diriku sendiri” ujarku sejurus. Mencari celah sekecil apapun itu.
“Aku akan membawamu pada dokter Hanabi”
Dokter Hanabi adalah ginekolog yang cukup terkenal. Dan memiliki reputasi bagus.
“Baiklah. Jika ternyata hasil tes itu salah kau harus bersumpah untuk melepaskanku dan tidak akan mengusik hidupku lagi” ujarku sejurus.
“Oh aku tak bisa melakukan itu”
“What??”
Asami menyentuh wajahku lagi.
“Aku sudah memutuskan bahwa kau akan menjadi milikku”
“Dan aku tak punya hak menolak? Kau bahkan tak bertanya apakah aku menyukai orang lain?”
“Aku akan membunuh orang itu”
“Asami!”
Asami terkekeh “Aku sudah memastikan bahwa kau tidak punya kekasih atau siapapun”
“Oh mungkin karena kami belum berpacaran”
“Maka aku akan membunuhnya”
Aku terdiam. Merasakan aura posesifnya yang begitu kuat.
“Aku akan membuatmu mencintaiku Hinata. Aku berjanji” bisiknya dan meraih daguku. Membuatku menengadah dan ia mengecup leherku. Keras dan possesif hingga dapat kurasakan ia meninggalkan bekas merah disana.
Dan ia tersenyum puas dengan itu.
“Aku akan memperbaruinya. Setiap bekas ini menghilang. Agar semua orang tahu kau adalah milikku” ia meraih wajahku lagi dan mencium bibirku.
Aku menolaknya tapi ia menahan tubuhku.
Meraba sisi tubuhku dan menyusupkan jarinya ke bawah sana.
“Let me go you jerk!” makiku sambil merapatkan pahaku.
Asami menahan pahaku.
“Am I?”
“Sure! Only jerk forced someone to do something they dont want!” aku menahan napasku yang mulai tak beraturan.
Asami melirikku “Who doesnt want it” ia menggerakkan jarinya didalamku.
Sengaja memperdengarkan suara memalukan dari sana.
“You soaking wet just from a bit fingering”
Wajahku memerah dan kakiku menyerah.
“Ahh!” aku menahan desahanku karena sensasi yang begitu kuat.
“Come for me darling” bisiknya sambil menjilat telingaku.
“Nno!” aku menolak kekalahanku.
“Oh yes” ia menyentuh dengan sengaja titik sensitifku yang sudah diketahuinya.
“Ahh..ahh!” aku meremas bagian bahu kemejanya dan membenamkan wajahku dilehernya.
Mengumandangkan kekalahanku dengan desahan panjang.

Asami menggendongku ke walk incloset yang berujung ke kamar mandinya.
Melucuti pakaianku dan menyalakan keran shower.
Meraih sabun dan mengoleskannya ke tubuhku. Menahan tubuhku yang sedikit lemah karena orgasmeku tadi.
Saat air membilas busa sabun dari tubuhku. Aku merasakan Asami menyentuh kembali klitorisku.
Lalu menuntun tanganku berpegangan ke dinding granit. Dan menarik sedikit bokongku.
Aku tidak bisa melawannya. Tidak bisa menolaknya.
Lebih dari itu aku tak ingin menolaknya.
Aku malu pada diriku sendiri yang begitu mudah menyerah. Pada tubuhku yang begitu sensitif pada sentuhan Asami.
“Aku merindukanmu Hinata. Aku memimpikan saat ini ketika aku menahan diriku untuk menemuimu” bisiknya sambil memasukiku.
“A… Akh!”
Ucapan Asami seperti meruntuhkan pertahananku. Terutama karena aku merasakan kerinduan itu pada sentuhannya. Pada cumbuannya yang haus dan gusar.
“You…can satisfying yourself by another woman” sahutku diantara nafasku.
“The fact is… Im not aroused by another woman” Asami mempercepat gerakannya dan meremas payudaraku.
“Liar”
“I swear for my soul” ia menjepit putingku.
“Oohhh!”
“I cant get hard if it isnt you” ia meremas payudaraku yang lain dan mempermainkan jari di klitorisku.
Sambil menusukku dengan kecepatan konstan.
“Are… You cursed me… ”
“Hell no” tukasku dan memejamkan mataku merasakan klimaksku datang. Aku merapatkan pahaku.
Asami menahan pinggangku dan menungguku sesaat.
Sebelum ia membalik tubuhku dan menggendongku.
Ia kembali memasukkan miliknya dengan kedua lengannya menahan pahaku.
I feel embarassed.
Asami menunduk dan menciumku. Seperti berusaha membuatku melupakan rasa maluku.
Pandanganku mengabur. Seiring uap hangat yang merabunkan cermin di wastafel.
Sekali lagi, aku menyerah pada Asami.

Part 7

The lady Asami

Aku menatap layar sonograph.
“Its so small” tuturku.
“Of course. Dia baru beberapa minggu. Tapi dia akan besar tanpa kau menyadarinya” ujar dokter Hanabi sambil tersenyum penuh arti pada Asami.
Asami mengabaikannya dan menyentuh tanganku.
“Mari kita dengarkan detak jantungnya” ujar dokter Hanabi lagi.
Menyentuhkan detektor jantung ke perutku lagi.
“Mengapa detak jantungnya cepat sekali? Apa dia baik baik saja?” tanya Asami panik.
“Janin memang seperti itu. Semakin dia besar detak jantungnya akan semakin teratur” sahutku sambil meliriknya.
“Dasar bodoh” lanjutku membuat Asami ternganga dan dokter Hanabi tertawa.
“You do that in purpose dont you. I can feel you” ia mengucek poniku dengan ekspresi gemas.
Yang membuatku terkesan karena baru pertama kali melihatnya.
Dan sepertinya bukan hanya aku yang terkesan.
“You really love her dont you Asami?” tanya dokter Hanabi begitu saja.
“What no!” tukasku
“Yes” sahut Asami.
Kami bicara bersamaan dengan jawaban berbeda.
Dokter Hanabi tertawa.
“Well… Ive never thinking that you will settle down Asami. But I take back my word” ia menatap kami bergantian.
“You have find the Lady Asami dont you”
Asami tersenyum simpul dan menatapku.
“Wait…aku belum menyetujui itu” sergahku.
“Oh you will dear” sahut Hanabi.
Aku menatapnya tak mengerti.
“He will be a great father and husband”
Aku mengernyit “Did you paid her to bragging about you?” tanyaku sejurus. Membuat Hanabi tertawa.
“No. I just knowing he will”

Aku melirik Asami saat kami berada dalam mobilnya.
“What is it my darling?” ia mengalihkan pandang dari layar macbooknya.
“You give me goosebump by calling me that” keluhku.
“Fine. What is it -tsuma”
Aku ternganga “Im not your wife!”
“You will be soon”
Grrr!
“Are you by any chance having past relationship with doctor Hanabi?” tanyaku.
Asami menoleh padaku kini.
Benar benar teralihkan dari pekerjaannya.
“Why are you asking that? Did you jealous?”
“What no! Im just asking!”
Asami mengulas trademark smirknya. “No. We are an old friend” sahutnya sejurus.
Dan aku mempercayainya.
“Happy now?”
Aku memutar bolamata “That isnt my business afterall”
Dan aku mendengar tawa jumawanya yang menyebalkan!

“Dimana ini” tanyaku setelah limosin yang membawa kami akhirnya berhenti.
Didepan sebuah rumah berhalaman luas dengan gaya klasik.
“Our home” sahut Kenshin sambil merangkul pinggangku.
Ugh sejak aku mengkonfirmasi bahwa aku benar hamil, ia jadi semakin bebas melakukan skinship padaku!
“Selamat datang Asami san” sapa para pelayan yang berbaris rapi menunggunya.
“Apa semua sudah dipersiapkan?”
“Sudah Asami san”
Asami mengangguk dan membawaku memasuki koridor rumah besar itu.
Benar benar bergaya tradisional Jepang. Aku bahkan melihat sasana latih samurai disalah satu ruangannya.
Ia membuka salah satu pintu yang terhubung kedalam sebuah ruangan besar.
Meski bergaya tradisional tapi benda benda didalamnya cukup modern. Ranjang besar berukir klasik dan kabinet kabinet disudutnya. Sofa disudut lain ruangan dan lagi lagi walk in closet yang kurasa terhubung ke kamar mandi.
Saat menggeser pintu lainnya sebuah beranda yang berdiri langsung diatas kolam ikan koi terlihat.
“Kamarmu mengagumkan” gumamku sambil berjalan ke beranda.
“Its our bedroom”
“What? I wont sleep with you!”
“You have to. Because the safest place in this world for Lady Asami is beside me” Asami merangkul pinggangku dari belakang.
Dan aku membiarkannya. Percuma melawannya. Dia tidak akan melepaskanku.
“Take a rest. Tonight will be your innauguration”
“What?”
“Aku akan memperkenalkanmu secara resmi pada semua subordinateku” ia mengecup bahuku.
“Dan secepatnya aku akan mengumumkan pernikahan kita ke seluruh media di Jepang”
Oh my…. Its gonna be a big big trouble.

His Pov
Aku melirik roleks ditanganku. Kenapa Hinata begitu lama? Apakah wanita biasa berdandan begitu lama?
Para tamu sudah memenuhi hall utama. Perjamuan akan mengalihkan mereka dari penantian akan kedatangan kami.
Aku menuju ke kamar kami dan menggeser pintu.
“Hinata kau sudah… “aku tertegun.
Memandangi Hinata yang nampak berusaha mengancingkan gaunnya.
Sepertinya ia kesulitan dengan itu beberapa lama.
“Oh mengapa kau masuk begitu saja?!” protesnya.
“Mengapa? Ini juga kamarku?”sahutku sambil tersenyum geli. Menghampiri Hinata yang menghadap cermin.
“Mari kubantu” aku menarik zippernya. Jariku tak sengaja menyentuh kulit punggungnya. Begitu lembut dan halus.
Aku menatapnya dicermin panjang didepan kami.
Ia terlihat sangat cantik. Gaun yang kupesan dari Paris langsung itu melekat sempurna di tubuhnya. Melebihi para model catwalk itu sendiri.
“Para tamu sudah datang?” tanya Hinata sejurus. Mengalihkan perhatianku dari mengagumi kecantikannya.
“Mereka bisa menunggu” aku memeluknya dan menurunkan kembali zippernya.
“Hey kau mau apa?!”
Aku menggendong Hinata ke ranjang. Merebahkannya hati hati.
“Apa kau ingin mendengar apa yang ingin ku lakukan” aku merayap diatasnya.
Lalu berbisik ditelinganya.
“I want to make love to you”
Wajah Hinata merah dengan menggemaskan. Membuatku kembali membebaskan iblis dalam diriku.

“Kita sangat terlambat” ujar Hinata yang kurangkul pinggangnya di koridor.
“Mau bagaimana lagi? Kau tidak melepaskanku”selorohku.
“Oh you rascal! Kau yang memulainya!” ia cemberut dan membuatku ingin menciumnya.
Kami sampai di hall utama dan Sakamoto menggeser pintu.
Semua orang bangkit dan membungkuk hormat padaku.
Aku mengangguk singkat “Terimakasih telah menunggu” ujarku. Melirik Hinata yang berdiri disebelahku. Dengan dagu lurus dan tubuh tegak.
Aku tersenyum bangga melihatnya.
“Ini adalah tunanganku doctor Hinata Kasuragi. Kami akan segera menikah dengan tanggal dan tempat yang akan diinformasikan Sakamoto pada kalian” aku mengumumkan.
“Waaah selamat Asami san” terdengar ucapan selamat dari para subordinatku.
Aku mengangguk begitu juga Hinata. Dan memulai perjamuan malam itu.

“Asami san, apa Nona Hinata akan mendapatkan tandanya malam ini juga?” tanya Honjo salah satu wakilku di selatan.
Pertanyaan itu membuat hening seketika. Tanda adalah sebentuk tatto berpola khusus yang umumnya dimiliki para istri yakuza.
“Benar Asami san. Jika ia menjadi istrimu bukankah ia harus mendapatkan tanda itu?” tanya Yasumasa dari timur.
Aku meletakkan cawan sake di mejaku.
“Itu bukan suatu aturan baku. Melainkan sesuatu yang diwariskan turun temurun” sahutku dan menatap Hinata.
“Lagipula…aku tidak rela jika punggung indahnya tertutupi oleh apapun” sahutku membuat para tamuku tertawa menggoda.
“Kau pasti sangat menyayangi Nona Hinata, Asami san” ujar Kotaro.
“Tentu saja. She is my precious treasure. Jadi jika ada yang berani melukainya, ia akan merasakan pembalasanku” sahutku penuh penekanan.
Membuat semua orang terdiam.
Hinata menatapku “Kau tidak usah khawatir my darling. Tidak akan ada yang berani melakukan itu. Benar bukan saudaraku?” ia bertanya pada semua orang.
Yang disambut suara bulat persetujuan.
Ia kemudian menuangkan sake ke cawannya yang segera kutandaskan.
Bahkan mungkin jika ia hanya bersandiwara, aku terkesan pada keanggunannya. As a Lady Asami should behave.

“Asami hentikan” Hinata tergelak diranjang karena aku menggelitikinya.
“No. Till you call me by my name” sahutku keras kepala.
“Hahahha hentikan baiklah!” ia menyerah.
Aku melepaskannya. Dan menunggu.
“Asami san… ”
“Oh you testing me” Hinata meloncat turun dari ranjang dan berlari ke beranda. Aku mengejarnya.
“Hey Hinata becareful!”
“Hyaaa!” aku meraihnya. Dan kami sama sama tergelincir.
Byuuur!
“Kau tidak mendengarkanku” tukasku sambil meraih tangan Hinata.
Kami berpandangan lalu tertawa.
Menyadari kekonyolan yang baru saja terjadi.
Aku membantunya naik dan kami menuju kamar mandi.
“Stop kau mau apa?”
“Mandi tentu saja”
“Tapi aku juga.. ”
Aku menggendong gadis yang terkadang cerewet itu memasuki kamar mandi bersama sama.
“Our bathroom is big enough for two” sahutku dan menutup pintu dibelakangku.
Dan tentu saja mandi itu tidak sekedar mandi. Karena menit berikutnya desahan Hinata memenuhi ruangan.

Part 8

When we are apart

Her PoV
Aku mempermainkan air kolam diantara jariku. Diikuti seekor ikan koi yang sangat cantik.
Tidak ada hal yang bisa kulakukan. Asami telah mengatur segalanya agar aku mendapatkan cutiku dari rumah sakit sampai bayi kami lahir.
Jika aku tidak menurutinya aku tahu apa yang akan terjadi.
Aku mendesah. Ayah pasti malu padaku karena aku menjadi begitu lemah. Dan aku sendiri tak mengerti mengapa aku menjadi terbiasa dengan segala peraturan Asami yang ketat.
“Disini kau rupanya” panjang umur. Baru saja aku memikirkannya dia sudah muncul.
Ia menyusulku yang berbaring malas diberanda dan merayap diatasku.
“Aku sangat merindukanmu” ia mengecup leherku.
Membuatku merinding.
“Oh yang benar saja. Kau hanya pergi pagi ini” sahutku.
Ia tertawa “Tapi aku sudah rindu padamu” ia menciumku.
“Apa kau sudah makan?”
Aku menggeleng “Apa? Mengapa kau tidak makan?”
“Aku akan memuntahkannya kembali jika aku makan”
Asami mendesah dan bangkit. Lalu mengulurkan tangan padaku.
“Ayo. Kita akan makan diluar. Mungkin kau bosan dirumah” ajaknya.
Aku menggeleng “Aku tidak mau”
“Apa kau ingin makan sesuatu?”
Aku menggeleng “Kecuali…jika kau memasaknya”
Asami terbelalak “Apa?”
“Lupakan”
“Baiklah”
Aku menatapnya “Apa?”
“Ayo. Aku akan memasak sesuatu untukmu” ia meraih tanganku.

Dan aku nyaris tak percaya dengan apa yang kulihat.
Asami dengan apron yang melekat seksi ditubuhnya memasak dengan cekatan di dapur.
Beberapa pelayan tersenyum senyum melihatnya.
“Perlu gadis seperti nona Hinata untuk membuat Asami san mau memasak seperti ini”tutur salah satu pelayan.
Asami menoleh “Diamlah. Jika Hinata tidak makan, bayi kami juga akan kelaparan” sahutnya membuatku diam diam tersenyum.
Tanpa sadar aku mengusap perutku yang masih rata.
Kurasa saat ia lahir nanti, ia akan memiliki ayah terbaik didunia.
“Hinata? Ada apa? Apa perutmu sakit?” tanya Asami menyadari aku mengusap perutku.
Aku menggeleng cepat “Tidak aku hanya… ” aku tak bisa meneruskan.
Mengapa aku melakukannya? Bukankah aku tidak menginginkan bayi ini?
Bukankah karena bayi ini aku harus terlibat dalam hidup ayahnya yang begitu rumit?
“Kurasa perasaan keibuan nona Hinata perlahan tumbuh Asami san” sahut Misae, salah satu pelayan senior yang secara khusus melayaniku.
Asami tersenyum sambil menatapku hangat.
“Tentu saja. Dia akan jadi seorang ibu yang hebat” ujarnya membuatku tersipu.

“Wow. Its delish” pujiku. Takjub pada masakan Asami.
Ia mempersiapkan makan siang kami dikebun belakang. Dan itu benar benar meningkatkan seleraku yang hilang akhir akhir ini.
“Where do you learn to cook?” tanyaku sejurus.
“When I was living in America and go to college, I dont have any servant and my life kinda hard. So I have learn to cook to reduce living cost” jawabnya.
Membuatku tertegun.
Aku mendengar ia memiliki gelar master of business dari Harvard dengan summa cumlaude tapi tak pernah tahu bahwa hidupnya juga pernah sekeras itu.
“Cooking is essential skill. It will helped you thru any circumstances. Seperti contohnya saat ini. Aku berhasil membuatmu makan sesuatu karena masakanku” lanjutnya.
“Oh your head gonna exploded now”
Asami tertawa.
“Asami san. Ada telepon yang harus kau terima” Kirishima muncul tiba tiba.
Asami mengambil ponsel ditangannya. Ia bicara pada seseorang. Raut wajahnya keras.
“Kirishima siapkan pesawatku. Kita akan berangkat ke Moscow esok pagi” perintahnya.
“Hai”
Trang! Aku tak sengaja menjatuhkan pisau dipiringku mendengarnya.
“Kau akan pergi?”
Asami menatapku lalu bangkit dan berputar kehadapanku.
“Hanya untuk beberapa hari”
“Apa… Kau akan melakukan sesuatu yang berbahaya?”
Ia tidak menyahut. Maka aku mendapat jawabannya.
“Aku akan segera kembali sebelum kau menyadari bahwa aku pergi” bujuknya.
“Aku akan meninggalkan Sakamoto bersamamu jika kau ingin bepergian, dia akan menjagamu” ujarnya lagi.
Aku meremas gaunku “Sakamoto adalah salah satu orang terbaikmu bukan?”
Asami mengangguk “Tentu saja. Ia sangat kompeten. Ia akan melindungimu”
“Bawa dia bersamamu”
Asami terbelalak “Apa?”
“Bawa dia bersamamu Ryu. Jika kau akan melakukan sesuatu yang berbahaya aku tak ingin kau pergi dengan kekuatan tidak maksimal” lanjutku.
Asami menatapku dengan ekspresi tak terbaca sesaat.
“Aku akan baik baik saja. Dan aku tidak akan pergi kemana mana. Disini adalah tempat teraman bukan?”
Asami seperti tersadar dari lamunannya “Benar. Tentu saja”
Aku tersenyum “Pergilah. Dan cepat kembali”
Asami memelukku begitu saja. Dan kali ini aku membalas pelukannya.
“Aye aye madam” jawabnya ditelingaku.

“Aku ingin kau tahu bahwa aku tidak ingin meninggalkanmu” ujar Asami saat aku mengantarnya esok paginya.
“Pergilah. And kick some ass there” aku meninju dadanya. Merasa bahwa aku akan merindukan kehangatan dadanya itu dalam beberapa hari ini.
“You already used to become wife of Asami Ryuichi from Shinjuku” candanya sambil menarik pinggangku.
“Asami san. Pesawat sudah siap” lapor Suoh dari pintu pesawat jet pribadi jenis gulf itu.
Asami mengangguk dan menyentuh daguku.
“Aku pergi. Aku akan segera kembali” ucapnya dan menyentuhkan dahi kami.
Aku berjinjit dan merangkul leher kokohnya begitu saja lalu menciumnya.
Ia terlihat terkejut tapi lalu memelukku dan mengambil kendali ciuman kami.
Dengan itu kami berpisah.

“Nona Hinata apa kau yakin kami tak perlu menghubungi Asami san?” tanya Hajime saat memasuki kamarku.
Aku menggeleng dan ia membantuku berjalan kembali keranjang sementara dokter memasangkan IV dilenganku.
Morning sicknessku menjadi cukup parah sejak Asami pergi.
Aku benar benar tidak bisa makan atau minum apapun.
Hingga Hajime meminta dokter memberikan IV padaku.
“Konsentrasinya akan terganggu jika kau mengatakan keadaanku padanya. Dan itu akan sangat berbahaya untuknya” sahutku.
Hajime dan beberapa pengawal Asami menatapku simpati.
“Tapi jika sesuatu terjadi pada bayimu nona… ”
“Itu tidak akan terjadi” sergahku.
Lalu mengelus perutku “Dia akan setangguh dan sekuat ayahnya. Aku yakin itu”
“Nona Hinata… ”
“Sudah jangan mencemaskanku. Aku akan istirahat, kalian kembalilah bekerja” pintaku.
“Hai” mereka menunduk dan meninggalkan kamar utama.
Aku melawan rasa mual dan pening ditubuhku. Keringat dingin mengalir dileherku.
Aku memejamkan mata dan meringkuk sambil menyentuh perutku.
“You must be missing Papa dont you. I missed him too. But please hold on….he will be back soon dear” bisikku pada bayiku.
Merasakan airmata mengalir dipipiku.
Entah sejak kapan aku mulai mencintai bayiku. Perasaan dan ikatan yang tumbuh begitu saja. Dan bersamaan perasaan itu aku merasakan juga tumbuhnya perasaan yang lain pada ayahnya. Aku tak bisa mengkonfirmasi apakah itu cinta. Yang kutahu pasti, saat ini aku merindukan Asami. Sangat.
Dan ponselku berbunyi pada saat itu. Dengan nama Asami dilayar.
Aku menghapur airmataku dan menormalkan suaraku.
“You called me three times this week” jawabku tanpa mengucap halo.
Asami tertawa mendengarnya “Jika bisa aku ingin menelponmu setiap saat. Tapi aku sangat sibuk” jawabnya dengan nada menyesal.
“Lakukan itu dan kau akan semakin lama disana” sahutku.
“Tidak. Aku tidak mau. Ah apakah kalian berdua baik baik saja? Saat aku menelpon Hajime dia terdengar ragu. Jadi aku memastikan langsung darimu”
“Kau cerewet sekali. Kami baik baik saja. Lagipula apa yang bisa terjadi jika kau sudah mengirimkan begitu banyak penjaga dan sepuluh ekor anjing. Yang benar saja Ryu” protesku.
Ia tertawa lagi “Aku harus memastikan kau sangat aman Hinata”
Aku tersenyum.
“Baiklah aku harus pergi. Berjanjilah kau akan baik baik saja” pintanya.
“Hai” jawabku berseloroh.
“Baiklah. Sampai nanti… ”
“Ryu tunggu!”
“Ya Hinata?”
Aku menggigit bibirku. Menahan isakanku “Aku merindukanmu” ucapku.
Tak terdengar jawaban sesaat.
“Aku juga merindukanmu Hinata. Sangat”
Aku membekap bibirku agar tak menangis.
“Aku akan segera kembali” pamitnya.
“Baik… Sampai jumpa” balasku.
Menutup telepon dan meletakkan ponsel ke dekat dadaku.
Menangis tanpa suara.
Kurasa hormon membuatku begitu emosional…

Part 9

The Blossom of Love

His Pov
Pesawat akhirnya mendarat. Aku bergegas turun dan menuju limosinku.
“Selamat datang kembali Asami san” sambut Hajime.
Aku mengangguk dan mencari sekitar.
“Hinata tidak ikut bersamamu?” aku memperhitungkan juga bahwa ia masih tidur karena ini masih pagi buta.
“Tidak boss”
Aku mengangguk dan memasuki mobil. Dibelakang ,Kirishima, Sakamoto dan Suoh mengikuti dengan tiga buah mercedes hitam yang masing masing berisi lima orang lainnya.
Aku melayangkan pandanganku keluar. Pada jalanan kota yang belum padat.
Tak sabar untuk segera menemuinya.
Hinata.
Dua minggu adalah total waktu yang kuperlukan untuk membereskan masalah di Rusia dan memperluas kerjasama yang kedepannya akan membuatku mampu menancapkan teritoriku di Rusia.
Segalanya selesai dengan sempurna
Dan aku tak melupakan bahwa Hinata yang meminta Sakamoto ikut bersamaku juga memiliki peran dalam keberhasilanku. Tanpa Sakamoto pekerjaanku tidak akan semulus ini.
Aku tersenyum mengingatnya.
Lalu mengingat ucapannya seminggu lalu bahwa ia merindukanku membuat perasaanku tumpah ruah.
Ketika mobilku memasuki halaman, beberapa pelayan menyambutku.
Aku bergegas memasuki rumah dan menuju ke kamarku.
Mengabaikan semua orang yang nampak suram dan menunduk.
“Hinata aku pulang” sapaku.
Dan terkejut.
Melihat Hinata terbaring lemah diranjangnya dengan injeksi IV dilengannya.
“Hinata!” seruku dan segera menghampirinya.
Hinata membuka matanya. Lemah dan sayu.
“Apa… Yang terjadi?”
“Nona Hinata mengalami morning sickness parah saat kau pergi Asami san. Tapi ia melarangku mengatakan padamu karena tak ingin mengganggumu” jelas Hajime.
Aku menatap Hinata. Mengecup telapak tangannya yang kurus dan menyentuhkan ke pipiku.
“Maafkan aku Hinata. Maafkan aku” aku memeluknya. Menciumi wajahnya yang menjadi tirus dari terakhir aku melihatnya. Merasa begitu menyesal.

“Tidak. Jangan lakukan itu Ryu” ujar Hinata memohon.
“Tapi Hinata… ”
Hinata meraih tanganku dan bangkit duduk.
“Kau percaya padaku? Aku akan kuat. Bayi kita akan kuat” ia meyakinkanku.
“Kumohon Ryu… Jangan bunuh bayi kita” ucapnya lagi. Membawa dilema terberat dalam diriku.
Dokter mengatakan bahwa kondisi Hinata terlalu lemah untuk meneruskan kehamilannya. Itu membuatku terpukul. Dan dokter menyarankan untuk mendapatkan izinku mengangkat janin Hinata. Untuk menyelamatkan nyawanya.
“Ryu beri aku kesempatan. Satu bulan lagi. Jika kondisiku memburuk… Aku akan merelakannya” pinta Hinata lagi.
Aku menghela nafas “Kau dengar itu dokter?”
“Tapi Asami san…”
Aku menatapnya “Aku mempercayai Hinata” tegasku.
Dokter menunduk dan undur diri.
Meninggalkan kami berdua.
“Hinata…sayangku. Mengapa kau melakukan ini? Kau mempertaruhkan nyawamu sendiri untuk bayi kita” aku menyentuh wajah cantiknya.
Ia tersenyum “Karena aku ini seorang dokter. Aku menyelamatkan nyawa dan bukan membunuhnya. Apalagi ini darah dagingku sendiri”
Aku terhenyak mendengar jawabannya.
Saat aku sudah nyaris menyerah karena tak tega melihat kondisinya. Ia menguatkanku.
Dan saat itu aku semakin menyadari… Bahwa aku jatuh hati pada wanita yang luar biasa.

Aku memutuskan untuk total merawat Hinata sejak hari itu. Memasak untuknya apapun yang diinginkannya.
Dan dengan usaha kami bersama, kondisinya berangsur membaik. Tubuhnya mulai kembali berisi dan bahkan bayi kami sudah menunjukkan tanda kehadirannya dengan tonjolan mungil dibawah perut Hinata.

Aku memeluknya dari belakang saat ia berdiri didepan cermin. Bersiap untuk pesta di kediaman gubernur malam itu.
“Kurasa gaunku sudah naik satu ukuran” ujarnya sambil memperhatikan gaun merah yang melekat ditubuhnya.
Sempurna seperti biasanya.
“And?”
“Aku akan menjadi gendut dan… ”
Aku mengecup bahunya yang terbuka dan meremas payudaranya.
“Youre fit perfectly in my arms”
“Ahh…stop it. Its rude to be late on this party” ia mengingatkan sambil meraih leherku. “Lets do that later” bisiknya.
Aku terkekeh “You already know how to leash my beast tightly now”
Ia tersenyum dan melirikku.
“Should I take that as compliment?”
“You should. A woman who can hold my beast back, is a very dangerous woman” sahutku dan menatapnya dari cermin didepan kami.
“Iam very appreciated then” sahutnya.
“Hinata” aku mengecup telapak tangannya.
“Hm?”
“Lets get married”
Ia terdiam seketika. Dan aku merasa jantungku seperti berhenti berdetak.
Aku tak pernah kehilangan kepercayaan diriku seperti ini. Aku sungguh tak mengerti.
“Okay” jawabnya sejurus.
“Huh?”
“Kau sendiri mengatakan dengan tidak romantis. Jadi jawabanku adalah okay” sahutnya membuatku terbelalak. Lalu tertawa karenanya.
Dia benar. Sepenuhnya benar.
Aku berdeham dan meluruskan jasku lalu berjalan ke laci nakas. Mengambil sesuatu yang sudah ada disana sejak lama.
Lalu berjalan ke hadapan Hinata dan berlutut satu kaki didepannya sambil membuka kotak itu.
“Hinata Kasuragi, would you be my life companion till now and forever?” ulangku dengan lamaran yang lebih layak.
Aku memandangnya. Dengan tatapan yang kuyakin mampu ia rasakan sebagai cinta. Cinta yang semakin kuat sejak kami pertama kali bertemu.
Dan senyumnya menerbitkan matahari disudut hatiku saat ia mengangguk “Iam honored”
Aku bangkit, memasangkan cincin berlian di jari manisnya dan memeluknya erat.
Menciumnya dan menumpahkan segala perasaan cintaku.
“Took you so long to asks? Never expecting that from the great Asami Ryuichi from Shinjuku” selorohnya.
Dia benar. Aku memang sudah mengatakan akan menikahinya. Tapi aku menunggu sampai beberapa bulan untuk benar benar melamarnya.
Tidak seperti Asami Ryuichi yang selalu cepat bertindak.
“I was waiting. I have to make sure that you already love me when you marry me. I cant stand rejection” jawabku sejurus.
Hinata tersenyum menggoda “Uhum snob. How could you think I already loving you?”
Aku memeluknya “You’ll kicking me before when I do this” kuremas bokong seksinya.
Hinata tertawa menggoda.
“And you wont let me do this” aku memindahkan tanganku ke dadanya dan meremasnya lagi.
“And now… Youre craving for more when I do this” aku menyusupkan tanganku ke bawah gaun Hinata dan menyentuh titik sensitifnya.
“Ahh.. Im not craving for more!” protesnya.
Aku menyeringai “Make a bet?” tanyaku sambil mempermainkan kelopaknya dibawah sana. Yang kurasakan sudah menjadi lembab.
“Liar. Your body begging me to touch you” ujarku didepan wajahnya dan menciumnya.
“Nn.. no!” sanggahnya dengan tangan berpegangan dilenganku.
“Ryu… Ahh… We dont have time… ” desah Hinata dengan mata terpejam
“Indeed” aku menggerakkan jariku didalamnya. Menyerang titik gspotnya dan menahan tubuhnya yang berangsur melemah.
Kukecup telinganya “Later… When we back home… I will put mine inside here” bisikku dan merasa Hinata sudah nyaris mencapai klimaksnya.
“Ahhss… Ngghh! Ryu…ahhhsss!!” tubuh Hinata gemetar. Kakinya melemah. Jariku didalamnya dicengkram otot vaginanya yang berkedut. Membuat iblisku mengeras dan meraung dibawah sana.
“Its enough for now” aku mengecup pipinya dan melepaskan jariku dari dalamnya.
“Oww kau tidak melepaskanku. See you cling onto me tightly” godaku dan dengan sengaja menarik jariku perlahan.
“Ooh dont tease me again you rascal!” protesnya. Aku tertawa. Ah kami tak bisa melanjutkannya karena kami akan benar benar terlambat.
Kami berpelukan sekali lagi. Sebelum Sakamoto mengingatkan kami harus segera berangkat.

The Last Dance

Kediaman gubernur pukul delapan waktu setempat.
Dua limousine dengan total sepuluh mercedes berhenti berhadapan didepan pintu utama kediaman gubernur. Mengundang perhatian para tamu undangan.
Dari limousine sebelah kiri muncul Asami Ryuichi, yang dikenal sebagai kingpin of Japan. Ia mengulurkan tangannya pada seorang wanita yang turun berikutnya.
Hinata Kasuragi. Dokter yang diberitakan telah atau akan menikah dengan Asami.
Kemunculan mereka menjadi magnet tersendiri bagi tamu undangan. Melebihi pejabat negara atau orang berpengaruh yang sebagian datang dengan skandal mereka.
Semua orang seakan sepakat bahwa Asami dan Kasuragi terlihat serasi malam itu.
Dan tatapan Asami yang tertuju pada Hinata adalah impian setiap wanita.
Dari mobil didepannya muncul seorang pria. Berwajah tampan dengan postur tinggi gagah. Ia berambut panjang dengan sorot mata yang dapat dikategorikan dingin.
Liu Feilong, salah satu orang berkuasa di Triad.
Ia tidak membawa pasangan. Mengundang insting berburu para wanita single yang hadir di pesta itu.
“Asami Ryuichi” sapa Feilong pada pria dihadapannya.
Asami membalas tatapannya “Liu Feilong”
Mereka saling bertatapan.
Psy war.
Rumor mengatakan hubungan keduanya memang buruk.
“And youre brave enough to showing off this beautiful lady around” Feilong melirik Hinata dan meraih tangannya lalu mengecup punggung tangannya.
“Asami would protect me. Thanks for your concern” sahut Hinata mengejutkannya.
Kini ia benar benar memfokuskan pandangannya pada Hinata.
“As brave as your father, gorgeous” ia tersenyum tapi senyum itu terlihat devilish.
“How do you know him?” tanya Hinata.
Feilong tersenyum “Asks your fiance” sahutnya dan berlalu.
Hinata menatap Asami yang menggandengnya memasuki hall.
“Dont mind him. Your father kinda famous among us” sahut Asami menekankan kata us.
Dan Hinata tahu bahwa sang ayah memang berhubungan dengan cukup banyak mafia karena Kasuragi Hospital menerima mereka yang membutuhkan perawatannya bahkan dibuatkan bangsal khusus.

MC mengumumkan tap dance tak lama setelah pesta dimulai. Para tamu undangan memenuhi area dansa dengan pasangan masing masing. Begitu juga Hinata dan Asami.
“Relax, youre looking so tense Ryu” canda Hinata pada Asami yang merangkul pinggangnya.
“Id never do this before”
“Just follow the music” Hinata membawa satu tangan Asami kesamping dan musik mengalun.
“Youre fast learning” puji Hinata saat Asami mensupportnya saat ia berputar.
“Whose the teacher then” Asami menunduk dan mengecup dahi Hinata sebelum melakukan gerakan berikutnya.
Mc bertepuk tangan, menandakan pergantian pasangan dansa.
Hinata melepaskan tangan Asami dan bergeser pada orang selanjutnya. Begitu juga Asami yang berdansa dengan Madam Lily, salah satu orang penting di pemerintahan.
“You finally settle down Asami” ujar Madam Lily.
Asami menjawabnya dengan senyum kasual.
“And moving too fast dont you?”
Asami membimbing madam Lily.
“I dont wanna risking lose her for anyone else” sahutnya sejurus.
Madam Lily tersenyum lalu mereka bertukar pasangan lagi.
Begitu sampai beberapa kali.
Ketika lagu berganti irama salsa membuat pasangan pasangan terakhir mengubah dansa mereka.
Hingga satu pasangan nampaknya menjadi pusat perhatian dan membuat semua orang menepi memberi tempat.
Hinata dan Feilong.
Mereka menari dengan sangat serasi. Saling mengimbangi gerak masing masing.
“Youre really good” bisik Feilong yang merangkul pinggang Hinata dan memutarnya lalu menangkapnya lagi. “So does you” sahut Hinata kasual.
“And as smart as Hayashi”
Hinata menatap Feilong dengan satu tangan di dada bidangnya.
“Apa kau pernah menjadi pasiennya?” tanyanya.
Feilong tersenyum “Tidak bukan aku… ” ia menunduk dan berbisik di telinga Hinata “Tapi Asami”
Hinata menjauhkan telinganya “Oh aku sudah tahu itu”
Mereka kembali berputar, lalu Hinata melengkungkan tubuhnya dan Feilong menjaga pinggangnya.
“Apa kau tak pernah berpikir andai saja ayahmu tak berhubungan dengan Asami…dia mungkin masih hidup”
Hinata terkejut mendengarnya.
“Apa maksudmu”
Feilong menyelipkan sesuatu ditelapak tangan Hinata sebelum mengakhiri dansa mereka.
“Hubungi aku jika kau ingin tahu” ucapnya.
Lagu berakhir. Mereka saling bertatapan.
Feilong lalu membungkuk dan mengecup telapak tangan Hinata.
“Nice to dance with you… Lady Hinata” ucapnya.
Asami muncul dari belakang dan memeluk pinggang Hinata.
“Are you okay? Apa perutmu baik baik saja” tanyanya khawatir dan menyentuh perut Hinata yang segera saja mengundang perhatian baru semua orang. Seakaan baru menyadari bahwa Hinata sedang hamil setelah melihat little bump diperutnya.
“Ryu stop it. Everyone is watching” Hinata mengingatkan dengan wajah merah.
“Let them be. Are you ashamed because you are carrying my baby inside you?” Asami mengecup leher Hinata dan menatap Feilong yang menatapnya sambil menyipitkan mata.
“Ryu!” Hinata melepaskan diri dan beranjak.
Asami baru tersadar perbuatannya mempermalukan Hinata. Hanya atas dasar kecemburuan.
Ia mengejar Hinata.

Pesta berlanjut usai makan malam. Gubernur nampak mengajak Asami ke ruangan khusus untuk bicara empat mata setelah Asami meminta Sakamoto dan Kirishima menjaga Hinata.
Hinata merasa bosan seketika sepeninggal Asami dan berjalan ke taman untuk mencari udara segar.
“Not a party person you were”
Hinata menoleh dan melihat Feilong berjalan ke arahnya. Sakamoto menghalangi diantara mereka.
“Aku tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padanya Sakamoto. Kau bisa menunggu dijarak yang aman” ujar Feilong.
Sakamoto menatapnya “Baiklah. Tapi aku akan mengawasimu Feilong”
Membuat Hinata sedikit terkejut karena Feilong dan Sakamoto nampak begitu saling mengenal.
“Kau pasti berpikir mengapa aku mengenal Sakamoto. Dan tidak hanya dia. Aku juga mengenal hampir semua orang terdekat Asami… Atau harus kupanggil Ryuichi”
Hinata meliriknya. Tidak terpengaruh.
“Apa yang kau inginkan sebenarnya?” tanya Hinata sejurus.
Feilong menarik sesuatu dari saku jasnya. Kiseru. Ia memantik dan menghisapnya dengan gesture elegan. “Hal yang paling kuinginkan didunia ini, sangat berlawanan dengan yang kau inginkan”
Hinata menyipitkan matanya “Dan mengapa kau ingin Asami mati”
Feilong terkekeh, kagum pada kecerdasan gadis disampingnya.
“Banyak hal. Banyak hal yang membuat seseorang begitu menginginkan kematian orang lain bukan?” ia menghembuskan asap dari bibirnya.
“Tapi… Bertemu denganmu kurasa aku harus mengubah rencanaku”
“Seperti menggunakanku untuk menyakiti Asami? Dia tidak mencintaiku sedalam itu”
Feilong tertawa lagi. Meraih dagu Hinata dan mengangkatnya “Aku tidak akan menggunakan cara rendahan seperti itu milady” ia mensejajarkan tatapan mereka.
“Tapi aku dan Ryuichi punya satu kecenderungan menyukai hal yang sama” lanjutnya.
“Jika… Suatu saat Asami mati… Datanglah padaku”bisik Feilong ditelinga Hinata.
Hinata mendorong dadanya.
“Tempting. But I will pass” tukasnya sambil menatap sepasang mata Feilong. Ia lalu beranjak dari hadapannya.
Feilong memandangi kepergiannya dengan senyum tipis.
“As we always be Ryuichi… We always interesting at the same object… “desisnya.
“Boss… Should we do it now?” tanya seseorang dari microphone ditelinganya.
“Abort. I will changing the plan” sahutnya.
“Copy”
Feilong mengetap abu dari kiserunya dan memasukkan kembali ke dalam jasnya.
Lalu memasuki ballroom.

=====

Touch Her and You Die

His PoV
“I need explanation Hashimoto san” ujarku tenang dan dingin. Tapi memberi efek yang cukup bagi pria dihadapanku.
Gubernur Hashimoto nampak ketakutan mendengar pertanyaanku.
“Aku…tidak mengundang Liu Feilong ke acara ini”
“Benarkah? Jadi dia secara kebetulan datang ke tempat ini?”
Hashimoto menunduk “Dia…mengancamku beberapa waktu lalu dengan menyandera anakku”
Aku menyipitkan mataku “Untuk?”
“Untuk diizinkan datang ke pesta ini karena dia tahu kau akan datang”
Aku menyentuh daguku.
“Apa anakmu sudah kembali?”
“Belum Asami san…”
Aku mengawasinya. Mengkode Kirishima dibelakangnya.
“Apa dia mengatakan hal lain padamu”
“Tidak Asami san…” Hashimoto mengigit bibirnya.
“Kau tahu Feilong biasanya akan membunuh orang yang menjadi sanderanya setelah ia tidak berguna lagi” aku bersidekap.
Hashimoto menunduk semakin dalam.
“Tapi kau masih terlihat cukup tenang bahkan untuk menggelar acara ini” aku mengambil dunhill di sakuku.
“Dan kau tahu selain Feilong, aku juga orang yang tak segan untuk membunuh” kupermainkan zippo ditanganku.
“Apalagi jika ia mengkhianatiku”
Hashimoto terbelalak “Asami san! Aku tidak mengkhianatimu!”
Aku menghisap rokokku “Aku harap begitu Gubernur Hashimoto…ah tidak mulai malam ini kau tak akan menjadi gubernur lagi” aku menyusupkan tangan ke balik jasku. Menuju gun holster di bahuku. Tempatku meletakkan beberapa senjataku.
Mengambil salah satunya,memasang peredam dan mengulurkan padanya.
“Pilihlah. Kau yang mati atau anak dan istrimu” ujarku.
Hashimoto menatapku ketakutan.
Aku melirik jam tanganku “Kau tak punya banyak waktu Hashimoto. Aku sudah memerintahkan penembak jitu membidik anak dan istrimu saat ini. Pilihlah” tegasku.
Hashimoto mengambil pistol ditanganku dengan ketakutan. Lalu membawanya ke pelipisnya.
Aku menuntun tangannya “Seperti ini jika kau ingin menyempurnakan alibi bahwa kau bunuh diri”
Hashimoto memejamkan matanya.
“Sampai jumpa di neraka” bisikku.
Dep! Senjata itu menunaikan tugasnya.
Aku membenahi jasku.
“Kirishima. Bersihkan semuanya dan blow up kasus Hashimoto” perintahku.
“Hai Asami san!”

Moodku benar benar memburuk dan memutuskan untuk segera pulang.
Saat itulah aku melihat Hinata berjalan di taman belakang.
Dengan seseorang mengikutinya.
Ia adalah anak buah Feilong.
Sakamoto tidak berada ditempatnya lagi.
Aku menduga sesuatu sedang terjadi.
Bang! Terdengar suara tembakan yang segera saja bersahutan dengan jeritan semua orang.
Aku tak menunggu dan segera berlari ke arah Hinata.
“Ryu!” Hinata melihat ke arahku dan aku meraihnya.
Terlambat.
Seseorang sudah lebih dulu menjangkau Hinata. Membawanya merunduk saat terdengar suara tembakan berikutnya.
Feilong.
Ia melindungi Hinata?
“Kirishima cari Sakamoto” teriakku ditengah keriuhan.
“Tapi Pak…”
“Aku bisa melindungi diriku sendiri” aku meyakinkannya.
Kirishima meminta Suoh mengikutiku dan mencari Sakamoto.
Feilong membantu Hinata berdiri dan aku berdiri dibelakangnya. Mengarahkan moncong pistol ke kepalanya.
“Touch her and you die” ujarku.
Feilong membeku ditempatnya.
Lalu melepaskan tangannya dari Hinata.
“Dengar Asami. Kurasa Wang ada disini” ucapan Feilong berikutnya mengejutkanku.
Aku meraih Hinata yang diluar dugaan meraih gun holsterku, mencabut salah satu pistolku yang lain dan membidik ke belakang punggungku.
“Hinata?”
Bang bang!
Aku menoleh dan melihat dua orang pria tumbang. Kedua pria itu sepertinya bermaksud menembakku!
Aku menatap Hinata terkejut.
Lalu tersenyum “Seriously Hinata?”
“I dont have choice. I dont want you to die just yet” jawabnya.
Feilong juga menatapnya terkejut.
Hinata memutar bolamata “Move guys. This isnt time to be amazed!” sentaknya.
Hinata benar. Aku merangkulnya dan menarik senjataku lainnya.
Feilong juga meraih senjatanya dan berdiri dibelakangku.
“Time to clean some pests” ujarnya geram.
Wang juga menginterupsi bisnis Feilong di Hongkong, aku menduga ia juga punya dendam padanya.
“I wont look after you” sahutku dan merapatkan posisi kami.
“No need” bang! Feilong memulai tembakannya.
Dan aku membidik targetku.
Baku tembak berlangsung cukup intens sampai seseorang berteriak.
“Polisi datang!”
Oke semua ini sudah cukup melelahkan.
Aku tak membutuhkan sisa malam untuk mendapatkan kunjungan Polisi malam ini.
“Hinata ayo” aku meraih pinggang Hinata.
Menuju mobilku di areal parkir.
Menghubungi Kirishima dan mengatakan bahwa aku akan kembali.
“Asami” panggil Feilong sebelum memasuki mobilnya.
Melemparkan sesuatu padaku.
Kantung itu…
“Aku tidak mencurinya. Aku mengambilnya dari Hayabusha” sahutnya dan masuk ke mobilnya.
Aku memandangi kantung itu.
Dan segera masuk ke mobil yang merupakan mobil Kirishima.
Menghubungi semua orangku melalui headset ditelingaku.
Syukurlah mereka semua masih hidup. Dan mereka akan segera pulang setelah mengurus segalanya.

“Wang…orang ini. Apa yang sebenarnya diinginkannya” tanya Hinata menyadarkanku akan keberadaannya.
Kami sudah cukup jauh dari rumah gubernur dan aku menepi seketika.
“Hinata apa kau baik baik saja?” aku memeriksa wajahnya. Dan seluruh tubuhnya.
“Hey aku baik baik saja Ryu” jawabnya.
Lalu tanganku menyentuh perutnya.
“Hey nak, apa kau baik baik saja?”
Tanganku yang menyentuh perut Hinata, sedikit gemetar tanpa kusadari.
Hinata menangkupkan tangannya diatas tanganku. Menghentikan gemetarku.
Tangannya begitu mungil dan rapuh dibandingkan tanganku. Tapi aku merasakan kekuatan disana.
“Dia juga baik baik saja” suaranya tegas dan yakin.
Aku menatap sepasang mata indahnya.
“Ayo kita pulang dulu” pintanya.
Aku mengangguk dan kembali mengemudi.

Hinata membebat luka tembak ditubuhku setiba dirumah. Saat orang orangku datang dan segera mencari kami.
“Asami san syukurlah kau baik baik saja” Sakamoto berjalan tertatih ke arahku.
Luka di pinggangnya nampak mengeluarkan darah.
“Aku berusaha melindungi nona Hinata tapi seseorang menembakku” jelasnya.
“Sakamoto san berbaringlah” pinta Hinata.
Sakamoto terkejut.
“Kau akan mati kehabisan darah kalau aku tidak segera mengobatimu” lanjut Hinata.
Sakamoto nampak menatapku.
“Apa kau tidak mendengarnya? Perintah Hinata adalah perintahku” sahutku dan mencabut sebatang dunhill.
Ekspresi lega terlihat diwajah semua orang saat aku mengatakan itu.
Hinata merebut rokok dijariku.
“Kau berhentilah merokok atau kau akan terkena kanker sebelum melihat anakmu tumbuh dewasa!” tukasnya.
Aku ternganga. Anak buahku nampak berusaha menahan tawa.
Hinata menatapku “Kau tahu, karena jika kau membuatku jadi janda dengan cepat karena kebiasaanmu itu, aku berpikir untuk mencari Feilong”
Aku meraih pinggangnya “Dont you dare to think about that”
“Feilong isnt smoker isnt he? And he is handsome. And he likes me”
Aku menggigit lehernya gemas hingga ia tertawa karena geli.
“You have find your weakness Asami san” seloroh Kirishima membuatku menatapnya tajam.
Aku memandangi Hinata yang segera melakukan tindakan pada Sakamoto. Lalu bergantian pada anak buahku yang terluka.
Aku tersenyum begitu saja.
She is really shinning as a doctor.
Tidak hanya aku. Anak kami kelak juga akan merasa bangga padanya.
Kirishima menepuk bahuku. “Dalang di balik semua ini adalah Wang. Dia memanfaatkan Hashimoto untuk mengumpulkan kau dan Feilong ditempat yang sama. Dan dia benar benar lolos dari pengawasan kita karena kita terfokus pada Feilong” ujarnya.
Aku melipat tanganku.
“Wang…kurasa kita harus segera menghimpun kekuatan untuk menghabisinya” ujarku.
“Benar Asami san. Dan mungkin kau bisa mempertimbangkan kerjasama dengan Feilong”
Aku mengambil kantung di saku jasku.
Mengeluarkan isinya.
“Itu…”
“Feilong mengembalikannya padaku. Dia mengambilnya dari Hayabusha” sahutku menjawab pertanyaan Kirishima.
Aku memandang kejauhan dari jendela taman.
“Kirishima persiapkan sebuah pertemuan dengan Feilong” ujarku.
“Hai”

====

My Dear cold blooded husband

His PoV
“I need explanation Hashimoto san” ujarku tenang dan dingin. Tapi memberi efek yang cukup bagi pria dihadapanku.
Gubernur Hashimoto nampak ketakutan mendengar pertanyaanku.
“Aku…tidak mengundang Liu Feilong ke acara ini”
“Benarkah? Jadi dia secara kebetulan datang ke tempat ini?”
Hashimoto menunduk “Dia…mengancamku beberapa waktu lalu dengan menyandera anakku”
Aku menyipitkan mataku “Untuk?”
“Untuk diizinkan datang ke pesta ini karena dia tahu kau akan datang”
Aku menyentuh daguku.
“Apa anakmu sudah kembali?”
“Belum Asami san…”
Aku mengawasinya. Mengkode Kirishima dibelakangnya.
“Apa dia mengatakan hal lain padamu”
“Tidak Asami san…” Hashimoto mengigit bibirnya.
“Kau tahu Feilong biasanya akan membunuh orang yang menjadi sanderanya setelah ia tidak berguna lagi” aku bersidekap.
Hashimoto menunduk semakin dalam.
“Tapi kau masih terlihat cukup tenang bahkan untuk menggelar acara ini” aku mengambil dunhill di sakuku.
“Dan kau tahu selain Feilong, aku juga orang yang tak segan untuk membunuh” kupermainkan zippo ditanganku.
“Apalagi jika ia mengkhianatiku”
Hashimoto terbelalak “Asami san! Aku tidak mengkhianatimu!”
Aku menghisap rokokku “Aku harap begitu Gubernur Hashimoto…ah tidak mulai malam ini kau tak akan menjadi gubernur lagi” aku menyusupkan tangan ke balik jasku. Menuju gun holster di bahuku. Tempatku meletakkan beberapa senjataku.
Mengambil salah satunya,memasang peredam dan mengulurkan padanya.
“Pilihlah. Kau yang mati atau anak dan istrimu” ujarku.
Hashimoto menatapku ketakutan.
Aku melirik jam tanganku “Kau tak punya banyak waktu Hashimoto. Aku sudah memerintahkan penembak jitu membidik anak dan istrimu saat ini. Pilihlah” tegasku.
Hashimoto mengambil pistol ditanganku dengan ketakutan. Lalu membawanya ke pelipisnya.
Aku menuntun tangannya “Seperti ini jika kau ingin menyempurnakan alibi bahwa kau bunuh diri”
Hashimoto memejamkan matanya.
“Sampai jumpa di neraka” bisikku.
Dep! Senjata itu menunaikan tugasnya.
Aku membenahi jasku.
“Kirishima. Bersihkan semuanya dan blow up kasus Hashimoto” perintahku.
“Hai Asami san!”

Moodku benar benar memburuk dan memutuskan untuk segera pulang.
Saat itulah aku melihat Hinata berjalan di taman belakang.
Dengan seseorang mengikutinya.
Ia adalah anak buah Feilong.
Sakamoto tidak berada ditempatnya lagi.
Aku menduga sesuatu sedang terjadi.
Bang! Terdengar suara tembakan yang segera saja bersahutan dengan jeritan semua orang.
Aku tak menunggu dan segera berlari ke arah Hinata.
“Ryu!” Hinata melihat ke arahku dan aku meraihnya.
Terlambat.
Seseorang sudah lebih dulu menjangkau Hinata. Membawanya merunduk saat terdengar suara tembakan berikutnya.
Feilong.
Ia melindungi Hinata?
“Kirishima cari Sakamoto” teriakku ditengah keriuhan.
“Tapi Pak…”
“Aku bisa melindungi diriku sendiri” aku meyakinkannya.
Kirishima meminta Suoh mengikutiku dan mencari Sakamoto.
Feilong membantu Hinata berdiri dan aku berdiri dibelakangnya. Mengarahkan moncong pistol ke kepalanya.
“Touch her and you die” ujarku.
Feilong membeku ditempatnya.
Lalu melepaskan tangannya dari Hinata.
“Dengar Asami. Kurasa Wang ada disini” ucapan Feilong berikutnya mengejutkanku.
Aku meraih Hinata yang diluar dugaan meraih gun holsterku, mencabut salah satu pistolku yang lain dan membidik ke belakang punggungku.
“Hinata?”
Bang bang!
Aku menoleh dan melihat dua orang pria tumbang. Kedua pria itu sepertinya bermaksud menembakku!
Aku menatap Hinata terkejut.
Lalu tersenyum “Seriously Hinata?”
“I dont have choice. I dont want you to die just yet” jawabnya.
Feilong juga menatapnya terkejut.
Hinata memutar bolamata “Move guys. This isnt time to be amazed!” sentaknya.
Hinata benar. Aku merangkulnya dan menarik senjataku lainnya.
Feilong juga meraih senjatanya dan berdiri dibelakangku.
“Time to clean some pests” ujarnya geram.
Wang juga menginterupsi bisnis Feilong di Hongkong, aku menduga ia juga punya dendam padanya.
“I wont look after you” sahutku dan merapatkan posisi kami.
“No need” bang! Feilong memulai tembakannya.
Dan aku membidik targetku.
Baku tembak berlangsung cukup intens sampai seseorang berteriak.
“Polisi datang!”
Oke semua ini sudah cukup melelahkan.
Aku tak membutuhkan sisa malam untuk mendapatkan kunjungan Polisi malam ini.
“Hinata ayo” aku meraih pinggang Hinata.
Menuju mobilku di areal parkir.
Menghubungi Kirishima dan mengatakan bahwa aku akan kembali.
“Asami” panggil Feilong sebelum memasuki mobilnya.
Melemparkan sesuatu padaku.
Kantung itu…
“Aku tidak mencurinya. Aku mengambilnya dari Hayabusha” sahutnya dan masuk ke mobilnya.
Aku memandangi kantung itu.
Dan segera masuk ke mobil yang merupakan mobil Kirishima.
Menghubungi semua orangku melalui headset ditelingaku.
Syukurlah mereka semua masih hidup. Dan mereka akan segera pulang setelah mengurus segalanya.

“Wang…orang ini. Apa yang sebenarnya diinginkannya” tanya Hinata menyadarkanku akan keberadaannya.
Kami sudah cukup jauh dari rumah gubernur dan aku menepi seketika.
“Hinata apa kau baik baik saja?” aku memeriksa wajahnya. Dan seluruh tubuhnya.
“Hey aku baik baik saja Ryu” jawabnya.
Lalu tanganku menyentuh perutnya.
“Hey nak, apa kau baik baik saja?”
Tanganku yang menyentuh perut Hinata, sedikit gemetar tanpa kusadari.
Hinata menangkupkan tangannya diatas tanganku. Menghentikan gemetarku.
Tangannya begitu mungil dan rapuh dibandingkan tanganku. Tapi aku merasakan kekuatan disana.
“Dia juga baik baik saja” suaranya tegas dan yakin.
Aku menatap sepasang mata indahnya.
“Ayo kita pulang dulu” pintanya.
Aku mengangguk dan kembali mengemudi.

Hinata membebat luka tembak ditubuhku setiba dirumah. Saat orang orangku datang dan segera mencari kami.
“Asami san syukurlah kau baik baik saja” Sakamoto berjalan tertatih ke arahku.
Luka di pinggangnya nampak mengeluarkan darah.
“Aku berusaha melindungi nona Hinata tapi seseorang menembakku” jelasnya.
“Sakamoto san berbaringlah” pinta Hinata.
Sakamoto terkejut.
“Kau akan mati kehabisan darah kalau aku tidak segera mengobatimu” lanjut Hinata.
Sakamoto nampak menatapku.
“Apa kau tidak mendengarnya? Perintah Hinata adalah perintahku” sahutku dan mencabut sebatang dunhill.
Ekspresi lega terlihat diwajah semua orang saat aku mengatakan itu.
Hinata merebut rokok dijariku.
“Kau berhentilah merokok atau kau akan terkena kanker sebelum melihat anakmu tumbuh dewasa!” tukasnya.
Aku ternganga. Anak buahku nampak berusaha menahan tawa.
Hinata menatapku “Kau tahu, karena jika kau membuatku jadi janda dengan cepat karena kebiasaanmu itu, aku berpikir untuk mencari Feilong”
Aku meraih pinggangnya “Dont you dare to think about that”
“Feilong isnt smoker isnt he? And he is handsome. And he likes me”
Aku menggigit lehernya gemas hingga ia tertawa karena geli.
“You have find your weakness Asami san” seloroh Kirishima membuatku menatapnya tajam.
Aku memandangi Hinata yang segera melakukan tindakan pada Sakamoto. Lalu bergantian pada anak buahku yang terluka.
Aku tersenyum begitu saja.
She is really shinning as a doctor.
Tidak hanya aku. Anak kami kelak juga akan merasa bangga padanya.
Kirishima menepuk bahuku. “Dalang di balik semua ini adalah Wang. Dia memanfaatkan Hashimoto untuk mengumpulkan kau dan Feilong ditempat yang sama. Dan dia benar benar lolos dari pengawasan kita karena kita terfokus pada Feilong” ujarnya.
Aku melipat tanganku.
“Wang…kurasa kita harus segera menghimpun kekuatan untuk menghabisinya” ujarku.
“Benar Asami san. Dan mungkin kau bisa mempertimbangkan kerjasama dengan Feilong”
Aku mengambil kantung di saku jasku.
Mengeluarkan isinya.
“Itu…”
“Feilong mengembalikannya padaku. Dia mengambilnya dari Hayabusha” sahutku menjawab pertanyaan Kirishima.
Aku memandang kejauhan dari jendela taman.
“Kirishima persiapkan sebuah pertemuan dengan Feilong” ujarku.
“Hai”

====

My Dear Cold Blooded Husband

His PoV
“I need explanation Hashimoto san” ujarku tenang dan dingin. Tapi memberi efek yang cukup bagi pria dihadapanku.
Gubernur Hashimoto nampak ketakutan mendengar pertanyaanku.
“Aku…tidak mengundang Liu Feilong ke acara ini”
“Benarkah? Jadi dia secara kebetulan datang ke tempat ini?”
Hashimoto menunduk “Dia…mengancamku beberapa waktu lalu dengan menyandera anakku”
Aku menyipitkan mataku “Untuk?”
“Untuk diizinkan datang ke pesta ini karena dia tahu kau akan datang”
Aku menyentuh daguku.
“Apa anakmu sudah kembali?”
“Belum Asami san…”
Aku mengawasinya. Mengkode Kirishima dibelakangnya.
“Apa dia mengatakan hal lain padamu”
“Tidak Asami san…” Hashimoto mengigit bibirnya.
“Kau tahu Feilong biasanya akan membunuh orang yang menjadi sanderanya setelah ia tidak berguna lagi” aku bersidekap.
Hashimoto menunduk semakin dalam.
“Tapi kau masih terlihat cukup tenang bahkan untuk menggelar acara ini” aku mengambil dunhill di sakuku.
“Dan kau tahu selain Feilong, aku juga orang yang tak segan untuk membunuh” kupermainkan zippo ditanganku.
“Apalagi jika ia mengkhianatiku”
Hashimoto terbelalak “Asami san! Aku tidak mengkhianatimu!”
Aku menghisap rokokku “Aku harap begitu Gubernur Hashimoto…ah tidak mulai malam ini kau tak akan menjadi gubernur lagi” aku menyusupkan tangan ke balik jasku. Menuju gun holster di bahuku. Tempatku meletakkan beberapa senjataku.
Mengambil salah satunya,memasang peredam dan mengulurkan padanya.
“Pilihlah. Kau yang mati atau anak dan istrimu” ujarku.
Hashimoto menatapku ketakutan.
Aku melirik jam tanganku “Kau tak punya banyak waktu Hashimoto. Aku sudah memerintahkan penembak jitu membidik anak dan istrimu saat ini. Pilihlah” tegasku.
Hashimoto mengambil pistol ditanganku dengan ketakutan. Lalu membawanya ke pelipisnya.
Aku menuntun tangannya “Seperti ini jika kau ingin menyempurnakan alibi bahwa kau bunuh diri”
Hashimoto memejamkan matanya.
“Sampai jumpa di neraka” bisikku.
Dep! Senjata itu menunaikan tugasnya.
Aku membenahi jasku.
“Kirishima. Bersihkan semuanya dan blow up kasus Hashimoto” perintahku.
“Hai Asami san!”

Moodku benar benar memburuk dan memutuskan untuk segera pulang.
Saat itulah aku melihat Hinata berjalan di taman belakang.
Dengan seseorang mengikutinya.
Ia adalah anak buah Feilong.
Sakamoto tidak berada ditempatnya lagi.
Aku menduga sesuatu sedang terjadi.
Bang! Terdengar suara tembakan yang segera saja bersahutan dengan jeritan semua orang.
Aku tak menunggu dan segera berlari ke arah Hinata.
“Ryu!” Hinata melihat ke arahku dan aku meraihnya.
Terlambat.
Seseorang sudah lebih dulu menjangkau Hinata. Membawanya merunduk saat terdengar suara tembakan berikutnya.
Feilong.
Ia melindungi Hinata?
“Kirishima cari Sakamoto” teriakku ditengah keriuhan.
“Tapi Pak…”
“Aku bisa melindungi diriku sendiri” aku meyakinkannya.
Kirishima meminta Suoh mengikutiku dan mencari Sakamoto.
Feilong membantu Hinata berdiri dan aku berdiri dibelakangnya. Mengarahkan moncong pistol ke kepalanya.
“Touch her and you die” ujarku.
Feilong membeku ditempatnya.
Lalu melepaskan tangannya dari Hinata.
“Dengar Asami. Kurasa Wang ada disini” ucapan Feilong berikutnya mengejutkanku.
Aku meraih Hinata yang diluar dugaan meraih gun holsterku, mencabut salah satu pistolku yang lain dan membidik ke belakang punggungku.
“Hinata?”
Bang bang!
Aku menoleh dan melihat dua orang pria tumbang. Kedua pria itu sepertinya bermaksud menembakku!
Aku menatap Hinata terkejut.
Lalu tersenyum “Seriously Hinata?”
“I dont have choice. I dont want you to die just yet” jawabnya.
Feilong juga menatapnya terkejut.
Hinata memutar bolamata “Move guys. This isnt time to be amazed!” sentaknya.
Hinata benar. Aku merangkulnya dan menarik senjataku lainnya.
Feilong juga meraih senjatanya dan berdiri dibelakangku.
“Time to clean some pests” ujarnya geram.
Wang juga menginterupsi bisnis Feilong di Hongkong, aku menduga ia juga punya dendam padanya.
“I wont look after you” sahutku dan merapatkan posisi kami.
“No need” bang! Feilong memulai tembakannya.
Dan aku membidik targetku.
Baku tembak berlangsung cukup intens sampai seseorang berteriak.
“Polisi datang!”
Oke semua ini sudah cukup melelahkan.
Aku tak membutuhkan sisa malam untuk mendapatkan kunjungan Polisi malam ini.
“Hinata ayo” aku meraih pinggang Hinata.
Menuju mobilku di areal parkir.
Menghubungi Kirishima dan mengatakan bahwa aku akan kembali.
“Asami” panggil Feilong sebelum memasuki mobilnya.
Melemparkan sesuatu padaku.
Kantung itu…
“Aku tidak mencurinya. Aku mengambilnya dari Hayabusha” sahutnya dan masuk ke mobilnya.
Aku memandangi kantung itu.
Dan segera masuk ke mobil yang merupakan mobil Kirishima.
Menghubungi semua orangku melalui headset ditelingaku.
Syukurlah mereka semua masih hidup. Dan mereka akan segera pulang setelah mengurus segalanya.

“Wang…orang ini. Apa yang sebenarnya diinginkannya” tanya Hinata menyadarkanku akan keberadaannya.
Kami sudah cukup jauh dari rumah gubernur dan aku menepi seketika.
“Hinata apa kau baik baik saja?” aku memeriksa wajahnya. Dan seluruh tubuhnya.
“Hey aku baik baik saja Ryu” jawabnya.
Lalu tanganku menyentuh perutnya.
“Hey nak, apa kau baik baik saja?”
Tanganku yang menyentuh perut Hinata, sedikit gemetar tanpa kusadari.
Hinata menangkupkan tangannya diatas tanganku. Menghentikan gemetarku.
Tangannya begitu mungil dan rapuh dibandingkan tanganku. Tapi aku merasakan kekuatan disana.
“Dia juga baik baik saja” suaranya tegas dan yakin.
Aku menatap sepasang mata indahnya.
“Ayo kita pulang dulu” pintanya.
Aku mengangguk dan kembali mengemudi.

Hinata membebat luka tembak ditubuhku setiba dirumah. Saat orang orangku datang dan segera mencari kami.
“Asami san syukurlah kau baik baik saja” Sakamoto berjalan tertatih ke arahku.
Luka di pinggangnya nampak mengeluarkan darah.
“Aku berusaha melindungi nona Hinata tapi seseorang menembakku” jelasnya.
“Sakamoto san berbaringlah” pinta Hinata.
Sakamoto terkejut.
“Kau akan mati kehabisan darah kalau aku tidak segera mengobatimu” lanjut Hinata.
Sakamoto nampak menatapku.
“Apa kau tidak mendengarnya? Perintah Hinata adalah perintahku” sahutku dan mencabut sebatang dunhill.
Ekspresi lega terlihat diwajah semua orang saat aku mengatakan itu.
Hinata merebut rokok dijariku.
“Kau berhentilah merokok atau kau akan terkena kanker sebelum melihat anakmu tumbuh dewasa!” tukasnya.
Aku ternganga. Anak buahku nampak berusaha menahan tawa.
Hinata menatapku “Kau tahu, karena jika kau membuatku jadi janda dengan cepat karena kebiasaanmu itu, aku berpikir untuk mencari Feilong”
Aku meraih pinggangnya “Dont you dare to think about that”
“Feilong isnt smoker isnt he? And he is handsome. And he likes me”
Aku menggigit lehernya gemas hingga ia tertawa karena geli.
“You have find your weakness Asami san” seloroh Kirishima membuatku menatapnya tajam.
Aku memandangi Hinata yang segera melakukan tindakan pada Sakamoto. Lalu bergantian pada anak buahku yang terluka.
Aku tersenyum begitu saja.
She is really shinning as a doctor.
Tidak hanya aku. Anak kami kelak juga akan merasa bangga padanya.
Kirishima menepuk bahuku. “Dalang di balik semua ini adalah Wang. Dia memanfaatkan Hashimoto untuk mengumpulkan kau dan Feilong ditempat yang sama. Dan dia benar benar lolos dari pengawasan kita karena kita terfokus pada Feilong” ujarnya.
Aku melipat tanganku.
“Wang…kurasa kita harus segera menghimpun kekuatan untuk menghabisinya” ujarku.
“Benar Asami san. Dan mungkin kau bisa mempertimbangkan kerjasama dengan Feilong”
Aku mengambil kantung di saku jasku.
Mengeluarkan isinya.
“Itu…”
“Feilong mengembalikannya padaku. Dia mengambilnya dari Hayabusha” sahutku menjawab pertanyaan Kirishima.
Aku memandang kejauhan dari jendela taman.
“Kirishima persiapkan sebuah pertemuan dengan Feilong” ujarku.
“Hai”

The Given Bride

By: Arantxa

=====

-Catatan dari si pemilik blog-

Pernahkah kalian membayangkan jika seorang Asami Ryuichi dari Finder series itu, straight? Bukan gay?

Nggak usah sibuk berandai-andai lagi yap! One of our author, Arantxa, udah bikin fanfic nya nih. And this fanfic is really good! Worth to read, and worth to wait.

I’ll publish it every Monday, jadi luangkan waktu kalian untuk membacanya ya *wink*

Oh ya.. Jangan lupa perhatikan ratingnya. Karena saya nggak menjamin kalian baper gara2 fanfic ini *giggles*

Happy reading! And don’t forget to drop your comments *wink*

Sincerely,

Tu2twidhi

=====

Rating: R18+

Genre: Action, Romantic, Drama

Disclaimer: CONTAINS SEXUAL AND VIOLENCE MATERIAL. READ YOUR OWN RISK!

Hinata’s POV

Tokyo Kasuragi Hospital

“Dokter Hinata” panggil Dokter Irie saat aku melangkah di koridor.
“Yes dokter Irie?”
“Seorang di ICU 1 menunggumu untuk tindakan”
Aku mengernyit. ICU 1 bangsal khusus itu…
“Tidak bisakah kau menggantikanku?” tanyaku.
“Maaf Hinata tapi dia meminta putri professor Hayashi yang merawatnya”
Thats it. Itulah kenapa aku membenci orang orang yang berada di bangsal itu!
Mereka, para mafia itu selalu seenaknya meminta ini dan itu.
“Screw it then” aku mengambil file di tangan Irie. Meminta suster Tomoka mendampingiku.
“Well whose the bad guy now… Asami Ryuichi, well shot at the main artheries on his leg… ” aku membaca singkat riwayatnya.
Beberapa kali tertembak dan kritis dalam perawatan mendiang ayahku.
Such a really bad guy.
“Apa kau baru saja mengatakan namanya Asami Ryuichi, dokter?” tanya Tomoka tiba tiba.
“Guess so… ” sahutku tak mengerti.
“Oh astaga those smexy kingpin of Japan Asami Ryuichi! Aku tak percaya ini!” Tomoka mendadak heboh dan membuatku mengernyit.
“And?”
Tomoka menatapku seperti aku ini fosil purbakala.
“Jesus, Dokter Hinata kau tak mengenalnya? Dia adalah salah satu yang paling berkuasa di kalangan itu. Dia tampan, dia handsome, dia sexy, dia hot!” seru Tomoka.
“Well kau tak perlu mengatakan itu berkali kali” aku menyeringai.
“Oh jangan katakan kau tidak tertarik”
“Memang tidak. Dan aku tak mengenal Asami siapalah ini” sahutku sambil membuka pintu.

Continue reading